peezycoineth.vip

Kakao menyemai harapan baru di beranda negeri lewat agroforestri - ANTARA News Kalimantan Barat

2026-09-20 13:49

Pontianak (ANTARA) - Perlahan, Maria Tulia mengangkat sebatang kayu sepanjang 30 sentimeter berdiameter dua sentimeter. Ia memukulkannya ke kulit buah kakao yang menumpuk di wadah hasil panen.

Bukan sekadar memecahkan buah, bagi petani kakao di Dusun Nekan, Sanggau, Kalimantan Barat, itu setiap pukulan memecah buah adalah ikhtiar menjemput rezeki dari kebun yang dirawatnya bertahun-tahun. Kulit buah yang terbelah menampilkan biji-biji kakao basah, siap dipisahkan untuk dijual ke koperasi.

Di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia ini, aktivitas tersebut menyimpan harapan baru. Kakao tak lagi sekadar tanaman peneduh di pekarangan, melainkan mulai menjadi tumpuan ekonomi yang menjanjikan.

Sudah sekitar delapan tahun Maria membudidayakan kakao. Di lahan seluas satu hektare, kini tumbuh sekitar 200 batang pohon kakao. Ia bahkan mulai memperluas kebunnya di lahan tambahan seluas setengah hektare. Jarak tanam ideal sekitar empat meter antar pohon, memberikan ruang cukup bagi tanaman untuk tumbuh subur dan berbuah lebat.

Namun, perjalanan ini tak selalu mulus. Tanaman kakao butuh perawatan konsisten. Serangan jamur dan daun rontok menjadi ancaman serius yang bisa mematikan tanaman jika tak ditangani dengan benar. Bagi Maria, pemahaman mendalam tentang teknik budidaya adalah kunci agar kebunnya tetap produktif.

"Tantangannya ada di perawatan. Jamur bisa bikin daun rontok sampai tanamannya mati, jadi itu yang harus dikendalikan. Kami sangat butuh pemahaman budidaya yang baik supaya hasilnya bisa maksimal," ungkapnya.

Dalam sekali panen, kebun Maria mampu menghasilkan sekitar 40 kilogram biji kakao basah. Dengan frekuensi panen dua kali sebulan dan harga berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram, hasilnya terbilang lumayan.

Angka itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Maria, kakao menjadi alternatif pendapatan berharga di tengah ketergantungan warga pada komoditas lain, khususnya karet.

Dulu, karet merupakan tulang punggung ekonomi petani setempat. Saat kakao mulai masuk sekitar delapan tahun lalu, tak banyak yang meliriknya. Petani menanam seadanya tanpa bekal pengetahuan yang memadai, ditambah harganya yang terpuruk.

"Dulu kami cuma asal tanam dan harganya murah. Kalau sudah dikeringkan pun cuma dihargai sekitar Rp19.000 per kilogram," kenang Maria.

Keadaan perlahan membaik berkat adanya pendampingan dan pembenahan rantai pemasaran. Kehadiran Kalara Borneo bersama koperasi mitra memberi kepastian pasar sekaligus mendongkrak harga jual. Kini, biji kakao kering dari petani bahkan bisa dihargai hingga Rp60.000 per kilogram.

Maria dan para petani kini lebih memilih menjual biji kakao basah karena jauh lebih praktis. Setelah dipanen, mereka tinggal memecah buah dan mengumpulkan bijinya untuk disetorkan ke koperasi. Proses rumit seperti fermentasi dan pengeringan sepenuhnya ditangani oleh koperasi.

"Dulu semuanya kami kerjakan sendiri, tapi harganya tetap murah. Sekarang tinggal panen, pecahkan, lalu jual. Koperasi mitra Kalara Borneo yang bakal mengurus proses fermentasinya," tutur Maria.

Bagi Maria, perubahan ini bukan cuma soal nominal rupiah. Kepastian pasar memberi pelecut semangat bagi petani untuk tekun merawat dan memperluas kebun. Ia berharap harga kakao terus stabil dan membaik agar makin banyak warga yang tergerak menggeluti usaha ini.

"Harapannya harga terus bagus dan stabil. Sekarang sebagian besar warga sudah ikut menanam kakao. Ini jadi harapan baru untuk menambah penghasilan selain dari karet," katanya.

Dari Kebun Menuju Pasar

Kisah Maria hanyalah bagian kecil dari ikhtiar besar membangun ekosistem kakao di Kalimantan Barat. Di balik rimbunnya kebun petani, ada proses panjang untuk memastikan biji kakao lokal mampu memenuhi standar pasar. Salah satu penggerak di balik upaya ini adalah Kalara Borneo.

