peezycoineth.vip

Karang Mumus, nadi luka yang kembali berdenyut - ANTARA News Kalimantan Timur

2026-07-28 02:51

Samarinda (ANTARA) - Dahulu, Karang Mumus adalah nadi yang berdenyut di tengah Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Airnya jernih memantulkan langit, menjadi jalan bagi perahu nelayan yang membawa rezeki.

Sungai sepanjang 34,7 kilometer ini dulunya merupakan tempat mandi yang menyegarkan, bahkan menjadi sumber kehidupan yang tak pernah kering bagi siapa saja yang menggantungkan diri pada alirannya.

Namun waktu berlalu, tangan-tangan yang tak sadar perlahan mengubah wajahnya. Sampah tumpah dari jembatan, terlempar dari kendaraan, menumpuk dari rumah-rumah yang berjarak rapat dengan alur air.

Sungai yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan itu, terbebani tumpukan yang tak seharusnya ada di sana. Perahu tak lagi bisa melintas leluasa, air yang dulunya bening menjadi keruh, bahkan mengeluarkan bau khas. Pada suatu ketika, keberadaan sungai itu perlahan hanya dianggap selokan pembuangan semata.

Ironisnya, ketika banjir datang melanda, banyak yang sering menyalahkan sungai itu. Padahal yang berubah bukanlah sifat, bukan pula air yang mengalir, tapi sikap penghuni bumi yang merampas ruang hidupnya.

Ada yang meluruskan alurnya, mempersempit sempadannya, membangun di atas badannya, seolah sungai hanyalah benda mati yang bisa diatur sesuka hati.

Banyak yang lupa bahwa daerah aliran sungai (DAS) bukan sekadar saluran air, melainkan sebuah tubuh yang bernapas, memiliki ekosistem, dan menyimpan keseimbangan yang jika terganggu, akan membalas dengan caranya sendiri.

Sesungguhnya alam tak pernah memusuhi manusia, namun dampak yang muncul darinya merupakan cermin tentang apa yang dilakukan manusia. Ini karena ruang yang diganggu dan badannya dijadikan tempat pembuangan sampah.

Di tengah kelalaian itu, muncul seorang pria yang tak sanggup lagi berdiam diri. Ia adalah Misman, lahir di Samarinda 4 April 1959, yang dulu mendedikasikan hidupnya sebagai wartawan.

Puluhan tahun ia menulis, ia mengisahkan, ia berseru lewat media tentang betapa berharganya Sungai Karang Mumus (SKM). Namun kata-kata saja tak cukup mengubah perilaku yang sudah mengakar.

Warga tetap melempar sampah, bangunan tetap merapat ke alur air, dan kelalaian seringkali dibiarkan begitu saja. Hingga pada Juli 2015, Misman mengambil keputusan besar, ia kesampingkan profesinya dan jarang menulis. Dia berjalan sendiri di pinggir sungai, memungut sampah helai demi helai.

Dari sendiri menjadi ribuan

Bagi Misman, berteriak tanpa tindakan adalah suara yang hilang di angin. Ia pun kemudian memilih jalan yang sunyi namun nyata, saat ada orang membuang sampah, ia datang memungutnya tepat di tempat itu, tepat ketika orang itu masih ada.

Bukan untuk menegur dengan amarah, melainkan dengan kesederhanaan yang memalukan kesalahan itu. Harapannya adalah agar mereka yang membuang sampah ke sungai menjadi sadar diri.

"Helai demi helai sampah yang kupungut adalah embrio yang kelak akan tumbuh besar untuk kelayakan sungai," kata Misman.

Ia tak membenci pelaku pembuang sampah, ia hanya berharap hati mereka terketuk, sadar bahwa sungai bukanlah tempat pembuangan, melainkan anugerah yang harus dijaga. Jika perlu, semua ikut merawat ketika ada waktu.

Ia merintis Gerakan Memungut Sehelai Sampah (GMSS) SKM Samarinda bersama sejumlah rekan sepaham, termasuk beberapa wartawan yang turut terketuk. Ia kemudian ditetapkan menjadi Ketua GMSS-SKM Samarinda.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, perlahan namun pasti, kesendiriannya berubah menjadi keramaian hati yang peduli. Orang-orang mulai menyaksikan ketekunannya, komunitas bergabung, mahasiswa, TNI, Polri, hingga warga dari Tenggarong, Balikpapan, bahkan luar Kalimantan Timur pun datang membantu.

Kini lebih dari lima puluh ribu orang telah terlibat dalam perjuangan yang dimulai dari satu tangan dan satu tekad. Gerakan ini bukan sekadar bersih-bersih, melainkan upaya meruntuhkan budaya lama yang keliru.

Bersamanya, didirikan pula Sekolah Sungai Karang Mumus (Sesukamu), tempat masyarakat diajak memahami makna sungai, cara mengelola sampah, dan menjaga kelestarian air demi masa depan.

Ruang terbuka hijau pun dibangun di Pangkalan Pungut dan di Sesukamu, agar sungai kembali dikelilingi hijau yang meneduhkan, bukan tembok yang mengurungnya.

Pemerintah Kota Samarinda pun merespons. Dinas Lingkungan Hidup rutin turun ke lapangan, menyertakan perahu pungut sampah dan peralatan, bergotong royong menjaga kebersihan sekaligus mengendalikan risiko banjir.

