Ketika Harta Menjadi Cermin Iman, Mengapa Ibadah Harta Penting Bagi Jiwa, Akal, dan Masyarakat |Republika Online

Oleh: Mohan, Plt Kepala Divisi Pengumpulan Usaha Jasa dan Perdagangan BAZNAS RI
REPUBLIKA.CO.ID, Di tengah kehidupan modern yang menjadikan kekayaan, konsumsi, dan keberhasilan material sebagai salah satu ukuran kesuksesan, ada pertanyaan mendasar yang layak kita renungkan: untuk apa sebenarnya Allah memberikan harta kepada manusia?
Apakah harta hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, membangun kekayaan, meningkatkan status sosial, dan diwariskan kepada keturunan? Ataukah di dalam harta terdapat dimensi ibadah dan tanggung jawab sosial yang harus ditunaikan?
Dalam Islam, jawabannya sangat jelas. Harta bukan sekadar instrumen ekonomi. Harta adalah amanah. Karena itu, hubungan manusia dengan harta tidak hanya berbicara tentang bagaimana memperoleh dan menggunakannya, tetapi juga tentang bagaimana mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.
Al-Qur'an mengingatkan, “Infakkanlah sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya.” (QS. Al-Hadid: 7).
Ayat ini mengandung perspektif yang fundamental: manusia memang memiliki hak untuk memiliki dan mengelola harta, tetapi kepemilikan manusia bukanlah kepemilikan absolut.
Pada hakikatnya, Allah adalah pemilik segala sesuatu. Karena itu, Islam mengenal apa yang dapat kita sebut sebagai ibadah harta: zakat sebagai kewajiban, serta infak, sedekah, wakaf dan berbagai bentuk pengeluaran harta yang dibenarkan syariat.
Zakat Bukan Sekadar Memberi
Kesalahan yang sering terjadi adalah memahami zakat hanya sebagai aktivitas memberikan uang kepada orang miskin. Cara pandang ini terlalu sederhana.
Zakat adalah ibadah. Allah berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103).
Perhatikan dua kata yang digunakan Al-Qur'an, tuthohhiruhum dan tuzakkihim—membersihkan dan mensucikan. Artinya, objek zakat bukan hanya harta, tetapi juga manusia yang memiliki harta.
Di sinilah letak dimensi spiritual zakat. Zakat mendidik manusia agar tidak diperbudak oleh hartanya sendiri.
Manusia membutuhkan harta, tetapi tidak boleh menjadikan harta sebagai Tuhan baru dalam kehidupannya. Harta boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menguasai hati.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa manusia memiliki kecenderungan mencintai harta dan kehidupan dunia. Al-Qur'an bahkan memperingatkan, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1).
Maka zakat sesungguhnya adalah latihan untuk melepaskan sebagian sesuatu yang dicintai demi sesuatu yang lebih tinggi nilainya: ridha Allah dan kemaslahatan manusia.
Ibadah Harta dan Penyucian Hati
Jika shalat mendidik manusia untuk tunduk melalui jasad dan gerakan ibadah, maka zakat menguji ketundukan manusia melalui sesuatu yang sangat dicintainya: harta.
Seseorang mungkin mudah berbicara tentang keimanan, kesalehan dan kepedulian sosial. Namun, ketika sampai pada harta, di situlah kualitas batin seseorang diuji.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.