Kenapa Indonesia sering gempa? Ini penyebab dan penjelasan megathrust
Jakarta (ANTARA) - Gempa bumi kembali menjadi perhatian setelah sejumlah wilayah Indonesia diguncang gempa dalam beberapa waktu terakhir. Di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), gempa bumi magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 menjadi salah satu yang paling kuat dan berdampak besar. BMKG mencatat aktivitas gempa susulan terus berlangsung, bahkan hingga Jumat (21/8) pukul 05.00 WIB telah mencapai 4.258 kejadian dengan magnitudo 1,1 hingga 6,2. Sebanyak 118 gempa susulan dirasakan masyarakat dan 31 di antaranya memiliki magnitudo di atas 5,0.
Pada periode yang hampir bersamaan, Sulawesi Tengah juga diguncang gempa magnitudo 6,2 di wilayah barat daya Parigi Moutong pada 15 Agustus 2026. BMKG menjelaskan gempa tersebut berkaitan dengan deformasi batuan di dalam lempeng dan tidak berpotensi tsunami. Sementara itu, aktivitas gempa juga masih tercatat di sejumlah wilayah NTT hingga 21 Agustus, termasuk gempa yang berpusat di sekitar Manggarai dan Mbay-Nagekeo.
Fenomena tersebut bukan kejadian yang berdiri sendiri. Pada akhir 2025, Aceh juga mengalami rangkaian gempa, termasuk gempa magnitudo 6,3 di selatan Pulau Simeulue pada 27 November 2025. BMKG mengklasifikasikan gempa tersebut sebagai gempa dangkal dan tidak berpotensi tsunami. Pada 31 Desember 2025, BMKG Stasiun Geofisika Aceh Besar juga mencatat 11 kejadian gempa di wilayah Aceh sejak dini hari hingga sekitar pukul 11.10 WIB.
Rangkaian kejadian itu lantas membuat pertanyaan lama kembali muncul, mengapa Indonesia begitu sering diguncang gempa dan bagaimana kaitannya dengan istilah megathrust yang beberapa tahun terakhir banyak dibicarakan? Untuk memahaminya, kita perlu melihat posisi Indonesia di atas peta tektonik dunia.
Baca juga: BNPB: 1.378 sekolah di Flores NTT terdampak gempa
Indonesia berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik
Salah satu alasan utama Indonesia rawan gempa adalah letaknya yang berada di kawasan pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif.
Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Di wilayah ini terdapat dinamika pergerakan lempeng berupa zona subduksi dan kolisi. Pergerakan tersebut membuat sebagian wilayah Indonesia memiliki sumber gempa yang sangat aktif.
Sederhananya, lempeng tektonik merupakan bagian besar dari kerak bumi yang terus bergerak, meskipun pergerakannya sangat lambat. Ketika dua lempeng bertemu, dapat terjadi tumbukan atau salah satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.
Proses penunjaman inilah yang dikenal sebagai subduksi. Ketika tekanan dan energi yang tersimpan di zona tersebut dilepaskan secara tiba-tiba, terjadilah gempa bumi.
Indonesia memiliki banyak zona subduksi
Kerawanan Indonesia tidak hanya berasal dari satu sumber gempa. BMKG menjelaskan terdapat sejumlah zona subduksi di wilayah Indonesia, antara lain zona Sunda, Banda, utara Sulawesi, Laut Maluku dan utara Papua. Zona-zona tersebut menjadi sumber gempa bumi sekaligus dapat memicu aktivitas pada patahan-patahan aktif.
Karena sumbernya tersebar di berbagai wilayah, gempa dapat terjadi di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Itulah sebabnya gempa di Aceh, Flores, Sulawesi Tengah atau wilayah lainnya tidak selalu memiliki penyebab geologi yang sama. Masing-masing kejadian perlu dianalisis berdasarkan lokasi episenter, kedalaman, mekanisme sumber dan struktur tektonik di sekitarnya.
Baca juga: Pemerintah siapkan layanan pendaftaran relawan penanganan gempa NTT
Lalu, apa sebenarnya megathrust?
Istilah megathrust sering muncul ketika membahas potensi gempa besar di Indonesia. Secara sederhana, megathrust merupakan bagian dangkal dari zona subduksi dengan sudut penunjaman relatif landai. Zona tersebut berada di sekitar pertemuan lempeng dan dapat menjadi sumber gempa bumi besar.
Salah satu contoh yang banyak dibahas berada di sebelah barat Sumatra. Di kawasan tersebut, Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. BMKG dalam sejumlah analisis gempa di Sumatra menjelaskan bahwa aktivitas subduksi ini berkaitan dengan zona megathrust di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra.
Zona megathrust juga terdapat di wilayah lain. Karena itu, istilah tersebut bukan nama sebuah gempa tertentu, melainkan merujuk pada sumber gempa berupa bagian dari zona subduksi.
Apakah setiap gempa besar berarti gempa megathrust?
Jawabannya, tidak.
Gempa Flores pada 15 Agustus 2026, misalnya, memang memiliki magnitudo besar, tetapi tidak tepat jika setiap gempa yang terjadi di kawasan tersebut langsung disebut sebagai gempa megathrust.
