peezycoineth.vip

Kejayaan Nvidia Tumbang Seketika, Minggu Ini Jadi Penentuannya

2026-08-26 06:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa pembuat chip global, Nvidia, disinyalir akan menghadapi ujian berat saat merilis laporan keuangan terbarunya pada Rabu (26/8) waktu setempat. Investor menanti bukti nyata apakah jajaran chip generasi terbaru mereka, Rubin, mampu mendorong gelombang pertumbuhan eksponensial berikutnya di tengah mencuatnya keraguan atas keberlanjutan booming investasi Artificial Intelligence (AI).

Sebagai penerima manfaat terbesar dari ledakan infrastruktur AI, pergerakan saham Nvidia belakangan justru berada di bawah tekanan. Pasar menyoroti langkah agresif perusahaan yang mengucurkan modal miliaran dolar kembali ke ekosistem AI. Skema ini memicu kekhawatiran atas praktik circular deals (transaksi melingkar) yang berisiko memanipulasi permintaan secara semu.

Sepanjang tahun ini, laju saham Nvidia mencatatkan kenaikan 11,8%, namun masih tertinggal dari sejumlah pesaing utamanya. Bahkan, mahkota perusahaan paling berharga di dunia yang sempat dipegangnya harus kembali diserahkan ke Apple bulan lalu.

Berdasarkan konsensus analis yang dihimpun LSEG, pendapatan kuartal-II Nvidia diproyeksikan melonjak hampir dua kali lipat secara tahun-ke-tahun (YoY) menjadi US$92,18 miliar (Rp1.633 triliun). Ini bakal menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam tujuh kuartal terakhir, didorong penjualan segmen data center yang meroket lebih dari dua kali lipat.

Namun, perhatian pasar kini bergeser pada seberapa cepat Nvidia mampu melakukan transisi pelanggan dari arsitektur Blackwell ke chip teranyar Vera Rubin, yang pengiriman perdananya dijadwalkan mulai akhir 2026.

Akselerasi pasar ini disokong belanja data center yang meningkat signifikan oleh raksasa teknologi (Big Tech) yang diperkirakan menembus US$730 miliar tahun ini, serta kenaikan anggaran signifikan dari penyedia layanan cloud AI skala menengah seperti CoreWeave yang dibekingi langsung oleh Nvidia.

Peran Nvidia Seperti 'Bank Sentral' AI Picu Kekhawatiran

Sorotan investor makin tajam setelah Nvidia memfasilitasi pendanaan raksasa senilai US$500 miliar dari enam konsorsium perbankan AS untuk para pelanggannya. Tak hanya itu, Nvidia juga memberikan jaminan kredit hingga US$105 miliar bagi OpenAI untuk menyewa fasilitas data center 20 tahun di Ohio.

"Langkah ini membuat Nvidia bertindak layaknya bank sentral di ekosistem AI," ungkap Brian Mulberry, Chief Market Strategist Zacks Investment Management. "Risiko terbesarnya adalah paparan (exposure) total pada AI tanpa adanya diversifikasi. Kunci utamanya ada pada tingkat adopsi alat AI yang harus terus tumbuh."

CEO Nvidia, Jensen Huang, membantah tuduhan skema pembiayaan melingkar tersebut. Menurutnya, Nvidia memanfaatkan posisi kas perusahaan yang melimpah untuk menyokong kebutuhan infrastruktur jangka panjang para pelanggan yang sedang tumbuh pesat.

Persaingan Makin Ketat, Pasar Tunggu Kehadiran Rubin

Peluncuran chip Rubin menjadi krusial di tengah gempuran persaingan. Nvidia kini tidak hanya bersaing dengan chip kustom besatan Big Tech, tetapi juga menghadapi penetrasi prosesor (CPU) Intel dan AMD pada pemrosesan inference AI.

Analis Morgan Stanley memprediksi chip Rubin mampu menyumbang pendapatan hingga US$9 miliar pada kuartal III. Namun, pasar masih memantau seberapa efektif Rubin mempertahankan dominasi pangsa pasar Nvidia dari gempuran chip internal milik Big Tech.

Untuk kuartal III, analis memperkirakan pendapatan Nvidia akan naik 82,8% menjadi US$104,20 miliar, dengan margin kotor disesuaikan (adjusted gross margin) bertahan stabil di level tinggi 75%.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]