peezycoineth.vip

Kenapa Ada Teh English Breakfast, Tapi Tak Ada Indonesian Breakfast?

2026-08-16 03:00

Jakarta -

Teh English Breakfast begitu populer di dunia, tapi pernahkah kamu berpikir kenapa tidak ada teh Indonesian Breakfast? Ternyata hal ini terkait sejarah dan kebiasaan minum teh warga lokal. Begini penjelasannya.

Pencinta teh Indonesia, Oza Sudewo, menjelaskan asal-usul teh English Breakfast yang kini sangat populer di dunia. Jenis teh ini terkenal dengan karakter rasa yang kuat dan dinikmati saat sarapan oleh warga Inggris.

Melalui unggahan Instagram @ozasudewo (12/8), ia mengatakan, "English Breakfast itu baru tercipta di awal 1800an di Inggris. Saat itu terjadi revolusi industri, di mana kelas pekerja itu baru tercipta, karena sebelumnya kan adalah kelas petani."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan golongan kelas pekerja pada zaman revolusi industri memiliki jam kerja yang benar-benar panjang. "Dulu mungkin mereka bisa kerja 12, 16, sampai 18 jam. Jadi mereka itu harus sarapan yang benar-benar 'berat'," sambungnya.

Menu yang populer dipilih adalah English Breakfast. Isinya berupa sosis, tomat, baked beans, bacon, telur, sampai roti. Di Inggris juga pakai black pudding.

Oza menjelaskan menu yang padat dan mengenyangkan itu perlu disandingkan dengan minuman yang memang bisa mengimbangi makanan 'berat' tadi. "Akhirnya terciptalah English Breakfast sebagai teh untuk teman sarapan," sambung Oza.

Jenis teh ini terbagi menjadi 3 komposisi, yaitu harus yang rasanya kaya, segar, dan harus 'berat' karena untuk mengimbangi makanan berat. Oza melanjutkan, "Biasanya pedagang Inggris akan mengambil (teh) dari beberapa negara supaya tercipta kombinasi English Breakfast."

Seiring waktu, banyak brand atau produsen yang kemudian berlomba-lomba menciptakan varian English Breakfast versi mereka. Hal ini mengingat pasar pekerja waktu itu sangatlah besar. Sampai akhirnya teh English Breakfast masih populer sampai sekarang.

Lalu, kenapa tidak ada teh Indonesian Breakfast?

Menurut Oza, sebenarnya setiap brand punya kebebasan untuk menciptakan varian mereka sendiri. Yang kemudian perlu dipertanyakan, sudah sejauh mana mereka meriset untuk menciptakan varian tersebut? Kemudian seberapa diterimanya varian tersebut oleh masyarakat?

"Mungkin tidak ada yang menamakan Indonesian Breakfast, tapi kita sebagai orang Indonesia ketika sarapan minum teh, secara budaya kalau saya lihat, teh apapun (sebenarnya) kita minum. Karena kan sarapan kita juga nggak 'berat-berat' amat," lanjut Oza.

Ia menyoroti menu, seperti nasi uduk, bubur, serabi, hingga ketoprak, yang tergolong tidak terlalu 'berat' dibanding English Breakfast.

"Jadi kalau kita mau menciptakan Indonesian Breakfast, tehnya kemungkinan besar tidak akan se-rich, fresh, dan heavy seperti English Breakfast tadi," tutup Oza.

(adr/adr)