Kemenag Lombok Tengah mengecek kondisi santri terkait kasus asusila ponpes
Lombok Tengah (ANTARA) - Kementerian Agama (Kemenag) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengecek langsung kondisi para santri terkait kasus dugaan asusila yang dilakukan oleh oknum pimpinan pondok pesantren (ponpes) di wilayah Desa Bungkate terhadap santriwati.
"Kami akan melakukan pengecekan ke lapangan untuk memastikan kebenaran informasi dan kondisi para santri di ponpes tersebut," kata Kepala Kemenag Lombok Tengah Lalu Syandi di Lombok Tengah, Rabu.
Ia mengatakan pengecekan langsung tersebut bertujuan mendapatkan informasi secara detail terkait dengan apa yang beredar di media sosial, apakah itu benar atau tidak guna penyelidikan dan pencarian bukti.
"Kami turun untuk pengecekan atau menyelidiki soal dugaan kekerasan seksual terhadap santriwati di pondok pesantren tersebut," katanya.
Ia menjelaskan informasi awal baru diterima melalui media sosial dan ditindaklanjuti sesuai prosedur, sehingga pihaknya belum bisa mengambil keputusan terkait persoalan tersebut.
"Fokus utama tetap pada perlindungan santri dan keberlangsungan pendidikan di ponpes tersebut," katanya.
Sementara itu Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Mataram Joko Jumadil menyatakan pihaknya sudah memantau kasus ini sejak tahun 2024. Kemudian 3 Februari 2025 pihaknya sempat membuat laporan pengaduan ke Polresta Lombok Tengah dengan satu orang korban.
"Hanya saja saat itu alat bukti yang diperoleh masih sangat minim, sehingga kami bersama wartawan BBC melakukan investigasi bersama dan akhirnya ada beberapa alat bukti yang bisa kami dapatkan dan menyampaikan alat bukti itu ke Polresta Lombok Tengah,” katanya.
Ia mengatakan beberapa alat bukti tambahan yang diserahkan mulai dari rekaman pengakuan oknum tuan guru, kemudian ada video rekaman isteri tuan guru.
Baca juga: Polresta Lombok Tengah mendalami dugaan pelecehan seksual santriwati
Selain dari satu korban yang sebelumnya melapor, dari identifikasi yang dilakukan setidaknya ada lima santri yang menjadi korban oknum tuan guru tersebut.
“Hanya saja sebagian korban ada di Mesir dan ini yang membuat salah satu tantangan dari pengungkapan kasus ini. Mengingat alat bukti yang cukup kuat adalah yang di Mesir ini ada dua orang,” ucapnya.
"Ada dugaan dari lima korban, ada korban yang sampai disetubuhi, namun korban tersebut besar kemungkinan tidak mau membongkar kasus itu," kata Joko.
“Jadi dari lima korban ini tidak semua berpihak ke kita sebagai pelapor, bisa jadi karena takut atau lebih membela pelaku," tambahnya.
Pewarta : Akhyar Rosidi
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026