peezycoineth.vip

Kemendiktisaintek: Ragi adaptif bentuk empati sains pada perajin tempe

2026-09-04 06:10

Kemendiktisaintek: Ragi adaptif bentuk empati sains pada perajin tempe

Jumat, 4 September 2026 13:10 WIB

Image Print

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Prof Yudi Darma dalam acara “Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan” di Antara Heritage Center, Jakarta, Rabu (2/9/2026). ANTARA/HO - Kemendiktisaintek

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengatakan ragi adaptif yang dikembangkan periset Universitas Indonesia (UI) tak hanya menjadi solusi atas ancaman perubahan iklim, tetapi juga empati pada perajin tempe.

"Riset ragi yang memanfaatkan kekayaan kapang Rhizopus asli Indonesia ini hadir bukan sekadar sebagai terobosan biologis, melainkan sebagai bentuk empati sains terhadap kegelisahan para perajin," ujar Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Yudi Darma di Jakarta, Jumat.

Hal itu disampaikan Yudi dalam diskusi publik “Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan” di Antara Heritage Center (AHC), Jakarta, Rabu (2/9/2026). Dia menjelaskan ragi memiliki peranan penting dalam pembuatan tempe, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia.

"Tempe bukanlah sekadar panganan pengganjal lapar. Ia adalah mahakarya Nusantara yang mewakili keluhuran budi dan kelangsungan hidup antargenerasi. Jejak sejarahnya tertanam kuat, salah satunya dalam Serat Centhini (1815), yang mana tempe dihidangkan sebagai lambang keramahtamahan, keharmonisan, dan kecukupan gizi masyarakat Jawa," ujarnya.

Meski demikian, lanjutnya, pada era kolonial tempe pernah diremehkan dan dianggap sebagai penganan kelas bawah. Stigma itu baru benar-benar runtuh ketika tahun 1965, Prof. Ko Swan Djien yang memimpin Laboratorium Mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung (ITB), membuka mata dunia melalui riset fermentasi tempe yang dia kerjakan bersama jejaring riset di Amerika Serikat.

Baca juga: Kemendikti: Ragi tempe perlu dilindungi sebagai aset biologis RI

Dunia medis dan gizi global pun mengakui tempe sebagai superfood, sumber protein nabati unggul, yang kaya antioksidan peningkat imun, penurun kolesterol, hingga menjadi andalan rehabilitasi gizi anak-anak penderita gangguan pencernaan kronis.

Tim periset UI melalui Program Bestari Saintek dengan pendanaan LPDP mengembangkan inovasi ragi tempe menggunakan kombinasi beberapa spesies Rhizopus. Riset dilakukan melalui pendekatan living lab, dengan pengujian dalam kondisi nyata dan memanfaatkan umpan balik pengguna.

Periset Bestari Saintek sekaligus akademisi UI Prof. Wellyzar Sjamsuridzal mengatakan riset ragi juga menjadi bagian dari upaya memahami dan menjaga biodiversitas mikroba Indonesia.


Baca juga: ANTARA menggaungkan inovasi pangan nasional lewat "Ragi Nusantara"

“Ragi tempe merupakan bagian penting dari upaya memanfaatkan biodiversitas Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan. Melalui riset dan kolaborasi, keragaman mikroorganisme dapat dikembangkan secara bertanggung jawab menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Riset ini juga mempertimbangkan pengaruh suhu dan kelembapan terhadap fermentasi tempe, sehingga diperlukan pengembangan ragi yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan.

Diskusi yang digelar Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi bersama FKS Group dan LKBN ANTARA ini mempertemukan akademisi, industri, pemerintah, dan pakar pangan, untuk membahas pengembangan ragi Nusantara sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan.

Melalui kolaborasi tersebut, tempe diharapkan tidak hanya menjadi pangan sehari-hari, tetapi juga menjadi contoh bagaimana biodiversitas, sains, teknologi, dan industri dapat menghasilkan inovasi pangan bernilai tambah serta berpotensi menembus pasar global.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemendiktisaintek: Ragi adaptif bentuk empati sains pada perajin tempe

Pewarta : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026