Makanan yang Tidak Boleh Dimakan Penderita Usus Buntu, Apa Saja?
Jika tidak segera mendapatkan penanganan, usus buntu dapat pecah dan menyebabkan infeksi serius di dalam rongga perut. Karena itu, pengaturan makanan tidak boleh digunakan sebagai pengganti pemeriksaan dan pengobatan medis.
Baca Juga: Alami Usus Buntu dan Positif Covid-19, 5 Fakta Kondisi Kesehatan Jimin BTS
Lantas, makanan apa saja yang sebaiknya dihindari oleh penderita usus buntu?
Makanan yang Sebaiknya Dihindari Penderita Usus Buntu
Pada orang yang baru menjalani operasi usus buntu, sistem pencernaan dapat membutuhkan waktu untuk kembali bekerja secara normal. Dokter biasanya menyarankan pasien mengonsumsi makanan secara bertahap sesuai kemampuan tubuh dalam menerimanya.
Berikut beberapa jenis makanan yang sebaiknya dibatasi, khususnya pada masa awal pemulihan.
1. Makanan Berminyak dan Gorengan
Gorengan, makanan cepat saji, makanan yang digoreng dengan banyak minyak, serta makanan tinggi lemak sebaiknya tidak langsung dikonsumsi dalam jumlah banyak setelah operasi.
Makanan tersebut dapat terasa lebih berat bagi sistem pencernaan yang masih dalam proses pemulihan. Karena itu, pasien dapat memilih makanan yang dimasak dengan cara direbus, dikukus atau diolah hingga memiliki tekstur lebih lunak.
Panduan diet setelah operasi saluran pencernaan juga memasukkan makanan yang digoreng sebagai salah satu makanan yang perlu dihindari dalam tahap diet ringan.
2. Makanan Pedas
Sambal, cabai dan makanan dengan tingkat kepedasan tinggi sebaiknya dibatasi apabila menyebabkan rasa tidak nyaman pada perut.
Tidak semua pasien akan memiliki reaksi yang sama terhadap makanan pedas. Namun, selama saluran pencernaan masih sensitif setelah operasi, memilih makanan dengan bumbu yang lebih sederhana dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
3. Makanan Tinggi Serat pada Awal Pemulihan
Serat sebenarnya merupakan bagian penting dari pola makan sehat. Namun, setelah operasi saluran pencernaan, konsumsi makanan tinggi serat terkadang perlu dibatasi untuk sementara.
Panduan dari University Hospitals Sussex NHS Foundation Trust menyebutkan bahwa selama satu hingga dua minggu pertama setelah operasi pada saluran pencernaan, pola makan rendah serat kemungkinan lebih mudah ditoleransi.
Contoh makanan yang dapat dibatasi pada tahap ini antara lain:
nasi merah;
roti gandum utuh;
pasta gandum;
biji-bijian utuh;
quinoa;
kacang-kacangan;
makanan dengan banyak biji atau kulit.
Setelah kondisi pencernaan membaik, makanan tinggi serat dapat diperkenalkan kembali secara bertahap sesuai toleransi tubuh dan anjuran tenaga medis.
4. Sayuran Mentah dan Berserat Keras
Sayuran tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Namun, pada tahap awal pemulihan, sayuran mentah atau yang memiliki tekstur keras dapat lebih sulit ditoleransi.
Contohnya adalah sayuran yang memiliki kulit, biji atau bagian berserat seperti jagung, seledri, serta beberapa jenis sayuran mentah.
Sebagai alternatif, sayuran dapat dimasak hingga lunak dan dikonsumsi tanpa kulit atau biji.
5. Kacang-Kacangan dan Biji-Bijian
Kacang-kacangan, biji-bijian, popcorn dan makanan yang mengandung banyak biji juga dapat dibatasi pada masa awal pemulihan.
Makanan tersebut memiliki kandungan serat yang relatif tinggi sehingga dapat lebih sulit ditoleransi ketika sistem pencernaan belum sepenuhnya pulih.
Setelah kondisi membaik, makanan tersebut tidak selalu harus dihindari secara permanen. Konsumsinya dapat diperkenalkan kembali secara bertahap sesuai kondisi pasien.
