Gianni Infantino Dapat Pukulan Telak setelah AFC Gabung UEFA dan Concacaf dalam Menolak Rencana Piala Dunia
Bagikan:
JAKARTA - Rencana kontroversial FIFA menjual saham ke investor swasta untuk Piala Dunia tampaknya telah mendapat pukulan telak setelah Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) bergabung UEFA dan Concacaf dalam penolakan ide tersebut.
Masa depan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA kini juga tampak tidak pasti, dengan pernyataan AFC juga menyoroti kelemahan mendasar dalam proses konsultasi dan pengambilan keputusan FIFA yang sekarang harus diatasi.
Menurut Press Association, anggota Concacaf--yang termasuk tuan rumah Piala Dunia 2026 Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko--kehilangan kepercayaan kepada Infantino, sementara UEFA mengatakan akan memboikot turnamen FIFA sampai rencana tersebut dibatalkan.
Pejabat asal Swiss itu mengatakan rencana untuk menciptakan perusahaan baru untuk menjalankan Piala Dunia dan turnamen FIFA lainnya akan membutuhkan mayoritas dari 211 asosiasi anggota FIFA.
Penentangan kolektif dari 47 anggota AFC, ditambah 41 anggota Concacaf, dan 55 anggota UEFA, berarti kini ada 143 anggota yang menentangnya.
BACA JUGA:
FIFA mengusulkan untuk membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE) dan menjual 20 persen sahamnya kepada investor swasta--dengan Thrive Eternal milik Joshua Kushner ditunjuk sebagai pemimpin kelompok investor. Ia adalah saudara laki-laki Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Pernyataan AFC, seperti halnya UEFA, menyoroti fakta bahwa hingga laporan media muncul pada tengah pekan kemarin, asosiasi-asosiasi tersebut tidak mengetahui rencana tersebut.
"AFC berdiri dalam solidaritas dengan UEFA dan Concacaf dalam menyatakan keprihatinan serius atas proposal FIFA untuk memperkenalkan investasi swasta ke dalam turnamen unggulan FIFA dan proses pengambilan keputusan seputar FFE."
"Fakta bahwa situasi mencapai titik di mana kemungkinan nyata boikot Piala Dunia telah memasuki wacana publik yang seharusnya menjadi perhatian semua orang yang peduli dengan masa depan permainan kita. Sepak bola seharusnya tidak pernah ditempatkan dalam posisi seperti itu."
"Meskipun perdebatan langsung berpusat pada FFE, AFC menganggap masalah ini jauh melampaui satu proposal. Sebaliknya, hal ini telah mengungkap kelemahan mendasar dalam proses konsultasi dan pengambilan keputusan FIFA yang sekarang harus ditangani."
"Meskipun AFC mencatat klarifikasi terbaru FIFA tentang proposal tersebut, kekhawatiran utama seputar tata kelola, proses kelembagaan, dan konsultasi yang bermakna tetap belum terjawab," demikian bunyi pernyataan AFC tersebut.
Pernyataan keras AFC lebih lanjut menyerukan peninjauan mendesak terhadap kerangka kerja tata kelola dan pengambilan keputusan FIFA.
"Ini bukan pertama kalinya para pemangku kepentingan utama dihadapkan dengan inisiatif signifikan setelah arah perjalanan tampaknya telah ditentukan," lanjut pernyataan AFC.
FIFA mengeluarkan pernyataan pada Jumat, 31 Juli 2026, dini hari waktu setempat, setelah UEFA mengumumkan rencana boikotnya dan penolakan Concacaf, dengan menegaskan tidak ada yang menjual sepak bola dan berjanji untuk melanjutkan konsultasi.
Sebanyak 55 negara anggota UEFA bertemu pada Kamis, 30 Juli 2026, dengan suara bulat dan tanpa ragu menolak rencana FFE. Mereka sepakat mengatakan tidak ada negara Eropa yang akan bermain dalam turnamen FIFA selama proposal tersebut masih berlaku.
Kekhawatiran utama UEFA ialah dampak yang mungkin timbul jika saham diserahkan kepada investor swasta.
"Saat investor eksternal memperoleh kepemilikan saham dalam turnamen FIFA, sepak bola akan berubah selamanya. Keuntungan komersial menjadi kewajiban permanen."
"Ekspektasi investor menjadi tekanan harian. Sejak saat itu, setiap keputusan tentang kalender internasional, setiap keputusan tentang format turnamen, dan setiap keputusan yang membentuk masa depan sepak bola tidak lagi didorong oleh apa yang terbaik untuk permainan, tetapi oleh apa yang terbaik untuk pemegang saham," kata UEFA.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+