peezycoineth.vip

Kata Dokter soal Penyakit Jantung Bawaan, Terbentuk Sejak Trimester Pertama

2026-07-22 12:09

Jakarta -

Penyakit jantung bawaan merupakan kelainan pada struktur atau anatomi jantung yang sudah terjadi sejak bayi masih berada di dalam kandungan. Kondisi ini bukan muncul setelah anak lahir, melainkan terbentuk pada awal masa kehamilan.

Dokter jantung anak dari BraveHeart Brawijaya Hospital, dr Anisa Rahmadhany, SpA, Subsp.Kardio, menjelaskan jantung janin mulai terbentuk pada trimester pertama kehamilan, tepatnya sekitar usia kehamilan 10-12 minggu.

"Kalau bicara penyakit jantung bawaan, maksudnya penyakitnya sudah terjadi sejak seorang anak lahir. Terjadinya saat kehamilan," kata dr Anisa, dalam tayangan detikSore, Kamis (16/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, masa awal kehamilan merupakan periode penting pembentukan organ jantung. Karena itu, ibu hamil perlu menjaga kesehatan dan menghindari konsumsi obat-obatan tanpa anjuran dokter.

"Kurang menjaga kesehatan atau minum obat sembarangan. Itu berisiko menyebabkan pembentukan jantung terganggu,di trimester pertama," jelasnya.

dr Anisa mengatakan penyakit jantung bawaan merupakan kelainan struktur atau anatomi jantung. Secara umum, angka kejadiannya sekitar 1 persen dari seluruh bayi yang lahir.

Risiko tersebut dapat meningkat apabila salah satu orang tua memiliki riwayat penyakit jantung bawaan. Menurut dr Anisa, jika ibu atau ayah memiliki kondisi tersebut, peluang anak mengalami penyakit serupa bisa meningkat menjadi sekitar 5-7 persen.

"Terutama pada ibu yang ada penyakit jantung bawaan, bahkan risiko pada anak bisa naik menjadi 7 persen," katanya.

Meski sudah terbentuk sejak dalam kandungan, penyakit jantung bawaan pada beberapa kasus dapat dideteksi sebelum bayi lahir. Pemeriksaan yang digunakan adalah fetal echocardiography atau USG jantung janin.

"Tapi kendalanya, harus dokter ahli biasanya dokter kandungan subspesialis fetomaternal, dan kedua alatnya juga harus bagus. Kalau dokternya ahli tapi alatnya USG-nya nggak mendukung, ya susah juga," ucap dr Anisa.

(suc/up)