Festival Haruan Kuripan, Panggung Pelestarian Warisan Kuliner - ANTARA News Kalimantan Selatan
Marabahan (ANTARA) - “Waktu tinggal lima menit lagi!”
Celetukan seorang ibu sontak membuat suasana peragaan masak di Festival Panggang Kaluk Haruan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, menjadi riuh.
Di hadapan kerumunan ibu-ibu yang mengelilingi meja, tangan Agus Sasirangan terus bergerak.
Bumbu dituang, bahan diaduk, sementara sesekali ia melempar canda kepada warga yang menyaksikan.
“Hawanya seperti di Master Chef ya... Master Chef Kuripan,” timpal Agus, disambut tawa.
Suasana itu mungkin tampak seperti sebuah pertunjukan masak biasa.
Namun bagi Agus, memasak di tengah masyarakat Kuripan bukan soal menyajikan hidangan.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting, tentang cara sebuah resep tetap hidup.
Agus datang dari Banjarmasin untuk turut memeriahkan Festival Panggang Kaluk Haruan.
Membawa peralatan masak dan bahan-bahan yang telah disiapkan, ia berkesempatan memasak langsung olahan ikan haruan yang terinspirasi dari kekayaan kuliner Banua.
“Saya ada inspirasi dua resep, haruan karamel pedas manis dan sambal boom,” ujar Agus mengawali peragaan di Festival Panggang Karuk Kuripan, Kamis, (27/8).
Ibu-ibu pun semakin merapat. Sebagian memperhatikan dengan saksama, sebagian lain mengabadikan momen melalui siaran langsung TikTok.
Meski cuaca siang itu terik, sesekali Agus berguyon agar suasana tetap cair.
"Ikannya direndam atau dicuci chef?" tanya salah satu ibu terkait mengolah ikan asin.
"Di laundry," jawab Agus sambil tersenyum.
Bagi mereka, kehadiran Agus adalah kesempatan untuk melihat langsung keterampilan seorang juru masak yang dikenal luas setelah meraih posisi juara dua Master Chef Indonesia edisi pertama.
Di kesempatan itu, Agus turut membagi pesan kepada masyarakat Kuripan bahwa resep harus dicatat, dan diturunkan.
Sejak kecil, Agus telah belajar memasak.
Sejak 2012, Agus mulai rutin menuangkan resep-resep kulinernya ke dalam buku.
Salah satunya Seribu Rasa, yang mendokumentasikan berbagai resep masakan khas Banjar.
Ada pula buku Warisan Rasa, yang secara khusus ia persembahkan untuk sang ibu.
Baginya, mengabadikan resep bukan sekadar mendokumentasikan bahan dan cara memasak.
Ada upaya untuk menyelamatkan ingatan, aroma, dan rasa agar tidak hilang bersama waktu.
“Karena kada pernah mencatat resepnya, akhirnya resep-resep warisan itu hilang dan putus,” ujarnya.
Pemikiran Agus mengingatkan pada ungkapan sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Bagi Agus, keabadian itu mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk karya sastra.
Ia bisa hadir dalam sebuah resep yang ditulis dan kemudian dipraktikkan oleh generasi berikutnya.
Karena itu, ketika memperagakan olahan ikan haruan di Kuripan, Agus tidak berhenti pada proses memasak.
Ia juga mencetak resep yang dibuatnya agar dapat dibawa pulang oleh ibu-ibu yang hadir.
Mereka bisa menyalin, mempelajari, lalu mencoba kembali resep tersebut di rumah.
Menurutnya, semua perkenalan itu berangkat dari meja makan.
"Orang tua itu sebetulnya mengedukasi, mengenalkan, dan menyajikan masakan tradisional dari rumah, dari meja makan," kata Agus.
Maka yang dilakukan Pemkab Batola, pemerintah Kecamatan Kuripan, dan PT Adaro Indonesia dalam menghadirkan Festival Panggang Kaluk Haruan adalah wujud dari meja makan yang dibawa ke panggung festival.
Festival ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan sekaligus menjaga salah satu kekayaan kuliner khas daerah.
Tidak hanya melalui perlombaan, festival juga menghadirkan pameran UMKM.
Sebanyak sembilan desa di Kecamatan Kuripan turut ambil bagian.
Para peserta berlomba mengolah ikan haruan menjadi panggang kaluk terbaik untuk disajikan kepada juri dan masyarakat.
Panggang kaluk memiliki cara pengolahan yang khas.
Ikan haruan dipanggang dalam bentuk melengkung atau kaluk, tanpa membuang sisiknya.
Bagian tengah atas ikan dibelah dan diisi bumbu rempah, kemudian disajikan bersama sambal acan badadah atau sambal acan sarai bakar.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Batola Hery Sasmita menyampaikan Bupati Barito Kuala Bahrul Ilmi melihat festival tersebut sebagai salah satu upaya menjaga warisan resep leluhur agar tidak tergerus zaman.
“Salah satu upaya kita melestarikan kuliner Indonesia, sehingga kuliner khas daerah kita tidak punah,” jelas Bahrul.
Upaya itu sekaligus diarahkan untuk mendorong masyarakat agar semakin akrab dengan konsumsi ikan sebagai sumber pangan bergizi.
Bagi PT Adaro Indonesia, potensi kuliner tersebut juga tidak berdiri sendiri.
Pada 2024, perusahaan melakukan kajian potensi desa di Kecamatan Kuripan.
Dari kajian tersebut, desa-desa di Kuripan dinilai memiliki potensi perikanan yang melimpah dan dapat dikembangkan untuk mendorong roda ekonomi masyarakat.
“Kita ingin agar panggang kaluk haruan menjadi ikon kuliner yang diburu wisatawan luar daerah,” jelas CSR Department Head PT Adaro Indonesia Iwan Ridwan.
Jika harapan itu terwujud, setiap kali orang menyebut panggang kaluk, nama Kuripan diharapkan ikut terlintas.
“Kalau menjadi ikon, dalam pikiran orang ketika orang menyebut Panggang Kaluk, maka di dalam pikirannya, oh ini Kecamatan Kuripan. Itu harapan jangka panjang yang kita inginkan,” tutup Zulfikar Camat Kuripan.
Penulis : M Firdaus (staf humas PT Adaro Indonesia)
Pewarta: *
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.