Korea Selatan dilema soal Selat Hormuz, warga justru protes
Korea Selatan sedang mempertimbangkan kemungkinan berkontribusi dalam menjaga keamanan Selat Hormuz. Mengutip Yonhap News (08/9), pemerintah Korea Selatan mengirim tim ke Uni Emirat Arab untuk melihat kondisi lapangan, tetapi belum memutuskan pengarahan pasukan lebih lanjut.
Dilema ini berada pada dua timbangan atas pentingnya pasokan minyak global untuk ekonomi dan keamanan nasional dengan tekanan dari Amerika Serikat agar sekutunya turut berpartisipasi.
Di tengah pertimbangan keterlibatan pemerintah di Selat Hormuz, warga Korea Selatan justru turun ke jalan menolak kemungkinan pengarahan militer. Sekitar 60 orang ikut dalam aksi tersebut menurut estimasi AFP (09/9).
Mengapa Korea Selatan mempertimbangkan keterlibatan di Hormuz?
Berdasarkan laporan Yonhap News (09/9), Presiden AS Donald Trump beberapa kali menekan Korea Selatan agar berkontribusi dalam menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Namun, Seoul belum mengambil keputusan final sampai saat ini.
Hormuz bukan sekadar wilayah konflik yang jauh dari Korea Selatan. Jalur ini penting bagi perdagangan energi dan impor Korea Selatan dengan 61% impor minyak mentah dan 54% impor nafta. Kepentingan ekonomi atau energi ini yang membuat Seoul tidak bisa begitu saja mengabaikan situasi.
Namun, membantu menjaga jalur pelayaran juga berarti Seoul harus berhadapan dengan risiko lain.
Iran sudah peringatkan Korea Selatan
Iran memperingatkan bahwa kehadiran atau partisipasi militer negara lain di Teluk Persia dan Selat Hormuz akan dianggap sebagai dukungan langsung terhadap pihak yang dianggap melakukan agresi.
Begitu pun, Tehran ikut memperingati adanya konsekuensi serius. Bagi Seoul, persoalan keterlibatan militer ini bukan hanya memengaruhi hubungannya dengan Washington, tetapi juga membuat Korea Selatan ikut terseret lebih jauh ke dalam konflik.
Warga Korea Selatan Turun Ke Jalan
Pada 9 September, Channel News Asia melaporkan bahwa puluhan warga melakukan aksi di Seoul. Mereka berada di sekitar kompleks Kedutaan Besar dan membawa pesan “Do not join a war of aggression” serta menyerukan agar pemerintah tidak mengirim pasukan.
Beberapa aktivis mengatakan bahwa pengerahan pasukan akan berarti keterlibatan langsung dan pengerahan tersebut dapat menyebabkan korban jiwa.
Keputusan Seoul Masih Belum Final
Pemerintah menegaskan tim yang dikirim ke UAE bertugas menilai situasi dan tidak dikirim dengan keputusan pengerahan militer yang sudah ditetapkan (Yonhap News, 08/9). Jika Korea Selatan benar-benar mengerahkan angkatan bersenjata, keputusan tersebut membutuhkan persetujuan parlemen.
Seoul harus mempertimbangkan hubungan strategis dengan Washington dan kepentingan keamanan jalur energi. Di samping itu, ancaman Iran dan penolakan dari sebagian masyarakat membuat keputusan tersebut tidak sederhana.
Bagi Korea Selatan, Selat Hormuz bukan hanya persoalan keamanan pelayaran. Keputusan untuk terlibat atau tidak juga menyentuh hubungan dengan Amerika Serikat, risiko berhadapan dengan Iran, hingga perdebatan di dalam negeri sendiri.