peezycoineth.vip

Kolaborasi teknologi dan budaya dalam penguatan produksi tenun tradisional Desa Limboro, Kabupaten Donggala

2026-09-29 03:46

Kolaborasi teknologi dan budaya dalam penguatan produksi tenun tradisional Desa Limboro, Kabupaten Donggala

Selasa, 29 September 2026 10:46 WIB

Image Print

Alat teknologi sensor sederhana pada tenun gedogan bagi Penenun Desa Limboro, Donggala. Foto dokumentasi Anita Ahmad Kasim

Donggala, Sulteng (ANTARA) - Di pesisir Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, terdapat sebuah desa yang menyimpan kekayaan budaya yang hingga kini masih bertahan di tengah perkembangan zaman. Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil Tenun Donggala yang masih diproduksi menggunakan alat tenun gedogan tradisional. Bagi masyarakat Limboro, menenun bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di desa ini, keterampilan menenun diwariskan dari ibu kepada anak perempuan sejak usia muda. Setiap helai kain yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai jual, tetapi juga mengandung makna budaya, filosofi kehidupan, serta kebanggaan masyarakat Donggala. Motif-motif khas seperti Buya Subi, Buya Bomba, Buya Cura, dan Buya Awi menjadi simbol kekayaan budaya yang terus dipertahankan hingga saat ini.

Salah satu kelompok yang masih aktif menjaga tradisi tersebut adalah Kelompok Tenun Subi MELATI, yang beranggotakan sepuluh perempuan penenun. Kelompok ini menjadi wadah bagi para ibu rumah tangga untuk menghasilkan produk tenun sekaligus menjaga eksistensi budaya lokal di tengah masuknya produk tekstil modern. Namun, seperti banyak kelompok usaha tradisional lainnya, mereka menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan kualitas dan meningkatkan kapasitas produksi. Aktivitas menenun masih dilakukan secara tradisional menggunakan alat tenun gedogan yang diwariskan turun-temurun.


Tenun Limboro: karya tangan yang mengandalkan ketelitian

Berbeda dengan industri tekstil modern yang menggunakan mesin, proses pembuatan Tenun Donggala membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi. Seorang penenun dapat menghabiskan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu lembar kain, tergantung tingkat kerumitan motif yang dibuat.

Dalam proses tersebut, setiap detail harus diperhatikan. Ketegangan benang harus dijaga agar tidak terlalu kendor maupun terlalu tegang. Penenun juga harus menghitung setiap pengulangan motif secara manual agar pola yang dihasilkan tetap simetris. Kesalahan kecil dapat menyebabkan motif bergeser dan memaksa penenun mengulang sebagian pekerjaan yang telah dilakukan. Kondisi ini diperberat oleh keterbatasan sarana produksi. Kelompok Tenun Subi MELATI memiliki sepuluh anggota aktif, tetapi hanya didukung enam unit alat tenun gedogan. Akibatnya, anggota kelompok harus bergantian menggunakan alat sehingga kapasitas produksi belum mampu memenuhi potensi permintaan pasar secara optimal. Rumah produksi kelompok menjadi pusat aktivitas para penenun dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Donggala.

Ketika teknologi bertemu tradisi

Melihat potensi dan tantangan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tadulako melalui dukungan pendanaan Program Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menghadirkan inovasi berupa penerapan teknologi sensor sederhana pada alat tenun gedogan. Yang menarik, teknologi ini tidak dirancang untuk menggantikan peran penenun. Tidak ada mesin otomatis yang mengambil alih proses menenun. Sebaliknya, teknologi hadir sebagai alat bantu yang membantu penenun menjaga konsistensi kualitas hasil tenun. Pendekatan ini dipilih karena keberhasilan pelestarian budaya harus tetap menghormati nilai-nilai tradisional yang telah mengakar di masyarakat.

Perangkat yang dikembangkan menggunakan mikrokontroler ESP32-S3, sensor gerak MPU6050, dan layar pintar Nextion yang dipasang pada alat tenun gedogan. Sistem ini mampu mendeteksi aktivitas tenun dan menampilkan progres pengerjaan motif secara visual sehingga penenun dapat lebih mudah memantau perkembangan pekerjaannya. Proses pengembangan perangkat dilakukan dengan menyesuaikan karakteristik alat tenun tradisional yang digunakan masyarakat.

Menjaga keindahan motif khas Donggala

Salah satu kekuatan utama Tenun Donggala terletak pada motifnya yang kaya nilai filosofis. Namun, mempertahankan ketepatan motif bukanlah pekerjaan mudah. Kesalahan menghitung baris atau pengulangan pola dapat mengubah bentuk motif dan menurunkan nilai estetika kain. Melalui sistem monitoring yang dikembangkan, penenun memperoleh alat bantu visual untuk memantau progres motif secara lebih sistematis. Inovasi ini memberikan dukungan bagi penenun dalam menjaga ketepatan pola tanpa menghilangkan keterampilan tradisional yang selama ini menjadi ciri khas proses menenun.

Selain itu, program juga menghasilkan standar mutu dan checklist pemeriksaan kualitas produk yang meliputi kondisi benang, kerapatan kain, ketepatan motif, ukuran produk, serta cacat produksi. Standar ini menjadi langkah penting untukmembantu kelompok mempertahankan kualitas yang lebih konsisten.

Meningkatkan keberdayaan perempuan Desa

Bagi masyarakat Limboro, tenun bukan sekadar produk budaya. Aktivitas menenun juga menjadi sumber pendapatan keluarga dan sarana pemberdayaan perempuan. Sebagian besar anggota Kelompok Tenun Subi MELATI adalah ibu rumah tangga yang memanfaatkan keterampilan menenun untuk membantu meningkatkan ekonomi keluarga.

Oleh karena itu, peningkatan kualitas dan produktivitas tenun akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Melalui program ini, kelompok memperoleh tambahan sarana produksi yang diharapkan mampu memperluas akses anggota terhadap alat tenun dan meningkatkan kapasitas produksi kelompok secara bertahap.

Penambahan alat tenun menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas kelompok penenun. Selain peningkatan sarana, anggota kelompok juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pengendalian mutu, nilai tambah produk, dan keterkaitan kualitas dengan harga jual. Hal ini menjadi bekal penting untuk memperkuat daya saing produk Tenun Donggala di pasar yang lebih luas.

Sosialisasi dan pelatihan penerapan Teknologi Sendor pada Alat Tenun Gedogan Penenun Melati Desa Limboro Donggala. Foto dokumentasi Anita Ahmad Kasim

Menjaga warisan, menyongsong masa depan

Pengalaman Kelompok Tenun Subi MELATI menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan pemanfaatan teknologi tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan untuk menciptakan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia telah memberikan dukungan pendanaan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Hibah BIMA Tahun 2026 sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Universitas Tadulako melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) atas dukungan dan fasilitasi selama pelaksanaan program.

Teknologi yang diterapkan dalam program ini bukanlah simbol modernisasi yang menggerus tradisi, melainkan jembatan yang menghubungkan warisan budaya dengan kebutuhan zaman. Dengan dukungan teknologi yang tepat, Tenun Donggala dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya sebagai produk budaya yang autentik. Desa Limboro memberikan pelajaran penting bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Justru melalui kolaborasi antara teknologi dan budaya, warisan leluhur dapat terus hidup, memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, serta menjadi kebanggaan daerah yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Penulis: Anita Ahmad Kasim; Muhammad Bakri; Sri Dewi Fitrianigsih

Pewarta : Anita Ahmad Kasim
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026