peezycoineth.vip

Karhutla di kawasan KKOP Bandara Sampit dapat penanganan ekstra

2026-08-26 12:29

Karhutla di kawasan KKOP Bandara Sampit dapat penanganan ekstra

Rabu, 26 Agustus 2026 19:29 WIB

Image Print

Di tengah kepungan asap, Wabup Kotim Irawati (kemeja putih) memantau langsung upaya pemadaman karhutla di Jalan Tjilik Riwut KM 6 Sampit yang masuk kawasan KKOP Bandara Haji Asan Sampit, Rabu (26/8/2026). ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mendapat penanganan ekstra karena berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan.

“Hari ini kita kembali melakukan pemadaman karhutla, yang mana kali ini lokasinya masuk di kawasan KKOP bandara, di sekitar ujung landasan Bandara Haji Asan Sampit, kata Wakil Bupati Kotim Irawati di Sampit, Rabu.

Tepatnya, karhutla terjadi di sekitar Jalan Tjilik Riwut kilometer 6 arah Sampit-Palangka Raya. Kebakaran terjadi sekitar pukul 13.10 WIB. Api dengan cepat membesar karena lokasi yang terbakar merupakan lahan gambut dan semak belukar yang mengering selama kemarau.

Irawati menyampaikan, bahwa dirinya langsung turun ke lokasi setelah mendapat laporan mengenai kebakaran cukup besar di sekitar ujung landasan Bandara Haji Asan Sampit dan minimnya armada pemadaman.

Ia pun langsung menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim agar segera mengerahkan personel serta armada tambahan ke lokasi.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena titik kebakaran berada di kawasan KKOP yang berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan, terlebih pada saat itu dijadwalkan kedatangan pesawat Super Air Jet ke Kota Sampit.

“Karena ini landasan KKOP dan sebentar lagi penerbangan Super Air Jet yang dijadwalkan mendarat di Kota Sampit,” ujarnya.

Irawati pun mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur dalam penanganan kebakaran tersebut, termasuk TNI dan Polri yang turut menurunkan personel untuk mempercepat pengendalian api.

Kolaborasi antara Satgas Karhutla dan Kekeringan Kotim, serta personel tambahan dan armada dari Kodim 1015/Sampit, Polres Kotim serta relawan membuat api yang sempat membesar dapat dikendalikan.

Dandim 1015/Sampit Letkol Inf Dwi Candra Setyawan dan Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain juga berada di lokasi untuk memantau proses pemadaman. Selain itu, jajaran Korem 102/Pjg ikut turun memantau penanganan karhutla di lokasi tersebut.

Baca juga: DPRD Kotim catat kebutuhan anggaran Rp110,5 miliar di APBD Perubahan 2026

Irawati bahkan turut membantu pengamanan arus lalu lintas ketika kabut asap cukup pekat menyelimuti ruas jalan di sekitar lokasi dan mengganggu jarak pandang pengendara.

“Kita lihat sendiri hari ini kerja sama yang sangat luar biasa sehingga pemadaman berjalan dengan lancar. Kita mendoakan tim Satgas Karhutla beserta TNI-Polri dan relawan selalu diberikan kesehatan,” ucapnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan penanganan karhutla di kawasan KKOP memang membutuhkan upaya lebih dibandingkan lokasi lainnya karena aspek keselamatan penerbangan harus menjadi perhatian utama.

“Penanganan di kawasan KKOP memang agak ekstra karena bagaimana transportasi udara tetap bisa jalan seperti biasanya,” ujar Multazam.

Ia menyebutkan, selain di sekitar Jalan Tjilik Riwut kilometer 6, pihaknya juga memberikan perhatian terhadap kebakaran di Jalan Jaksa Agung yang masih berada dalam kawasan KKOP.

Jarak titik api di Jalan Jaksa Agung dari pinggir jalan saat ini mencapai sekitar 500 hingga 550 meter sehingga menyulitkan pengerahan unit pemadaman. Kondisi tersebut diperparah vegetasi berupa hutan sekunder dan pionir yang membuat pergerakan pasukan darat menjadi terbatas.

“Untuk penanganan itu memang agak panjang, karena di dalamnya ada hutan-hutan sekunder atau pionir-pionir baru hutan, sehingga pergerakan pasukan darat memang kesulitan,” ungkapnya.

Selain akses yang sulit, karakteristik lahan gambut yang cukup tebal menyebabkan api berpotensi menjalar di bawah permukaan sehingga proses pemadaman membutuhkan suplai air dan waktu lebih panjang.

Baca juga: Pemkab Kotim kerahkan ekskavator buat sekat bakar cegah karhutla meluas

Sementara itu, berdasarkan laporan Cepat Pusdalops PB Posko Bencana Karhutla dan Kekeringan Kotim hingga pukul 13.30 WIB, terdapat sembilan lokasi yang ditangani regu gabungan pada Rabu.

Lokasi tersebut meliputi Jalan Jaksa Agung, Jalan WMP 31 Jalur 7, Jalan Lingkar Utara kawasan Perumahan Sultan Bintang, Jalan Tjilik Riwut kilometer 7, Jalan Ir. Soekarno di belakang Kementerian Agama, Jalan Jenderal Sudirman kilometer 3,5 hingga kilometer 2,5, serta Gang Melati.

Personel BPBD, Disdamkarmat dan Yonif Teritorial Pembangunan dikerahkan dalam sejumlah regu dengan kekuatan sekitar sembilan hingga 12 orang per unit. Dukungan suplai air juga dilakukan secara bergantian oleh tim BPBD, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan unsur pemadam lainnya.

Untuk mempercepat penanganan, regu yang sebelumnya bersiaga di Jalan Jenderal Sudirman kilometer 3,5 turut digeser menuju kilometer 2,5, termasuk kawasan sekitar Hotel Aquarius. Pola pengerahan tersebut dilakukan menyesuaikan perkembangan titik api dan kebutuhan di lapangan.

Multazam menambahkan bahwa skala karhutla di Kotim sepanjang tahun ini menunjukkan ancaman yang semakin serius. Berdasarkan data BPBD sejak Januari hingga 25 Agustus 2026, tercatat 493 kejadian dengan luas lahan terbakar lebih dari 1.491 hektare.

Kecamatan Seranau menjadi salah satu wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar, yakni lebih dari 703 hektare. Sementara itu, jumlah kejadian terbanyak tercatat di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dengan 225 kejadian.

Ancaman tersebut juga tercermin dari tingginya akumulasi titik panas yang terpantau di berbagai wilayah Kotim. Sepanjang Januari hingga 25 Agustus 2026, tercatat sebanyak 8.727 hotspot tersebar di seluruh kecamatan.

“Kondisi kemarau yang membuat lahan dan vegetasi mengering menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran api. Pada kawasan gambut, pemadaman juga tidak cukup hanya dengan mengatasi api yang terlihat di permukaan karena bara dapat bertahan dan menjalar di lapisan bawah,” demikian Multazam.

Baca juga: DPRD Kotim ingatkan BTT harus transparan dan prioritaskan petugas lapangan

Baca juga: Pembahasan APBD Perubahan Kotim 2026 segera dibawa ke paripurna

Baca juga: PT Maju Aneka Sawit kerahkan helikopter water bombing bantu pemadaman karhutla di Kotim

Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.