Pemilik Kalara Borneo, Yohana Tamara, mengungkapkan bahwa pengembangan kakao secara resmi dirintis perusahaannya sejak 2021. Namun, ketertarikannya pada komoditas ini sudah tumbuh sejak 2018 kala ia bertugas di Kabupaten Sintang.

Owner Kalara Borneo Yohana Tamara (kedua dari kiri) berfoto bersama petani, koperasi dan tim (ANTARA/HO- Dok. Kalara Borneo)

Saat itu, ia mendapati mayoritas perkebunan warga masih mengandalkan sistem monokultur. Ketergantungan pada satu jenis tanaman membuat perekonomian petani sangat rentan saat harga komoditas tersebut anjlok. Kondisi ini mendorongnya mencari solusi lewat diversifikasi tanaman.

"Saya berpikir, kenapa kita selalu berpatokan pada kebun monokultur? Begitu harga komoditas utama jatuh, petani langsung terdampak. Dari situ timbul pemikiran, kenapa tidak mencoba diversifikasi tanaman?" ujarnya.

Titik balik perjalanan ini terjadi saat Yohana menghadiri konferensi di Filipina pada 2018. Wawasannya terbuka ketika mengenal metode pengembangan kakao berbasis agroforestri. Konsep pemanfaatan lahan secara terpadu itulah yang kemudian mengilpirasinya untuk membudidayakan kakao di Kalimantan Barat.

Saat ini, pengembangan kakao Kalara Borneo telah menjangkau beberapa daerah, meliputi Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, dan yang terbaru Sanggau. Model yang diterapkan tidak lagi membiarkan petani berjuang sendirian menghadapi urusan produksi hingga pemasaran.

Petani mendapat pendampingan intensif untuk menerapkan praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP). Usai panen, biji kakao basah dijual ke koperasi untuk melakoni proses pascapanen, termasuk fermentasi dan pengeringan. Setelah bertransformasi menjadi biji kering berkualitas, barulah Kalara Borneo membelinya untuk diolah dan dipasarkan ke sektor hilir.

"Ekosistemnya memang sudah terbentuk. Petani menjual biji basah ke koperasi, lalu koperasi mengurus pascapanennya. Begitu dikeringkan, barulah dijual ke Kalara Borneo," jelas Yohana.

Menurutnya, skema ini memberi dua jaminan vital bagi petani: kepastian pasar dan ketetapan harga. Kini, ada tiga koperasi yang menaungi sekitar 162 petani dalam ekosistem tersebut. Khusus di Sanggau saja, tercatat 45 petani telah tergabung dalam satu koperasi produksi.

Produk olahan Kalara Borneo pun mulai merambah berbagai lini di Kalimantan Barat, dari hotel, toko suvenir, bandara, hingga toko kue yang membutuhkan cokelat berkualitas sebagai bahan baku.

Peluang pasar bahkan mulai merambah ke kancah internasional lewat penjajakan ke pasar Eropa. Namun, ekspor tak cuma soal menemukan pembeli. Yohana mengungkapkan, pihaknya masih membutuhkan mitra importir lokal di negara tujuan yang mengantongi izin resmi untuk menerima produk impor.

Di tengah potensi pasar yang makin terbuka, menjaga kualitas tetap menjadi tantangan utama. Menurut Yohana, potensi kakao Kalimantan Barat sangat besar. Sayangnya, sebagian petani masih menerapkan pascapanen tradisional: memecah buah, mencuci biji, lalu menjemurnya begitu saja.

Padahal, pencucian biji justru mengikis aroma dan cita rasa khas yang menjadi karakter utama kakao. "Kalau dicuci, aroma dan rasanya bisa hilang. Bobot kakaonya juga berkurang, jadi petani malah rugi," tambahnya.

Oleh karena itu, fokus Kalara Borneo berikutnya adalah mendongkrak kapasitas produksi biji kakao fermentasi sekaligus mengedukasi petani mengenai standar mutu. Dengan fermentasi yang benar, biji kakao tak lagi sekadar bahan mentah bernilai rendah, melainkan komoditas bernilai tinggi yang siap bersaing di industri cokelat.

Ekonomi Hijau dan Agroforestri

Pemerintah daerah memandang pengembangan kakao sebagai bagian penting dari strategi memperkuat ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sanggau, Syafriansyah, mengapresiasi langkah GIZ dan Kalara Borneo yang konsisten mendampingi para pekebun.

Ia menilai pendampingan dari hulu ke hilir berhasil menjawab salah satu masalah krusial petani, yakni kepastian pasar. Syafriansyah mengungkapkan bahwa kakao sebenarnya bukan tanaman asing di Sanggau. Sekitar dekade lalu, luas kebun kakao di wilayah ini sempat menembus 3.000 hektare yang tersebar di Kembayan, Sekayam, Entikong, hingga kawasan perbatasan lainnya.

