peezycoineth.vip

Iran tutup Selat Hormuz bagi negara manapun yang dukung AS akses aset beku - ANTARA News Megapolitan

2026-07-29 09:19

Teheran (ANTARA) - Iran akan menutup Selat Hormuz bagi negara maupun perusahaan yang mendukung langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump merebut aset Iran yang dibekukan dan menggunakannya sebagai dana kompensasi.

"Kami memperingatkan kepada semua negara dan perusahaan yang mendukung usulan Trump untuk menggunakan aset Iran yang dibekukan, bahwa mulai saat ini angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan kapal mereka melintasi Selat Hormuz," kata Juru Bicara Markas Pusat Komando Militer Iran Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, dalam pernyataan yang dikutip televisi nasional IRIB pada Selasa (28/7).

Pekan lalu, Trump mengatakan AS dapat memanfaatkan aset-aset Iran yang dikuasai pihaknya untuk membayar ganti rugi terhadap kapal dan barang muatan yang kemungkinan rusak di tengah blokade AS terhadap Selat Hormuz.

Baca juga: Trump sebut tarif lintas Selat Hormuz batal, diganti investasi Arab ke AS

Sebelumnya, pada 18 Juni lalu, AS dan Iran telah menandatangani memorandum perdamaian untuk menghentikan konflik yang pecah sejak 28 Februari. Namun, pasukan AS kembali melancarkan serangan ke Iran mulai 8 Juli.

Komando Pusat AS (CENTCOM) berdalih serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Pasukan Iran pun merespons serangan AS dengan melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Baca juga: Iran: Selat Hormuz tetap ditutup hingga AS penuhi persyaratan

Pada Minggu (12/7), Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga berakhirnya campur tangan AS di kawasan menyusul terjadinya saling serang antara pihak berkonflik.

Keesokan harinya, Presiden Trump mengatakan AS akan menjadi "pelindung" Selat Hormuz, sembari mengumumkan dimulainya kembali blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sumber: Sputnik

Pewarta: Nabil Ihsan
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.