peezycoineth.vip

Gorontalo perkuat kesiapsiagaan hadapi penyakit infeksi "emerging" - ANTARA News Gorontalo

2026-08-03 10:32

Gorontalo (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB), memperkuat kesiapsiagaan menghadapi penyakit infeksi emerging atau penyakit yang sedang muncul, sedang berkembang atau baru muncul.

"Kami bersama Kementerian Kesehatan memperkuat kapasitas Tim Gerak Cepat (TGC) dalam menghadapi ancaman penyakit infeksi emerging (PIE), dengan menggelar pelatihan kesiapsiagaan, kewaspadaan dini dan respons di pintu masuk serta wilayah," kata Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo Anang S Otoluwa, di Gorontalo, Senin.

Pelatihan tersebut berlangsung selama enam hari, mulai 3 sampai 8 Agustus 2026, di Kota Gorontalo.

Pelatihan melibatkan unsur kesehatan dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, rumah sakit, laboratorium kesehatan daerah, hingga Balai Karantina Kesehatan.

Anang mengatakan penguatan kapasitas TGC sangat penting, mengingat penyakit infeksi emerging, baik new emerging maupun re-emerging, terus berkembang dan berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa sampai kedaruratan kesehatan masyarakat.

Beberapa penyakit yang pernah menjadi perhatian global antara lain influenza, Ebola, Zika, polio, COVID-19, dan Mpox.

Indonesia memiliki risiko terhadap muncul dan menyebarnya penyakit infeksi emerging (PIE), karena posisi geografis yang strategis sebagai jalur mobilitas penduduk.

Keanekaragaman hayati, interaksi manusia dan hewan, serta kondisi sosial ekonomi juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit infeksi emerging.

Setelah pertemuan ini, kata Anang, diharapkan semua tim yang bergerak dalam TGC Provinsi Gorontalo dapat bekerja sama menjaga wilayah ini, dari adanya penyakit baru, infeksi emerging, terutama yang datang dari luar daerah ini.

Menurutnya, sinergi menjadi penting karena ancaman penyakit infeksi emerging memerlukan respons yang tidak hanya mengandalkan satu program atau satu institusi.

Kecepatan deteksi, koordinasi, pemeriksaan, penanganan kasus, sampai komunikasi kepada masyarakat perlu dilakukan secara terpadu.

Administrator Kesehatan Ahli Madya Tim Kerja Respons Kejadian Luar Biasa (KLB) di Pintu Masuk dan Wilayah Direktorat SKK Kemenkes Soitawati mengatakan Gorontalo dipilih sebagai salah satu lokasi piloting pelatihan TGC karena selain menjadi wilayah piloting Kemenkes, juga terjadi peningkatan KLB dalam beberapa bulan terakhir.

“Gorontalo itu salah satu lokasi yang menjadi piloting untuk pelatihan TGC selain Jawa Tengah dan NTB karena kita melihat tren KLB dalam beberapa bulan terakhir pada tahun 2026 meningkat, termasuk di Gorontalo sehingga daerah ini kami langsung piloting lokasi untuk pelatihan TGC," katanya.

Soitawati mengatakan peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari berbagai unsur yang memiliki peran dalam TGC, sehingga diharapkan terbentuk pemahaman dan pola kerja yang terintegrasi ketika menghadapi ancaman penyakit.

“Untuk Gorontalo, totalnya ada 30 orang terdiri dari Dinas Kesehatan kabupaten/kota kemudian rumah sakit, laboratorium kesehatan daerah, dan balai karantina kesehatan," katanya.

Kesiapsiagaan dan kewaspadaan dini diharapkan semakin kuat, dengan koordinasi lintas sektor dan lintas program sebagai pondasi respon yang cepat, terukur dan terintegrasi dalam menghadapi ancaman penyakit infeksi emerging di Provinsi Gorontalo.

Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.