Israel Hancurkan Terowongan Hizbullah di Lebanon, Ledakan Picu Getaran 4,1 Magnitudo
"Ini adalah infrastruktur teroris strategis yang dibangun selama lebih dari dua dekade, dengan pendanaan dan perencanaan Iran," kata Netanyahu dan Katz dalam pernyataan bersama, Kamis.
Mereka mengatakan penghancuran jaringan tersebut menandai selesainya penguasaan operasional Israel atas punggung bukit Ali al-Taher, baik di permukaan maupun di bawah tanah.
Ledakan Besar Picu Getaran
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa atau getaran berkekuatan 4,1 magnitudo di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan Israel melakukan "ledakan besar-besaran" di kawasan Ali al-Taher, wilayah Nabatieh. Ledakan itu disebut menimbulkan getaran dan suara dentuman keras yang dirasakan di sekitar lokasi.
Jurnalis AFP yang berada di Lebanon selatan juga melaporkan mendengar sejumlah ledakan besar pada Kamis malam.
Joelle Fares, warga yang baru pindah ke Majayoun, mengatakan dirinya merasakan bangunan dan lingkungan sekitar berguncang saat ledakan terjadi.
"Kami sedang duduk dan semuanya berguncang," ujar Fares kepada AFP.
Terowongan Membentang Lebih dari 2 Kilometer
Militer Israel mengatakan jaringan infrastruktur bawah tanah Hizbullah tersebut membentang lebih dari dua kilometer.
Di dalam kompleks itu, militer Israel mengklaim menemukan puluhan roket, rudal, dan pesawat nirawak (UAV) buatan Iran. Selain itu terdapat senapan mesin, puluhan rudal antirudal atau rudal antiranjau, serta ratusan ranjau dan perangkat peledak.
Kompleks bawah tanah tersebut juga disebut memiliki pusat komando unit Badr, salah satu unit Hizbullah yang beroperasi di wilayah Lebanon selatan.
Seorang pejabat militer Israel mengatakan kepada AFP bahwa sebagian anggota Hizbullah yang sebelumnya beroperasi di sekitar punggung bukit telah meninggalkan kawasan tersebut.
Sementara anggota lainnya, menurut pejabat itu, telah tewas dalam serangan udara dan tembakan artileri Israel.
Israel sebelumnya mengumumkan telah menguasai punggung bukit Ali al-Taher pada pekan lalu.
Ketegangan Israel-Hizbullah Kembali Meningkat
Hizbullah kembali menjadi salah satu aktor utama dalam konflik regional setelah pada Maret menyeret Lebanon ke dalam perang di Timur Tengah sebagai bentuk dukungan terhadap Iran, sekutunya.
Ketegangan sempat mereda setelah tercapainya kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat pada Juni. Setelah itu, Lebanon dan Israel juga mencapai sebuah kesepakatan yang sempat menurunkan intensitas kekerasan.
Namun, situasi kembali memburuk dalam beberapa hari terakhir. Serangan Israel dan bentrokan dengan Hizbullah dilaporkan meningkat baik dalam frekuensi maupun intensitas.
Dalam proses negosiasi sebelumnya, Amerika Serikat yang menjadi sponsor perundingan sempat mengusulkan agar militer Lebanon mengambil alih kendali atas punggung bukit Ali al-Taher.
Namun, Hizbullah menolak usulan tersebut, menurut sumber yang dekat dengan pihak-pihak yang terlibat dalam perundingan kepada AFP.
Ribuan Orang Tewas sejak Maret
Otoritas Lebanon menyatakan serangan Israel telah menewaskan lebih dari 4.300 orang sejak Maret.
Di sisi lain, pasukan Israel masih mempertahankan keberadaan militernya di sebuah wilayah yang disebut sebagai "zona keamanan" di Lebanon selatan.
Penghancuran jaringan terowongan di Ali al-Taher menunjukkan bahwa meski sempat terjadi penurunan ketegangan, konflik Israel-Hizbullah masih menyisakan persoalan besar terkait keberadaan infrastruktur militer dan kendali wilayah di Lebanon selatan.
Ledakan besar yang menyertai penghancuran fasilitas bawah tanah tersebut sekaligus menambah kekhawatiran mengenai potensi eskalasi baru di kawasan yang sejak lama menjadi salah satu titik rawan konflik Timur Tengah.
Sumber: France24