peezycoineth.vip

Jejak Asmara Bung Karno dan Fatmawati di Jalur KRL Green Line

2026-08-02 04:07

Liputan6.com, Jakarta - Suara lengking peluit kereta melengking memecah hiruk-pikuk Stasiun Tanah Abang. Saban hari, khususnya di jam-jam sibuk pagi dan sore, peron-peron di rute yang kini dikenal sebagai Green Line itu bergemuruh oleh ribuan pasang kaki. Manusia berjejal, berdesakan memburu pintu gerbong, berebut ruang bernapas dalam desakan mobilitas warga yang tak pernah lesu.

Rangkasbitung hingga Tanah Abang bukan sekadar rute penyambung pundi-pundi rupiah kaum komuter, ia menjadi nadi kehidupan yang berdenyut cepat, dan riuh oleh lelah serta asa masyarakat urban.

Namun, jika roda waktu ditarik ke belakang, jauh sebelum riuh klakson KRL dan sesaknya jam kerja memadati udara, jalur rel zaman kolonial ini pernah menyimpan satu halaman roman paling mendebarkan dalam sejarah Indonesia. Di atas perlintasan rel Rangkasbitung–Tanah Abang ini, langkah kaki seorang wanita muda berayun pasrah menuntun takdirnya,  menemui sang tambatan hati yang kelak menjadi Proklamator bangsa, Sukarno.

Telegram Rahasia dan Pernikahan Jarak Jauh

Semua bermula dari selembar kertas telegraf berbahasa Jepang. Di Bengkulu, jemari Fatmawati gemetar saat membaca pesan singkat nan padat dari seorang pria yang sedang diasingkan takdir di Batavia. Pria itu tak lain adalah Sukarno.

Bukan surat cinta mendayu-dayu yang dikirimkan Bung Besar, melainkan sebuah instruksi lamaran tegas yang menentukan arah hidupnya. "Fatmawati, nikah dengan wakil; yaitu Saudara opseter Sarjono, tanggal 1 Juni 1943 berangkat ke Jakarta."

Kabar itu tentu memantik kepanikan halus di keluarga. Ayah Fatmawati sempat ragu mendalam, bagaimana mungkin seorang putri kesayangan dinikahkan tanpa kehadiran sang mempelai pria di sampingnya, terpisah lautan luas? Namun tekad dan takdir mengalahkan keraguan.

Izin pun akhirnya luluh. Basarudin, datuk Fatmawati, bertindak sebagai wali nikah, sementara Opseter Sarjono berdiri tegak mewakili kehadiran Sukarno.

Menyeberang Selat, Merawat Rindu

Masuk dalam Salah Satu Stasiun Kereta dengan Intensitas Tinggi, Stasiun Tanah Abang Bakal Dikembangkan

Perbesar

Salah satu sudut jalur green line Tanah Abang-Rangkas Bitung di Depo Stasiun Tanah Abang. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Resmi berstatus sebagai istri Bung Karno melalui pernikahan jarak jauh, Fatmawati harus mengemas kenangan. Bersama keluarganya, ia meninggalkan tanah kelahirannya, Bengkulu. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan menuju Pulau Jawa pun dimulai—sebuah pengembaraan yang menjadi saksi bisu betapa besarnya cinta dan kepatuhan Fatmawati pada Sang Bung Besar.

Perjalanan diawali menumpangi kereta api menuju Lubuk Linggau, dilanjutkan perjalanan darat hingga menyeberang Selat Sunda melalui Pelabuhan Teluk Betung. Di atas gelombang laut yang mengayun kapal, Fatmawati tak sanggup menahan keharuan. Jemarinya menggoreskan tinta dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno, merekam keharuan hatinya:

“Kapan aku akan kembali mengunjungi Bengkulu, daerah kelahiranku, di mana Datukku kutinggalkan?”

Setibanya di Pelabuhan Merak, rombongan Fatmawati disambut dan dijemput menggunakan mobil menuju Rangkasbitung. Di kota kecil ini, mereka menumpang menginap di kediaman salah satu camat yang mengenali Sukarno.

Malam itu, keraguan menggelayut di meja makan. Tuan rumah dan keluarganya sulit percaya bahwa gadis muda nan anggun di hadapan mereka adalah istri sah dari sang tokoh pergerakan nasional. Berita yang mereka baca di koran-koran menyebutkan Sukarno sedang sibuk menggelar safari politik di Jawa Timur. Dengan tutur kata yang santun, Fatmawati menceritakan pernikahan wali yang baru saja dilangsungkan. Takjub dan haru seketika menyeruak di ruang makan sederhana itu.

Keesokan harinya, tepat pukul 11.00 siang, keluarga camat mengantarkan Fatmawati ke Stasiun Rangkasbitung. Suara derak roda besi mulai terdengar saat kereta perlahan bergerak menuju Tanah Abang. Di balik jendela kereta, Fatmawati menatap hamparan sawah dan pepohonan yang berganti rupa. Jalur Rangkasbitung–Tanah Abang itulah yang menjadi saksi bisu detik-detik berdebar menuju pelukan sang suami.

Becak Senja di Jalan Pegangsaan

Terinspirasi Bung Karno, Bengkulu-Blitar Jalin Sister City

Perbesar

Bengkulu menyiapkan sejumlah anggaran pada 2016 untuk membangun patung Ibu Negara Fatmawati yang akan disandingkan dengan Bung Karno. (Liputan6.com/Yuliardi Hardjo Putro)

Dua jam perjalanan melintasi rel membawa Fatmawati tiba di Stasiun Tanah Abang. Di peron yang riuh, beberapa tokoh penting pergerakan telah menunggunya atas perintah Sukarno melalui telegram lanjutan. Di antara mereka tampak Mr. Sartono, Nyonya Prawoto, dan Ir. Sakirman.

Tanpa buang waktu, Fatmawati dan keluarga diantarkan menuju kediaman pejabat Hoofdbestuur Muhammadiyah, Kiai Mas Mansyur, di Jalan Waringin.

Seminggu lamanya Fatmawati menanti dengan sabar hingga Bung Karno menyelesaikan tugas politiknya di Jawa Timur. Pukul 17.00 WIB, saat langit Jakarta bersemburat jingga, Bung Karno akhirnya melangkah masuk ke rumah Kiai Mas Mansyur.

Pertemuan itu hangat dan bersahaja. Tanpa mobil mewah, Bung Besar mengajak istri mudanya menyusuri sudut-sudut kota Jakarta menumpangi sebuah becak menuju kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Tiga hari berselang, Fatmawati diperkenalkan kepada mertua, keluarga besar, serta kawan-kawan perjuangan Bung Karno. Sejak hari itu, resmilah mereka hidup satu atap membina rumah tangga.

Kisah cinta ini sebenarnya telah mengakar jauh sebelum perjalanan kereta Rangkasbitung–Tanah Abang itu terjadi. Sebagaimana dicatat oleh Mohammad Hatta dalam buku Memoir, benih-benih cinta itu bersemi saat Sukarno menjalani masa pengasingan oleh kolonial Belanda di Bengkulu.

Pesona, keteguhan, dan keanggunan Fatmawati berhasil menaklukkan hati Bung Besar.

Namun, jalan menuju pelaminan itu bertabur kerikil tajam. Saat nuraninya terpikat pada Fatmawati, Bung Karno masih terikat pernikahan dengan Inggit Garnasih, wanita setia yang menemani masa-masa terberat perjuangannya. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6