Iran Gunakan Selat Hormuz sebagai Senjata Ekonomi, Jalur Alternatif Belum Mampu Gantikan Perannya
AKURAT.CO Selat Hormuz dinilai masih menjadi instrumen strategis Iran dalam memengaruhi stabilitas energi global di tengah konflik yang telah berlangsung selama lima bulan. Meski negara-negara Teluk mulai mempercepat pembangunan jalur ekspor alternatif, ketergantungan terhadap salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia itu diperkirakan masih akan bertahan dalam beberapa tahun ke depan.
The Economist menyebut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia masih melewati Selat Hormuz. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memicu kenaikan biaya logistik, premi asuransi pelayaran, hingga harga energi di pasar internasional.
Negara-negara Teluk telah mengoptimalkan berbagai infrastruktur untuk mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz. Arab Saudi, misalnya, memaksimalkan kapasitas pipa East-West yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur dengan Pelabuhan Yanbu di Laut Merah hingga mencapai sekitar tujuh juta barel per hari. Uni Emirat Arab juga meningkatkan kapasitas pipa Habshan–Fujairah menjadi sekitar 1,8 juta barel per hari, sementara Irak mulai kembali mengalirkan sebagian ekspor minyaknya melalui Turki.
Baca Juga: Iran Tuding Ancaman Trump Hambat Kesepakatan Selat Hormuz, Tegaskan Tak Akan Tunduk pada Tekanan AS
Meski demikian, kapasitas jalur alternatif tersebut dinilai belum mampu sepenuhnya menggantikan fungsi Selat Hormuz. Diperkirakan masih terdapat sekitar 10 juta barel minyak mentah per hari yang belum memiliki rute ekspor pengganti.
Sejumlah proyek baru juga tengah dipersiapkan. Uni Emirat Arab merencanakan pembangunan pipa tambahan berkapasitas 1,8 juta barel per hari yang ditargetkan selesai pada 2027. Irak pun berencana meningkatkan kapasitas jaringan pipa yang ada sekaligus membangun jalur baru menuju Yordania, Suriah, dan Turki.
Apabila seluruh proyek tersebut terealisasi sesuai jadwal, sekitar lima juta barel minyak per hari diperkirakan dapat dialihkan dari Hormuz pada 2030. Namun, sebagian besar ekspor minyak kawasan tetap diproyeksikan masih bergantung pada jalur tersebut.
Selain itu, pengalihan ekspor energi juga dinilai belum sepenuhnya menghilangkan risiko keamanan. Minyak yang dialirkan melalui Laut Merah tetap harus melewati Selat Bab al-Mandab yang berada di dekat Yaman dan selama ini menjadi kawasan rawan akibat aktivitas kelompok Houthi.
Di sisi lain, produk olahan minyak seperti bensin dan diesel dinilai jauh lebih sulit dialihkan dibanding minyak mentah karena belum tersedia jaringan pipa yang memadai. Kondisi serupa juga terjadi pada ekspor LNG dari Qatar yang hingga kini hampir seluruhnya masih bergantung pada Selat Hormuz.
Pembangunan jalur alternatif LNG diperkirakan membutuhkan investasi sangat besar, termasuk pembangunan pipa gas dan fasilitas pencairan gas baru di pesisir Laut Arab yang memerlukan waktu bertahun-tahun.