Begitu pula dengan gempa magnitudo 6,2 di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. BMKG menyebut gempa tersebut terjadi akibat deformasi batuan dalam lempeng dengan mekanisme oblique thrust fault. Artinya, untuk menentukan sumber gempa, diperlukan analisis geologi dan seismologi, bukan hanya melihat besarnya magnitudo.
Hal ini penting karena istilah megathrust sering kali menimbulkan kesan bahwa setiap gempa yang terjadi merupakan pertanda gempa raksasa akan segera menyusul. Padahal, waktu terjadinya gempa tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan kemunculan gempa-gempa sebelumnya.
Baca juga: Kemenag siapkan ruang belajar sementara bagi siswa madrasah di NTT
Bagaimana dengan gempa di Aceh?
Aceh merupakan salah satu wilayah yang memiliki sejarah kegempaan kuat karena berada dekat zona subduksi Sumatra serta sejumlah struktur tektonik aktif.
Pada 27 November 2025, misalnya, gempa magnitudo 6,3 mengguncang wilayah selatan Pulau Simeulue. BMKG menyebut episenternya berada sekitar 1 kilometer di selatan Simeulue dengan kedalaman 14 kilometer dan mengklasifikasikannya sebagai gempa dangkal.
Gempa tersebut kemudian disusul aktivitas kegempaan lain di Aceh. Bahkan pada penghujung Desember 2025, BMKG mencatat 11 gempa di seluruh wilayah Aceh hanya dalam rentang dini hari hingga menjelang siang pada 31 Desember.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas tektonik di Indonesia memang dinamis. Namun, meningkatnya jumlah gempa dalam suatu periode tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa gempa megathrust tertentu akan segera terjadi.
Mengapa gempa bisa terjadi berulang kali?
Gempa bumi tidak selalu datang sebagai satu kejadian tunggal. Setelah gempa utama yang cukup besar, batuan di sekitar sumber gempa dapat mengalami penyesuaian sehingga muncul gempa susulan atau aftershock.
Kondisi ini terlihat jelas setelah gempa M7,7 Flores. Hingga 21 Agustus 2026, BMKG mencatat 4.258 gempa susulan dan memperkirakan aktivitas tersebut masih dapat berlangsung selama beberapa waktu.
Namun, gempa yang terjadi di daerah berbeda pada waktu yang berdekatan juga tidak otomatis saling berkaitan. Indonesia memiliki banyak sumber gempa yang aktif sehingga beberapa kejadian dapat berlangsung hampir bersamaan tetapi berasal dari struktur tektonik yang berbeda.
Baca juga: Wapres upayakan mahasiswa asal wilayah gempa lanjutkan pendidikan
Apakah Indonesia bisa memprediksi kapan gempa besar terjadi?
Sampai saat ini, waktu pasti terjadinya gempa bumi belum dapat diprediksi secara akurat.
Informasi mengenai keberadaan zona megathrust bukan berarti gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat. BMKG sebelumnya menekankan bahwa keberadaan zona megathrust merupakan potensi yang perlu diwaspadai, bukan prediksi mengenai kapan gempa akan terjadi.
Karena itu, masyarakat tidak perlu panik setiap kali muncul berita mengenai megathrust. Yang jauh lebih penting adalah memahami bahwa Indonesia memang memiliki risiko gempa yang tinggi dan kesiapsiagaan perlu dilakukan sebelum bencana terjadi.
Apa yang perlu dilakukan masyarakat
Tingginya aktivitas tektonik Indonesia membuat upaya mitigasi menjadi penting. Masyarakat dapat mulai dari hal sederhana, seperti mengenali jalur evakuasi di lingkungan tempat tinggal, mengetahui titik kumpul, memastikan bangunan cukup aman, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BNPB.
Ketika gempa terjadi, masyarakat juga perlu tetap tenang dan mengutamakan keselamatan. Jangan mudah percaya pada pesan berantai yang mengklaim dapat menentukan tanggal atau waktu gempa besar karena informasi semacam itu tidak memiliki dasar ilmiah yang dapat memastikan kejadian tersebut.
Pada akhirnya, banyaknya gempa yang terjadi di Indonesia bukanlah sesuatu yang mengejutkan jika melihat kondisi geologisnya. Posisi Indonesia yang berada di antara berbagai lempeng aktif membuat gempa menjadi bagian dari dinamika alam yang harus dihadapi.
Gempa Flores, Sulawesi Tengah, Aceh dan berbagai kejadian lainnya menjadi pengingat bahwa risiko tersebut nyata. Sementara istilah megathrust perlu dipahami sebagai potensi sumber gempa besar, bukan sebagai ramalan bahwa gempa besar akan segera terjadi.
Dengan memahami kondisi tersebut, masyarakat diharapkan tidak hidup dalam ketakutan, tetapi lebih siap menghadapi gempa kapan pun terjadi.
Baca juga: Pemerintah pastikan pacu penanganan gempa NTT dan karhutla Kalimantan
Baca juga: Pemerintah siapkan layanan pendaftaran relawan penanganan gempa NTT
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.