peezycoineth.vip

IHSG Potensi Melemah Lagi Usai Merah 6 Hari Beruntun, INCO hingga BBCA Dijagokan - Bursa Katadata.co.id

2026-07-29 23:45

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diproyeksikan masih akan melanjutkan koreksi hingga perdagangan saham hari ini, Kamis (30/7). Terpantau IHSG telah anjlok selama enam hari beruntun. 

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pergerakan indeks masih dibayangi tekanan jual dan masih berada di rentang MA20 dan MA60.

Secara teknikal, Herditya menilai IHSG masih berada dalam fase koreksi sehingga investor perlu mencermati area 5.970–6.029 sebagai level pelemahan berikutnya. Meski demikian, jika indeks berbalik menguat, IHSG diperkirakan berpotensi naik ke kisaran 6.147–6.219.

“Adapun kami perkirakan, area penguatan terdekatnya berada di 6.147–6.219,” tulis Herditya dalam risetnya, Kamis (30/7). 

MNC Sekuritas menargetkan area support IHSG berada di kisaran 6.007–5.839, sementara level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.266–6.377.

Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.  

Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.

MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Misalnya PT Vale Indonesia Tbk (INCO) akumulasi beli di rentang Rp 4.370–Rp 4.560 dengan target harga di Rp 5.075–Rp 5.425, sementara level stoploss di bawah Rp 4.240.

Kemudian PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 2.280–Rp 2.460 dengan target harga di Rp 2.820–Rp 3.130, dan stoploss di bawah Rp 2.180.

Sentimen Pasar

Adapun IHSG ditutup melemah di level 6,091.39 atau tergelincir 0,64% pada perdagangan Rabu (29/7). Di samping itu, Phintraco Sekuritas menyoroti saham sektor properti terkoreksi hingga 2,75% dan saham sektor teknologi naik terbesar 0,18%. 

Rupiah ditutup di level Rp18,045/US$, setelah sebelumnya sempat melemah hingga level Rp18,100/US$. 

Sementara itu secara teknikal, Phintraco menyebut histogram positif MACD menyempit dan berpotensi mengalami death cross. Namun IHSG masih bertahan di atas MA20 dan MA50. Di tengah berbagai sentimen eksternal dan internal dan faktor teknikal, Phintraco menyebut IHSG akan uji level psikologis di 6.000 pada perdagangan Kamis (30/7). 

Di samping itu, Phintraco Sekuritas juga menyoroti pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai hasil evaluasi mayor Indeks IDXBUMN20 yang akan berlaku pada 5 Agustus 2026 hingga 2 Februari 2027. Dalam evaluasi kali ini, tidak terdapat perubahan konstituen sehingga seluruh 20 saham tetap menghuni indeks tersebut.

Meski begitu, BEI melakukan penyesuaian jumlah saham yang digunakan dalam perhitungan indeks dan bobot masing-masing emiten.

“BBRI, BMRI, BBNI dan TLKM mengalami penurunan bobot setelah penerapan batas maksimal sebesar 15%. Di sisi lain, sejumlah emiten BUMN mencatat kenaikan bobot dalam indeks, di antaranya ANTM, PGAS, MTEL, BRIS dan PTBA,” tulis Phintraco.  

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) terus memperkuat reformasi pasar modal Indonesia menjelang Tinjauan Indeks MSCI pada November 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui komunikasi intensif dengan penyedia indeks global serta penguatan implementasi berbagai agenda reformasi pasar modal.

Di sisi lain, OJK menargetkan Peraturan OJK (POJK) tentang Demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat diterbitkan pada pekan kedua September 2026.

“Saat ini, regulator masih menyusun aturan turunan UU Nomor 4 Tahun 2026 dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan,” tulis Phintraco. 

Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL).