peezycoineth.vip

KB dan pendidikan perlu beriringan untuk investasi SDM

2026-09-23 10:54

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menegaskan pentingnya Program Keluarga Berencana (KB) berjalan beriringan dengan pembangunan pendidikan untuk investasi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

"Kalau KB berjalan beriringan dengan pendidikan, mungkin kita sudah sejahtera. Kalau di kota-kota besar, kesadaran ber-KB mungkin memang sudah tinggi, tetapi di daerah-daerah lain, termasuk yang terpencil, ini belum merata, salah satunya karena kesenjangan tingkat pendidikan, padahal, program KB ini bisa menjadi investasi pembangunan SDM, bukan sekadar pengendalian kelahiran," kata Deputi Bidang Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga/BKKBN Wahidin di Jakarta pada Rabu.

Ia mengemukakan, berdasarkan hasil dari berbagai riset, investasi KB dinilai efektif secara anggaran atau cost-effective karena memberikan manfaat multidimensi, mulai dari kesehatan ibu dan anak, pendidikan, partisipasi kerja perempuan, produktivitas, hingga penguatan bonus demografi.

Baca juga: Mendukbangga kunjungi masyarakat adat Baduy

"KB berkontribusi terhadap penurunan stunting dengan mencegah kehamilan berisiko atau '4 Terlalu', yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak. Pengaturan jarak kehamilan menjadi salah satu intervensi penting, di mana berdasarkan analisis USAID, jika seluruh interval kelahiran-kehamilan diperpanjang menjadi tiga tahun, sekitar 1,6 juta kematian balita dapat dicegah setiap tahun," ucap Wahidin.

Ia menambahkan, dampak KB tidak hanya berpengaruh pada kesehatan, tetapi juga fiskal dan sosial-ekonomi. Manfaat investasi KB mencakup penghematan biaya membesarkan anak, penghematan biaya perawatan kesehatan akibat kematian/kesakitan ibu dan balita, serta peningkatan pendidikan, partisipasi kerja, dan produktivitas perempuan.

Baca juga: KB dan pendidikan perlu beriringan untuk investasi SDM

Target pemerintah pada tahun 2025–2029 yakni meningkatkan proporsi kebutuhan KB yang terpenuhi dengan metode modern dari 83,9 persen menjadi 87,1 persen, serta menurunkan kebutuhan KB yang tidak terpenuhi atau unmet need dari 11,1 persen menjadi 8,5 persen pada 2029.

Persentase kehamilan tidak diinginkan juga ditargetkan turun dari 13,2 persen menjadi 11,3 persen pada 2029, sedangkan persentase pasangan usia subur (PUS) dengan kehamilan risiko tinggi "4 Terlalu" ditargetkan turun dari 28,3 persen menjadi 26,8 persen pada 2029.

"Pemerintah terus meningkatkan akses dan kualitas layanan KB, serta kesehatan reproduksi sebagai strategi utama investasi SDM. Layanan diarahkan agar komprehensif, inklusif, berbasis kewilayahan dan siklus hidup, sekaligus mengurangi kesenjangan layanan di daerah tertinggal, kepulauan, perbatasan, serta kelompok marginal," ucap Wahidin.

Pewarta : Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026