Dari yang tak bisa dilalui perahu, kini Karang Mumus perlahan kembali menampakkan wajah dan siap menjadi jantung ekowisata yang membanggakan. Meski kondisi saat ini masih ada sampah yang hanyut atau teronggok di tepi, namun tidak separah sebelum ada aksi GMSS-SKM.

Antara sungai dan kanal

Sungai adalah aliran air alami terus-menerus dari hulu menuju hilir hingga bermuara ke laut, danau, atau sungai lain.

Airnya bersumber dari curah hujan, limpasan air dari lereng gunung, bukit, lembah, serta hamparan lahan basah atau rawa. Semua ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem siklus air.

Selain sebagai jalur aliran air, sungai menjadi habitat bagi beragam jenis tumbuhan dan hewan, sekaligus berperan menjaga keseimbangan alam. Maka keberadaan sungai bukan milik manusia semata.

Bagi manusia, sungai dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, mengairi sawah, sarana transportasi, pembangkit tenaga listrik, hingga objek wisata. Namun bagi makhluk hidup lain, sungai adalah ruang tempat mereka tumbuh, bertahan hidup, berkembang biak, dan tempat mencari makan.

Sungai tidak memiliki air secara mandiri, tapi airnya berasal dari DAS yang meliputi seluruh kawasan yang menampung dan menyalurkan air ke sungai seperti gunung, bukit, lembah, serta lahan basah dan rawa yang ditumbuhi semak belukar.

Kawasan ini terbentang mulai dari hulu, bagian tengah, hingga hilir sungai. Jika DAS rusak, maka sungai langsung terdampak.

Banjir yang sering terjadi bukan semata karena sungai meluap, melainkan karena ruang tampung air di DAS berkurang, bahkan hilang yang umumnya akibat perubahan fungsi lahan tanpa disertai upaya kompensasi ekologis yang layak.

Saat ini, di bagian hilir hingga tengah SKM sudah dibeton atau diturap sehingga tidak berupa sungai, tapi menjadi kanal. Padahal ada perbedaan antara sungai dan kanal.

Sungai berfungsi sebagai penyedia air bersih dan sehat bagi manusia serta makhluk hidup lain. Untuk menjaga kualitas dan kuantitas air terjaga secara berkelanjutan, maka ekosistem sungai harus dipelihara dan dijaga kelestariannya, misalnya melalui upaya restorasi lingkungan.

Sebaliknya, jika sungai diubah menjadi kanal untuk mempercepat aliran air agar tidak meluap baik dengan meluruskan alur, memperdalam, memperlebar, serta menurap tepian dengan beton, itu justru menambah masalah baru.

Padahal akar masalah banjir bukan terletak pada bentuk sungai, melainkan pada hilangnya ruang tampung air di kawasan DAS baik pohon yang ditebang, rawa yang diuruk, dan masalah lain di sisi hulu.

Sungai wajib dijaga dan dirawat, namun perawatan tidak boleh merusak ekosistem seperti tumbuhan air, tanaman di tepi, hingga kawasan riparian yang menjadi benteng alami menjaga kualitas dan kuantitas air.

"Meluruskan alur serta menutup tepian sungai dengan beton justru akan mengganggu kehidupan biota air, sehingga hal ini justru memutus rantai ekosistem yang sudah terbentuk secara alami," ujar Misman.

Sungai menjadi sumber utama air bersih bagi banyak masyarakat, maka kebersihan dan kelestarian sungai harus dijaga. Limbah padat maupun cair tidak boleh dibuang langsung ke dalam alirannya.

Ini dapat dimulai dengan kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan, bisa juga membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di setiap saluran yang bermuara ke sungai. Melalui IPAL, zat berbahaya yang tidak terlihat mata dapat tersaring sehingga kualitas air terjaga.

Perlindungan DAS pun penting. Tumbuhan liar yang merupakan ekosistem penentu ketersediaan air di sungai tidak patut dirusak. Kerusakan pada ekosistem ini akan berakibat fatal, bisa terjadi kekeringan saat kemarau dan banjir saat musim hujan.

Merajut ruang sungai

Perjuangan Misman dan ribuan relawan sesungguhnya sebuah restorasi utuh. Bukan sekadar mengembalikan air yang jernih, melainkan memulihkan segala aspek yang menyatukan kehidupan baik secara sosial, budaya, ekonomi, hingga ekologi.

Dahulu sungai adalah jalan raya utama, tempat berdagang, mencari ikan, mengangkut pasir dari Mahakam, dan menghidupi ribuan keluarga. Dulu, di hulu dan tengah alurnya, masih bersemayam orangutan, bekantan, monyet, dan aneka satwa yang kini menjauh karena habitatnya dirusak.

Mengembalikan fungsi sungai berarti mengembalikan pula kemakmuran yang hilang. Jika sungai kembali bersih dan terjaga, akan menjadi magnet wisata yang asri di tengah kota, membawa berkah ekonomi bagi warga sekitar, sekaligus menambah pendapatan asli daerah.

Pada peringatan Hari Sungai Nasional pada 27 Juli, semangat merawat Karang Mumus berkobar makin tinggi. Para perawat sungai layak disebut pahlawan masa kini, bukan dengan senjata, melainkan dengan ketekunan dan kasih sayang pada tanah airnya.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Karang Mumus, nadi luka yang kembali berdenyut

Pewarta: M Ghofar
Editor : Helti Marini S

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.