peezycoineth.vip

Harga Minyak Tembus US$104 per Barel, Selat Hormuz Kembali Bikin Pasar Cemas

2026-10-08 13:13

Kamis, 8 Oktober 2026 - 20:13 WIB

Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Kamis (8/10/2026), di tengah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Peningkatan serangan terhadap kapal di kawasan Teluk dan Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga minyak.

Baca Juga

Minyak mentah Brent naik US$4,55 atau 4,54 persen menjadi US$104,75 per barel. Dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp1,87 juta per barel. Harga Brent juga sempat naik lebih dari US$5 per barel dalam perdagangan hari itu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik US$4 atau 4,53 persen menjadi US$92,28 per barel. Nilai tersebut setara sekitar Rp1,65 juta per barel. Harga WTI tercatat sebagai yang tertinggi sejak awal Oktober 2026.

Baca Juga

Kenaikan harga terjadi ketika pasar kembali mencermati keamanan jalur pengiriman minyak di Timur Tengah. Serangan terhadap kapal di kawasan Teluk dan Selat Hormuz meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

“Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah, dengan serangan terhadap kapal yang terjadi jauh di luar Selat Hormuz, telah menghidupkan kembali kekhawatiran mengenai keberlanjutan volume transit yang lebih tinggi melalui titik sempit tersebut,” kata analis UBS Giovanni Staunovo, dikutip dari Reuters, Kamis. 

Baca Juga

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur penting bagi perdagangan energi global. Sebelum perang berlangsung, pengiriman melalui kawasan tersebut setara dengan sekitar 20 persen minyak dan bahan bakar dunia.

Serangan terhadap kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz pada pekan lalu juga mencapai level tertinggi sejak konflik dimulai. Kondisi tersebut terjadi ketika negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk meningkatkan ekspor.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Frekuensi serangan Iran terhadap kapal kini berada pada titik tertinggi sejak perang dimulai, dan kemungkinan akan semakin meningkat,” kata Saul Kavonic, kepala energi MST Marquee. “Arus produk yang terbatas, biaya logistik yang ekstrem, dan kemungkinan besar eskalasi Iran membuat harga tetap tinggi,” sambungnya. 

Selain gangguan di Timur Tengah, pasar minyak juga mendapat dorongan dari penurunan produksi di Amerika Serikat. Badai Isaias yang bergerak menuju wilayah produksi lepas pantai Teluk Meksiko membuat sejumlah perusahaan menghentikan sementara operasionalnya.

Halaman Selanjutnya

Shell dan Chevron pada Rabu menyatakan telah mengurangi aktivitas operasi lepas pantai di Teluk Meksiko karena ancaman badai tersebut. Hingga Rabu, produsen minyak dan gas di Teluk Meksiko telah menghentikan sekitar 25,08 persen produksi minyak dan 16,37 persen produksi gas alam dari produksi saat ini akibat badai.