Kenaikan Harga HP Ubah Pola Pembelian - ANTARA News Jawa Barat
Bandung (ANTARA) - Harga handphone (HP) diperkirakan terus mengalami kenaikan seiring meningkatnya biaya produksi komponen elektronik.
Kondisi tersebut mulai mengubah pola pembelian masyarakat yang kini lebih selektif dalam memilih perangkat baru.
Dalam video berjudul "Harga HP Naik Terus... Ini Saran dari Saya", kanal YouTube Gadgetin menjelaskan bahwa kenaikan harga smartphone dipengaruhi oleh melonjaknya harga komponen memori DRAM dan NAND Flash.
Permintaan chip yang tinggi dari industri kecerdasan buatan (AI) membuat pasokan memori semakin terbatas sehingga biaya produksi smartphone ikut meningkat.
Temuan ini juga sejalan dengan laporan TrendForce yang menyebutkan harga kontrak DRAM pada 2025 meningkat lebih dari 75 persen dibanding tahun sebelumnya. Akibatnya, biaya produksi smartphone naik sekitar 8-10 persen pada 2025.
Sementara itu, Kenaikan biaya tersebut membuat produsen harus menyesuaikan harga jual perangkat agar tetap menjaga keuntungan. Menurut TrendForce, tekanan biaya diperkirakan masih berlanjut pada 2026 dengan kenaikan biaya produksi smartphone sekitar 5–7 persen dibanding 2025 karena harga DRAM dan NAND Flash belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Di sisi lain, Gadgetin menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat konsumen tidak harus selalu membeli model terbaru. Perangkat generasi sebelumnya dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan periode promosi atau memilih spesifikasi yang benar-benar sesuai kebutuhan agar pengeluaran lebih efisien.
Dengan tren kenaikan harga komponen yang masih berlanjut, perubahan pola pembelian diperkirakan akan terus terjadi. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan teknologi terbaru, tetapi juga nilai guna dan efisiensi biaya sebelum memutuskan membeli smartphone.
Pewarta: Isti Rahmawati Darmawan
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.