Laba BFI Finance (BFIN) Naik 34%, Analis Kerek Target Laba per Saham Usai Beban Turun
ILUSTRASI. Penyaluran Pembiayaan (KONTAN/Baihaki)
Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mencatatkan kinerja yang lebih kuat pada kuartal II 2026. Laba bersih BFIN melonjak 34% secara kuartalan menjadi Rp 475 miliar, didorong oleh penurunan signifikan beban pencadangan yang mencerminkan membaiknya kualitas aset.
Secara kumulatif, laba bersih semester I 2026 mencapai Rp 829 miliar atau tumbuh 8,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut telah mencapai sekitar 54% dari proyeksi tahunan CGS International Sekuritas Indonesia dan 51% dari konsensus Bloomberg.
Analis CGS International Sekuritas Indonesia, Handy Noverdanius dalam riset 27 Juli 2026 mengatakan capaian laba BFI Finance pada paruh pertama tahun ini berada di atas ekspektasi pihaknya, terutama karena beban pencadangan turun lebih besar dari perkiraan.
Baca Juga: Laba Bersih Indosat (ISAT) Naik 84,5% pada Semester I-2026
"Kinerja semester I 2026 berada di atas proyeksi kami karena beban pencadangan yang lebih rendah. Penurunan ini ditopang oleh berakhirnya dampak musiman setelah Lebaran, penyesuaian strategi penagihan, serta penerapan standar underwriting yang tetap ketat," ujar Handy dalam riset.
Hingga akhir 2026, BFIN diperkirakan bisa mengantongi laba sebesar Rp 1,63 triliun. Sedangkan laba bersih BFIN di 2027 sebesar Rp 1,84 triliun.
Pada kuartal II 2026, beban pencadangan turun 48% dibandingkan kuartal sebelumnya. Perbaikan tersebut turut didukung oleh menurunnya kerugian dari aset hasil penarikan (repossession), yang membaik dari sekitar 9% pada kuartal I menjadi sekitar 7% pada kuartal II.
Di sisi pendanaan, BFI Finance juga dinilai mampu menjaga efisiensi biaya dana alias cost of fund (CoF) di tengah tren suku bunga yang masih tinggi. Biaya dana perseroan tercatat turun 20 basis poin secara tahunan menjadi 6,9% pada kuartal II 2026.
Perbaikan kualitas aset juga tercermin dari penurunan biaya kredit alias cost of credit (CoC). Pada kuartal II 2026, CoC turun 276 basis poin secara kuartalan menjadi 3%, sedangkan secara semesteran berada di level 4,4% atau turun 27 basis poin dibandingkan tahun lalu.
Manajemen BFI Finance menyebut portofolio anak usaha yang sebelumnya menjadi sumber tekanan kualitas aset telah berhasil dibersihkan. Segmen leasing yang sempat menjadi penyebab utama memburuknya kualitas pembiayaan pada kuartal I juga telah memperoleh pencadangan yang memadai sehingga risiko kejutan negatif dinilai semakin kecil.
Sejalan dengan kondisi tersebut, perusahaan ini merevisi target CoC sepanjang 2026 menjadi di bawah 4%, lebih rendah dibandingkan panduan sebelumnya di kisaran 4,1%-4,5%.
Baca Juga: Asing Net Sell Jumbo Rp 1 Triliun, Cek Saham yang Banyak Dilego, Selasa (28/7)
Meski demikian, pertumbuhan bisnis pembiayaan diperkirakan masih akan berlangsung lebih moderat. Hingga semester I 2026, managed receivables tercatat sebesar Rp 26,5 triliun, turun 1% dibandingkan kuartal sebelumnya namun masih tumbuh 3,6% secara tahunan. Sementara itu, nilai pembiayaan baru (new bookings) pada kuartal II turun 6,5% secara kuartalan menjadi Rp 5,2 triliun.
Menurut Handy, manajemen kini lebih berhati-hati dalam menyeimbangkan pertumbuhan pembiayaan dengan kualitas aset.
"Manajemen memperkirakan pertumbuhan managed receivables sekitar 5% pada 2026, lebih rendah dibandingkan target sebelumnya yang berada di kisaran belasan persen. Namun, pertumbuhan masih berpotensi lebih tinggi apabila kondisi makroekonomi membaik," jelasnya.
Mencermati perbaikan kualitas aset yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan, CGS International Sekuritas Indonesia menaikkan proyeksi laba per saham (EPS) BFI Finance untuk 2026-2027 sebesar 7,5%-12,2% dengan asumsi biaya kredit yang lebih rendah.
CGS tetap mempertahankan rekomendasi add terhadap saham BFIN dengan target harga Rp 1.000 per saham. Harga saham BFIN naik 8,33% di Rp 845 per saham pada Selasa (28/7/2026).
Handy menilai katalis positif bagi saham BFIN ke depan berasal dari potensi peningkatan permintaan pembiayaan dan perbaikan kualitas aset yang lebih cepat dari perkiraan. Adapun risiko yang perlu dicermati antara lain pelemahan kondisi makroekonomi, memburuknya kualitas aset, serta semakin ketatnya persaingan di industri pembiayaan.
Baca Juga: IHSG Turun 5 Hari Beruntun, Asing Banyak Memburu Saham-Saham Ini, Selasa (28/7)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag