Kemarau tekan budidaya ikan di Tapin - ANTARA News Kalimantan Selatan
Rantau (ANTARA) - Musim kemarau mulai menekan usaha budi daya ikan di Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, setelah penurunan debit air berdampak terhadap kualitas air dan memicu kematian ikan di sejumlah kolam dan tambak.
Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tapin Rahmadi Sasi Purnama menyebutkan, penurunan debit air turut mempengaruhi kadar oksigen sehingga meningkatkan risiko kematian ikan, terutama pada kolam dan tambak yang bergantung pada pasokan air.
"Dampak tersebut salah satunya terjadi di Kembang Habang. Kolam buatan di wilayah itu mengalami penurunan kualitas air hingga menyebabkan kematian ikan yang dibudidayakan," ujarnya di Rantau, Kabupaten Tapin, Jumat.
Ia mengatakan, Dari sekitar 3.000 ekor ikan yang sebelumnya dipelihara, saat ini diperkirakan hanya tersisa lebih dari 1.000 ekor yang masih hidup.
Sasi menambahkan, Kondisi serupa juga terjadi pada usaha tambak di Linuh dan Pampain. Debit air yang masuk ke kantong-kantong tambak semakin terbatas sehingga sebagian ikan di kedua wilayah tersebut juga dilaporkan mati.
"Untuk tambak, debit air sangat kurang. Sudah ada juga di daerah Linuh yang ikannya mati dan Pampain juga ada sebagian ikannya mati," kata Sasi.
Menghadapi kondisi tersebut, kata dia, pembudidaya menunda penebaran benih dan menyesuaikan kepadatan ikan dengan daya dukung kolam. Guna mengurangi risiko kematian ketika ketersediaan air masih terbatas.
"Tak hanya itu pembudidaya juga melakukan panen lebih awal apabila kondisi kolam tidak memungkinkan mempertahankan ikan hingga ukuran panen normal," tambahnya.
Baca juga: BUMDesa Tapin sumbang Rp581,54 juta untuk PADes
Sasi mengungkapkan, Dinas Perikanan Tapin membuka peluang dukungan bagi kelompok pembudidaya terdampak, tetapi bantuan harus memiliki dasar dan diberikan kepada kelompok yang memenuhi persyaratan, termasuk legalitas yang jelas.
"Bantuan memang tiap tahun ada, tetapi harus ada dasarnya. Untuk kelompok yang legalitasnya jelas," ungkapnya.
Ia menjelaskan, Dinas Perikanan juga terus memantau kondisi budi daya serta menyosialisasikan langkah menghadapi kemarau, terutama pemantauan ketersediaan dan kualitas air. Penyesuaian pola budi daya diperlukan agar dampak penurunan debit dan kadar oksigen terhadap produksi ikan dapat ditekan.
Pewarta: Muhammad Rastaferian Pasya
Editor : Sukarli
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.