peezycoineth.vip

Harga Solar di Inggris Tembus Rp 48 Ribu per Liter, Rekor Baru

2026-10-03 02:45

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Transportasi Inggris, Keir Mather menyebut bahwa pasokan diesel atau solar di negaranya tetap kuat meski harganya menembus rekor tertinggi dan kekhawatiran atas pasokan bahan bakar global kian meningkat.

Rata-rata harga solar di Inggris mencapai 2 pound sterling atau hampir US$ 2,7 sekitar Rp 48.289 (kurs Rp 17.888 per US$) per liter di tengah meningkatnya tekanan pada pasar energi global akibat konflik antara AS, Israel, dan Iran.

"Pagi ini saya ingin meyakinkan masyarakat bahwa Inggris memiliki sumber pasokan yang beragam dalam hal kebutuhan diesel," kata Mather kepada Sky News dikutip Anadolu, Sabtu (3/10/2026).

"Untuk alasan itulah sistem kami memiliki ketahanan," tambahnya, sembari menyampaikan bahwa Inggris sedang bekerja sama dengan AS, Badan Energi Internasional (IEA), dan mitra Eropa untuk menjaga kelancaran arus pasokan diesel.

Mather juga menyinggung keputusan pemerintah untuk tetap membekukan bea bahan bakar. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadi kelangkaan karena sistem yang ada memang dirancang tahan terhadap krisis.

Organisasi otomotif RAC mencatat harga solar sempat menyentuh rekor tertinggi 199,33 pen per liter awal pekan ini, melampaui rekor sebelumnya sebesar 199,09 pen pada Juni 2022 pasca-invasi Rusia ke Ukraina.

Harga diesel telah melonjak 59 pen per liter, atau hampir 40%, sejak konflik AS-Israel dengan Iran meletus pada akhir Februari. Lebih dari separuh kebutuhan diesel Inggris dipenuhi dari impor, dengan 31% di antaranya berasal dari AS.

Secara terpisah, para pemimpin G7 telah sepakat untuk bekerja sama demi meredakan lonjakan harga diesel. Langkah-langkah tersebut mencakup fleksibilitas produksi, pelepasan cadangan strategis hingga 100 juta barel dalam empat bulan, serta menghindari pembatasan energi di antara negara-negara mitra. 

Perkembangan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia dapat meminta negara-negara Eropa merilis cadangan diesel mereka, sembari mempertimbangkan opsi pembatasan ekspor bahan bakar dari AS.