peezycoineth.vip

Lansia Perlu Waspada, Ketahui Penyakit Mata yang Diam-Diam Sebabkan Kebutaan

2026-07-18 11:03

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:03 WIB

VIVA – Glaukoma menjadi salah satu penyakit mata yang perlu diwaspadai, terutama oleh kelompok lanjut usia (lansia). Penyakit ini dikenal sebagai salah satu penyebab utama kebutaan permanen di dunia karena sering berkembang tanpa menimbulkan gejala pada tahap awal. Akibatnya, banyak penderita baru menyadari kondisinya ketika kerusakan pada saraf mata sudah terjadi dan tidak dapat dipulihkan.

Baca Juga

Karena itu, deteksi dini melalui pemeriksaan mata secara rutin menjadi langkah penting untuk mencegah kehilangan penglihatan. Di tengah meningkatnya populasi lansia, jumlah penderita glaukoma diperkirakan akan terus bertambah sehingga kesadaran masyarakat mengenai penyakit ini perlu semakin ditingkatkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Glaukoma merupakan salah satu penyakit mata paling serius di bidang oftalmologi. Saat ini glaukoma menyebabkan sekitar 40 persen kasus kebutaan yang tercatat di Singapura. Seiring bertambahnya populasi lansia, ancaman penyakit ini juga meningkat dengan sangat pesat.

Baca Juga

Risiko Glaukoma Meningkat Seiring Pertambahan Usia

Risiko seseorang mengalami glaukoma memang meningkat seiring bertambahnya usia. Data di Singapura menunjukkan sekitar lima persen penduduk berusia di atas 60 tahun hidup dengan glaukoma. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat hingga lebih dari 85.000 penderita pada tahun 2040.

Baca Juga

Meski usia menjadi faktor risiko utama, glaukoma tidak hanya menyerang lansia. Beberapa kondisi lain juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit ini.

Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor risiko yang tidak boleh diabaikan.

"Riwayat keluarga merupakan faktor penting. Seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan glaukoma dapat memiliki risiko hingga empat kali lebih tinggi untuk mengalami penyakit yang sama," jelas Head & Senior Consultant Singapore National Eye Centre (SNEC), Assoc Prof Shamira Perera.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain faktor genetik, rabun jauh berat atau miopia tinggi, terutama dengan minus lebih dari enam, juga diketahui meningkatkan risiko glaukoma. Bentuk bola mata yang lebih memanjang membuat serabut saraf optik lebih rentan mengalami kerusakan akibat tekanan di dalam mata.

Penggunaan obat kortikosteroid dalam jangka panjang, baik dalam bentuk obat minum, krim, obat tetes mata, maupun semprotan hidung, juga perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko terjadinya glaukoma.

Halaman Selanjutnya

Dijuluki "Pencuri Penglihatan dalam Diam"