peezycoineth.vip

Inflasi Singapura Tembus Level Tertinggi, Ini Biang Keroknya

2026-08-24 06:12

Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi Singapura meningkat ke level tertinggi dalam hampir dua tahun pada Juli 2026, meski realisasinya masih sedikit di bawah perkiraan ekonom. Kenaikan harga energi global akibat perang Iran menjadi salah satu faktor yang mendorong biaya listrik dan sejumlah tarif transportasi di negara kota tersebut.

Data pemerintah Singapura pada Senin (24/8/2026) menunjukkan indeks harga konsumen naik 2,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan 1,9% pada Juni, tetapi masih di bawah ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 2,3%.

Secara bulanan, indeks harga konsumen justru mengalami deflasi sebesar 0,2%.

Pilihan Redaksi

  • AS Ancam Sanksi Terberat Sepanjang Sejarah, Iran Beri Jawaban Menohok
  • Trump Murka! Perundingan Gagal, Perang Dagang Memanas Lagi
  • Temasek Lewat, Untung Danantara Jauh Lebih Besar

Kenaikan inflasi terjadi ketika harga energi global masih berada pada level tinggi. Kondisi tersebut kemudian berdampak pada biaya listrik dan gas di Singapura, sekaligus mendorong kenaikan tarif transportasi.

Otoritas Moneter Singapura atau Monetary Authority of Singapore (MAS) bersama Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI) menyebut kenaikan biaya energi global telah mendorong peningkatan tarif listrik dan gas serta biaya transportasi.

"Harga minyak global tetap tinggi dan fluktuatif, sementara kondisi cuaca buruk diperkirakan akan menurunkan hasil pertanian dan menaikkan harga pangan impor Singapura," demikian pernyataan bersama MAS dan MTI, sebagaimana dikutip CNBC International.

Kedua lembaga tersebut juga memperkirakan harga barang dan jasa impor lainnya akan ikut meningkat ke depan.

Tekanan harga juga terlihat dari inflasi inti Singapura. Indikator ini tidak memasukkan harga transportasi pribadi dan akomodasi. Inflasi inti tercatat sebesar 2%, lebih rendah dibandingkan proyeksi ekonom yang mencapai 2,2%.

Meski demikian, perkembangan inflasi tersebut menjadi perhatian karena Singapura sebelumnya telah mengambil langkah mengejutkan dalam kebijakan moneternya.

MAS pada Juli memutuskan untuk memperketat kebijakan moneter, sekaligus memperingatkan bahwa inflasi yang berasal dari barang impor berpotensi meningkat dalam beberapa kuartal mendatang.

Peringatan tersebut berkaitan dengan kenaikan biaya bahan bakar serta input elektronik yang dapat meningkatkan tekanan terhadap harga di Singapura.

Dampak perang Iran terhadap perekonomian Singapura juga telah mendorong pemerintah mengeluarkan langkah dukungan bagi masyarakat dan dunia usaha.

Singapura sebelumnya meluncurkan dua paket bantuan sebagai respons terhadap dampak perang Iran. Total nilai kedua paket tersebut mencapai sekitar 2 miliar dolar Singapura.

Bantuan tersebut mencakup pemberian uang tunai kepada masyarakat, voucher konsumsi bagi rumah tangga, serta potongan atau keringanan pajak bagi perusahaan.

Langkah tersebut diberikan ketika tekanan biaya hidup meningkat akibat kenaikan harga energi dan barang impor.

Data inflasi terbaru juga muncul bersamaan dengan peningkatan tajam proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura untuk 2026.

Pemerintah Singapura kini memperkirakan ekonomi negara tersebut akan tumbuh 4,5%-5,5% sepanjang 2026.

Proyeksi tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan batas bawah perkiraan sebelumnya yang berada di kisaran 2%-4%. Dengan demikian, batas bawah proyeksi pertumbuhan terbaru tersebut bahkan lebih dari dua kali lipat dibandingkan batas bawah proyeksi sebelumnya.

Kenaikan proyeksi pertumbuhan tersebut terjadi di tengah kuatnya aktivitas ekonomi Singapura, termasuk dorongan dari perkembangan industri yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]