Inovasi MagoGO siswa MAN IC Pekalongan, Solusi olah sampah organik
Inovasi MagoGO siswa MAN IC Pekalongan, Solusi olah sampah organik
Kamis, 24 September 2026 15:31 WIB
Muhammad Izaz Abdurrahman (kanan) dan Imam Wasis Haniif (kiri) menunjukkan karya keduanya berupa MagoGo (Maggot Smart Chamber), sebuah ruang budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) berbasis Internet of Things (IoT) dan Machine Learning untuk mempermudah pengelolaan sampah organik. ANTARA/HO-MAN ICP
Yogyakarta (ANTARA) - Dua siswa MAN Insan Cendekia (IC) Pekalongan Muhammad Izaz Abdurrahman dan Imam Wasis Haniif, berhasil mengembangkan MagoGo (Maggot Smart Chamber), sebuah ruang budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) berbasis Internet of Things (IoT) dan Machine Learning untuk mempermudah pengelolaan sampah organik
Perangkat buatan kedua siswa tersebut mengintegrasikan sistem pemantauan berbasis IoT dan Machine Learning dalam satu wadah untuk memantau suhu, kelembapan, pH, suhu media, hingga berat biomassa secara real-time melalui dashboard digital.
Selain melakukan pemantauan, sistem ini secara mandiri mengendalikan kondisi lingkungan budidaya menggunakan perangkat pemanas, kipas, serta mist maker yang bekerja secara otomatis.
MagoGo menggabungkan Internet of Things (IoT) sistem kontrol otomatis dan Machine Learning dalam satu perangkat yang memantau suhu, kelembapan, pH, suhu media, sekaligus mengendalikannya menggunakan pemanas, kipas, serta mist maker.
Inovasi tersebut dirancang untuk skala rumah tangga dan UMKM guna mengubah limbah organik yang kerap dianggap kotor menjadi produk bernilai guna serta memiliki potensi ekonomi.
Penerapan Machine Learning pada alat ini berfungsi untuk menganalisis data pertumbuhan biomassa sekaligus memprediksi waktu panen, sehingga pengguna tidak perlu lagi mengecek kondisi maggot secara manual.
Proses pengembangan MagoGo dilakukan secara bertahap, dimulai dari perancangan ruang budidaya, pemilihan dan perakitan komponen elektronik, pemrograman sistem, hingga pembuatan dashboard monitoring.
Setelah purwarupa selesai dirakit, seluruh komponen dan sistem diuji kinerjanya secara menyeluruh untuk memastikan kendala teknis teratasi sebelum digunakan secara penuh dalam proses budidaya.
Melalui konsep ini, MagoGo memanfaatkan limbah organik sebagai media pakan yang menghasilkan biomassa maggot berkualitas serta residu budidaya yang masih dapat dimanfaatkan kembali.
Guna memperluas jangkauan dan efektivitas penerapan teknologi tersebut, tim pengembang membangun jejaring kerja sama dengan pihak-pihak yang bergerak di bidang pengelolaan limbah.
TPS3R Banyularva tercatat menjadi salah satu mitra awal yang bekerja sama dalam proses pengembangan dan pengaplikasian MagoGo di lapangan.
Selain itu, tim pengembang tengah menjajaki ruang kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekalongan untuk memperkenalkan serta menguji MagoGo secara terbatas guna memperoleh masukan teknis.
Lebih dari sekadar menambahkan sentuhan teknologi pada budidaya maggot, MagoGo dirancang untuk membawa proses pengolahan limbah ini agar lebih dekat dan mudah diterima oleh masyarakat luas.
Inovasi yang menyasar skala rumah tangga dan UMKM ini berupaya mengubah persepsi negatif masyarakat terhadap maggot yang kerap dianggap kotor melalui ruang budidaya yang tertata, terkontrol, dan higienis.
Melalui pendekatan tersebut, pengolahan limbah organik tidak lagi hanya dipandang sebagai upaya mengurangi volume sampah, tetapi juga sebagai kegiatan terukur yang mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi.
Pewarta : N008
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026