Arah pengembangan ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Heronimus Hero, menegaskan bahwa kakao memegang peran strategis dalam peta pembangunan ekonomi wilayah.

Bahkan, kakao telah resmi masuk dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Barat 2025–2029 sebagai bagian dari agenda ekonomi hijau unggulan melalui program percontohan produk lokal berbasis sumber daya alam.

"Kakao bukan sekadar komoditas perkebunan biasa, melainkan peluang besar untuk menggerakkan transformasi ekonomi Kalimantan Barat, terutama lewat pengembangan produk unggulan dan hilirisasi," tegasnya.

Menurut Heronimus, kakao memiliki keunggulan tersendiri karena selaras dengan pendekatan agroforestri. Melalui konsep ini, tanaman kakao dapat tumbuh berdampingan dengan komoditas lain. Pengelolaan lahan pun tak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga menjaga keberagaman vegetasi dan kelestarian lingkungan.

Semangat keberlanjutan tersebut tercermin dalam peluncuran Cokelat "Sanggau Origin" lewat diskusi bertajuk "Sanggau Origin: Membangun Masa Depan Kakao melalui Pengolahan Hilir dan Kolaborasi" yang sukses digelar pada Kamis, 17 September 2026.

Inisiatif ini lahir dari kolaborasi lintas sektor antara Dinas Perkebunan dan Peternakan, GIZ selaku mitra pembangunan, Kalara Borneo dari pihak swasta, serta Yayasan Langkau Onet dan CU Mura Kopa sebagai pendamping di lapangan.

Hadirnya produk "Sanggau Origin" menjadi bukti nyata bagaimana biji kakao dari kebun petani lokal mampu bertransformasi menjadi produk olahan bernilai tambah yang mengusung identitas daerah.

Potensi Pengembangan Kakao

Plt. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, Rino Anteno Tengo, memaparkan bahwa berdasarkan data Statistik Disbunak Kalbar 2025, luas areal tanaman kakao di Kalimantan Barat telah mencapai 3.185 hektare.

Dari total luasan tersebut, sekitar 260,49 hektare tergolong tanaman belum menghasilkan, 1.472,57 hektare merupakan tanaman menghasilkan, dan 1.452,76 hektare sisanya adalah tanaman tua atau rusak. Data ini menunjukkan bahwa Kalimantan Barat menyimpan potensi besar, sekaligus pekerjaan rumah yang tak kalah menantang.

Pengembangan kakao tidak bisa sekadar berfokus pada perluasan lahan. Peningkatan produktivitas, peremajaan tanaman, perbaikan mutu, penguatan kelembagaan petani, diversifikasi produk olahan, hingga perluasan akses pasar harus digarap secara beriringan.

"Pengembangan kakao harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan produktivitas, peremajaan tanaman, peningkatan mutu, penguatan kelembagaan pekebun, hingga pengembangan produk olahan dan perluasan pasar," ujar Rino.

Bagi Rino, hadirnya Sanggau Origin menjadi bukti bahwa kakao dari kebun petani lokal tak harus berhenti sebagai bahan mentah. Berbekal inovasi dan kolaborasi, kakao dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang sekaligus mengusung identitas daerah.

Meski demikian, perjalanan panjang masih membentang. Kepastian pasokan bahan baku, penguatan kelembagaan petani, peningkatan kapasitas UMKM, konsistensi kualitas, branding, hingga perluasan pasar masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama.

Namun bagi Rino, hal terpenting adalah memastikan nilai tambah dari seluruh proses hilirisasi ini dapat dirasakan langsung oleh para pekebun.

Bagi Maria Tulia, transformasi besar seperti hilirisasi atau ekonomi hijau mungkin terdengar rumit. Ia mengenalnya dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: memanen kakao, memecah kulit buah dengan sebatang kayu, lalu menjual bijinya ke koperasi. Dari kebun kecil itulah, harapan mulai menemukan bentuknya.

Dengan lahan seluas satu hektare dan sekitar 200 batang kakao, Maria semakin yakin bahwa penghidupan petani tidak harus bergantung pada satu komoditas. Kakao perlahan mengubah cara pandang terhadap kebun: bukan sekadar tempat bercocok tanam, melainkan ruang ekonomi yang masih dapat dikembangkan, dari hulu hingga hilir.

Kini, saat biji kakao dari kebun-kebun di Sanggau bertransformasi menjadi cokelat beridentitas daerah, perjalanan dari tangan petani menuju pasar yang lebih luas menemukan babak baru. Di sana, kakao tak lagi sekadar hasil panen, tapi menjadi wujud nyata dari ikhtiar memberi nilai tambah, membuka peluang, dan melambungkan harapan bahwa kebun kecil pun mampu memberi hasil yang melampaui batas lahannya.

Pewarta: Dedi
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.