peezycoineth.vip

Literasi Asuransi Naik di 42,82%, tapi Inklusi Masih Jauh, Ini Kata Asuransi Asei

2026-08-18 11:24

ILUSTRASI. Asuransi Asei Indonesia (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)

Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 mencatat, tingkat literasi sektor sektor perasuransian mencapai 42,84%, sedangkan inklusinya 29,55%. Tingkat literasinya terbilang sudah cukup masif, tetapi inklusinya masih ketinggalan. Terlihat dari gap-nya yang masih jauh atau lebar. 

Mengenai hal itu, PT Asuransi Asei Indonesia menyebut ada sejumlah tantangan yang dirasakan industri perasuransian dalam menyeimbangkan literasi dan inklusi. 

Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe menerangkan tantangan terbesar industri untuk menyeimbangkan literasi dan inklusi adalah mengubah awareness menjadi action. Menurutnya, industri asuransi sudah cukup banyak melakukan edukasi, tetapi tantangan berikutnya adalah edukasi tersebut menghasilkan perubahan perilaku. 

Baca Juga: Jamkrindo Seimbangkan Pertumbuhan Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial

"Oleh karena itu, masyarakat harus sampai pada tahap saya memahami risiko, saya menyadari kebutuhan proteksi, lalu saya menemukan produk yang sesuai, saya mampu membelinya, kemudian saya percaya kepada perusahaan, dan saya menggunakan produk tersebut secara berkelanjutan," ungkapnya kepada Kontan, Senin (17/8/2026).

Dody menyebut tantangan lainnya, yakni keterjangkauan produk yang harus sesuai dengan daya beli masyarakat, tanpa mengorbankan kualitas proteksi dan kesehatan industri. 

Selain itu, tantangan lain datang dari kesederhanaan produk dan komunikasi. Dody menyampaikan produk yang kompleks membutuhkan komunikasi yang jauh lebih baik agar tidak menimbulkan kesenjangan antara ekspektasi nasabah dan manfaat polis. 

Dia juga bilang perlunya distribusi dan akses memadai, sehingga harus dapat menjangkau masyarakat di luar pusat-pusat ekonomi melalui kanal digital maupun kolaborasi dengan ekosistem lokal.

Kepercayaan masyarakat juga diperlukan, yang mana industri harus konsisten memperbaiki transparansi, pelayanan, dan proses klaim.

Dody menerangkan perusahaan asuransi harus fokus menerapkan kesesuaian produk dengan kebutuhan nyata. Dia bilang jangan sampai peningkatan inklusi hanya berarti makin banyak polis terjual, tetapi produknya tidak benar-benar sesuai dengan profil risiko masyarakat.

"Ditambah, perlunya kolaborasi ekosistem. Industri tidak mungkin bekerja sendiri, sehingga pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perusahaan asuransi, perbankan, fintech, asosiasi usaha, komunitas, dan dunia pendidikan perlu bergerak bersama," tuturnya.

Lebih lanjut, Dody berpendapat gap literasi dan inklusi sebagai pekerjaan rumah sekaligus peluang bagi perasuransian. Dia mengatakan literasi yang sudah meningkat merupakan modal awal yang sangat baik.

Baca Juga: Bank Mega Perluas Ekosistem Pembayaran Lewat Kartu Kredit Indonesia

Oleh karena itu, tahap berikutnya adalah memastikan pengetahuan tersebut berubah menjadi perilaku pengelolaan risiko yang lebih baik. 

"Dengan demikian, arah pengembangan industri ke depan seharusnya bukan sekadar lebih banyak orang tahu asuransi, tetapi lebih banyak masyarakat yang terlindungi oleh asuransi yang sesuai dengan kebutuhannya," kata Dody.

Berdasarkan laporan keuangan di situs resmi, Asuransi Asei mencatatkan premi bruto sebesar Rp 498,64 miliar per Juni 2026. Adapun laba bersih tercatat sebesar Rp 3,97 miliar per Juni 2026. 

Sebagai informasi, Hasil SNLIK 2026 menunjukkan, tingkat literasi keuangan nasional mencapai 69,57%, atau meningkat dari SNLIK 2025 yang sebesar 66,54%. Adapun indeks tingkat inklusi keuangan mencapai 93,61% pada SNLIK 2026, meningkat dari SNLIK 2025 yang sebesar 92,74%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag

  • PT Asuransi Asei Indonesia
  • Asuransi Asei