peezycoineth.vip

Gubernur DIY mengajak Pramuka perkuat gerakan swasembada pangan

2026-08-22 09:42

Gubernur DIY mengajak Pramuka perkuat gerakan swasembada pangan

Sabtu, 22 Agustus 2026 16:42 WIB

Image Print

Ilustrasi - Anggota gerakan Pramuka. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/ama/17

Yogyakarta (ANTARA) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak masyarakat, khususnya organisasi kepramukaan, memperkuat gerakan swasembada pangan.

"Kita berhimpun hari ini di bumi Gunungkidul, tanah yang mengajarkan keteguhan," kata Sultan saat menjadi pembina Apel Besar Hari Pramuka Ke-65 di Alun-Alun Wonosari, Gunungkidul, Sabtu.

Sultan menilai bentang alam Gunungkidul yang didominasi kawasan karst, musim kemarau yang panjang, serta keterbatasan air dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat setempat.

"Dari tanah seperti inilah manusia belajar, bahwa daya tahan tidak lahir dari kelimpahan, melainkan dari ketekunan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan," ujarnya.

Ia menyebut falsafah Hamemayu Hayuning Bawana mengajarkan manusia untuk senantiasa memelihara keselamatan dan keselarasan dunia yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks, salah satunya dalam menjaga ketahanan pangan.

"Falsafah ini mengajarkan agar tanah tidak dikuras serampangan, air tidak disia-siakan, dan petani tidak dibiarkan berjalan sendiri," katanya.

Menurut dia, produksi pangan oleh petani perlu terus ditingkatkan dengan tetap memperhatikan keseimbangan alam, termasuk menjaga kesuburan tanah serta memuliakan manusia dan alam.

"Teknologi boleh diterapkan, tetapi manusia dan alam tetap dimuliakan," ujarnya.

Ia mengajak organisasi Gerakan Pramuka DIY mengambil peran dalam mewujudkan swasembada pangan, salah satunya melalui penguatan program Lumbung Mataraman yang telah berjalan di wilayah DIY.

"Sebuah reaktualisasi kebudayaan agraris Yogyakarta, yang menghidupkan pekarangan sebagai ruang produksi, keluarga sebagai simpul ketahanan pangan, dan kelurahan sebagai basis kemandirian," katanya.

Sultan juga mengajak seluruh anggota Pramuka merefleksikan pidato Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo, Jepang, pada 1971.

"Ketika itu, beliau mengucapkan pidatonya The Trend in Scouting, bahwa Pramuka tidak hanya dididik menjadi warga negara yang baik, tetapi juga manusia pembangun yang andal," ujarnya.

Dari sana, Sultan menilai tema Hari Pramuka Ke-65, yakni "Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045", sudah tepat.

"Seragam cokelat yang kalian kenakan mengingatkan pada warna tanah. Seorang Pramuka hendaknya juga mencintai tanah tempat pangan tumbuh dengan tindakan," katanya.

Ia mengajak anggota Pramuka melakukan langkah-langkah sederhana, seperti menanam cabai di halaman sekolah, mendampingi warga menata pekarangan, atau mengajak sesama untuk tidak membuang makanan.

"Kepada para pembina, didiklah anak-anak kita mengenal pangan sejak dari prosesnya, menyentuh tanah, menghargai hasil bumi," ujarnya.

Menurut dia, ketika anggota Pramuka mampu memaknai gerakan mereka dengan baik, swasembada pangan dapat diwujudkan sebagai gerakan kebudayaan sekaligus gerakan kebangsaan.

"Gerakan kebudayaan, karena menuntun manusia hidup selaras dengan tanah dan sesama, gerakan kebangsaan, karena memperkuat kedaulatan rakyat dari keluarga hingga kelurahan," katanya.

Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026