peezycoineth.vip

Langkah PBNU Terima Konsesi Tambang Dinilai Kontradiktif dengan Jargon 'Merawat Jagad'

2026-08-15 09:39

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 16:39 WIB

Jakarta, VIVA – Langkah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan Rois Aam KH. Miftachul Akhyar dan Ketua Umum KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menerima konsesi tambang terus menuai sorotan tajam. 

Baca Juga

Pengasuh Pondok Pesantren Ekologi sekaligus Ketua Partai Hijau, KH Roy Murtadho (Gus Roy), menilai keputusan tersebut tidak selaras dengan jargon yang kerap disuarakan Gus Yahya, yaitu “Merawat Jagad, Membangun Peradaban.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kritik tersebut disampaikan Gus Roy saat ia hadir sebagai pembicara dalam acara Rembug Warga NU Seri 5 bertema “Tambang Ormas NU: Menimbang Fikih, Kemandirian Ekonomi, Keadilan Gender, dan Keberlanjutan Lingkungan”. 

Baca Juga

Diskusi ini diselenggarakan di Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, Institut Pertanian Bogor (IPB), pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

“Ini menyedihkan. Cukup sentimentil dan melankolis, tapi memang harus diutarakan secara terbuka, secara dewasa. Terutama bagi kami santri NU yang punya pengalaman mengadvokasi dan meneliti problem-problem sosio-ekologis,” ungkap Gus Roy.

Baca Juga

Kekecewaan Gus Roy sangat beralasan. Ia memiliki pengalaman langsung turun ke lapangan, khususnya di Kalimantan, untuk melakukan riset, pendampingan, hingga memproduksi film dokumenter bersama PusDok terkait isu sosial-ekologis. Di sana, ia melihat dengan mata kepala sendiri penderitaan masyarakat akibat industri ekstraktif.

“Saya berjumpa langsung dengan orang-orang korban tambang, bagaimana mereka digusur, dihancurkan ruang hidupnya dan tidak mendapat perlindungan apa pun,” kisahnya.

Berbagai upaya telah ia lakukan untuk memperjuangkan nasib para korban dengan mendatangi berbagai instansi pemerintah, meski kerap berakhir buntu. Di tengah perjuangan tersebut, langkah PBNU yang justru terjun ke pusaran bisnis tambang menjadi pukulan telak baginya.

“Sudah banyak mengetuk sana-sini, instansi pemerintah, tetapi diabaikan. Saya sebagai santri NU terus terang sentimentil dan kecewa berat dengan keputusan PBNU menerima konsesi tambang,” tuturnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di satu sisi, Gus Roy sejatinya sangat mengapresiasi visi besar "Merawat Jagad, Membangun Peradaban". Namun, realitas di lapangan memperlihatkan adanya jurang pemisah yang lebar antara narasi dan praktik berorganisasi PBNU saat ini.

“Tapi semakin ke sini, kata anak-anak sekarang, kok semakin ke sono. Praktiknya tidak menunjukkan ‘Merawat Jagad, Membangun Peradaban’. Ini yang harus menjadi koreksi bersama,” tegasnya.

Halaman Selanjutnya

Lebih jauh, Gus Roy menyoroti urgensi bagi NU untuk memahami kondisi krisis abad ke-21. Merujuk pada pemikiran akademis seperti karya John Bellamy Foster tentang dampak destruktif kapitalisme berbasis fosil, ia mengingatkan bahwa kerusakan alam akibat tambang sudah berada pada tahap yang sangat mengkhawatirkan.