Baca Juga: Anak Bisa Kena Usus Buntu, Apa Penyebabnya?
6. Buah dengan Kulit dan Banyak Biji
Buah merupakan sumber vitamin dan mineral yang baik. Namun, pada masa awal pemulihan, buah yang dikonsumsi sebaiknya memiliki tekstur lembut dan lebih mudah dicerna.
Pisang, misalnya, dapat menjadi salah satu pilihan. Buah lain dapat dikonsumsi setelah dikupas dan dibuang bijinya.
Panduan diet rendah serat setelah operasi merekomendasikan buah yang lembut, matang dan telah dikupas sebagai pilihan yang lebih mudah ditoleransi.
7. Daging yang Keras dan Berlemak
Daging yang alot, banyak urat atau memiliki kandungan lemak tinggi sebaiknya dibatasi pada tahap awal pemulihan.
Pasien dapat memilih sumber protein dengan tekstur lebih lembut, seperti telur, ikan atau ayam yang dimasak hingga lunak dan tidak terlalu berminyak.
Protein tetap penting selama masa pemulihan karena tubuh membutuhkan energi dan zat gizi untuk memperbaiki jaringan setelah operasi.
8. Minuman Bersoda dan Minuman yang Menimbulkan Ketidaknyamanan
Sebagian orang dapat mengalami kembung atau gangguan pencernaan setelah mengonsumsi minuman bersoda. Karena itu, jika minuman tersebut membuat perut terasa tidak nyaman, sebaiknya dihindari sementara.
Konsumsi minuman berkafein juga dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, terutama apabila menyebabkan gangguan pencernaan.
9. Alkohol
Alkohol sebaiknya dihindari selama masa pemulihan setelah operasi, terutama jika pasien masih mengonsumsi obat-obatan tertentu.
Pasien sebaiknya mengikuti instruksi dokter mengenai makanan, minuman dan obat yang aman dikonsumsi selama masa pemulihan.
Makanan yang Lebih Mudah Dikonsumsi Setelah Operasi Usus Buntu
Setelah mendapatkan izin untuk makan, pasien umumnya dapat mulai dengan makanan bertekstur lembut dan dalam jumlah kecil.
Beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan antara lain:
Dilansir dari my.clevelandclinic.org, pasien setelah operasi usus buntu mengonsumsi makanan lunak sampai saluran pencernaan dapat kembali menerima makanan padat dengan baik.
Makan Sedikit tetapi Lebih Sering
Pada awal masa pemulihan, pasien tidak harus langsung mengonsumsi makanan dalam porsi besar.
Makan dengan porsi kecil tetapi lebih sering dapat menjadi pilihan ketika nafsu makan belum kembali sepenuhnya. Rumah sakit juga dapat memberikan pola makan bertahap mulai dari cairan, makanan lunak atau diet ringan hingga kembali ke makanan biasa, tergantung kondisi pasien.
Selain memperhatikan makanan, pasien juga perlu mengikuti instruksi dokter mengenai aktivitas fisik, obat-obatan dan perawatan luka operasi.
Apakah Makanan Bisa Menyembuhkan Usus Buntu?
Makanan tidak dapat menggantikan pengobatan medis untuk radang usus buntu.
Apendisitis merupakan kondisi yang dapat berkembang menjadi serius apabila tidak ditangani. Ketika usus buntu pecah, infeksi dapat menyebar ke dalam rongga perut dan menyebabkan peritonitis.
Penanganan usus buntu dapat melibatkan operasi pengangkatan apendiks atau, pada kasus tertentu, penggunaan antibiotik berdasarkan penilaian dokter. Karena itu, seseorang yang dicurigai mengalami usus buntu sebaiknya tidak mencoba mengobatinya sendiri hanya dengan mengatur pola makan.
Kenali Gejala Usus Buntu
Beberapa gejala yang dapat muncul pada penderita usus buntu antara lain:
Gejala dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, diagnosis sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis melalui pemeriksaan fisik dan, bila diperlukan, pemeriksaan darah serta pencitraan seperti USG atau CT scan.
Makanan yang sebaiknya dihindari penderita usus buntu, terutama pada masa awal setelah operasi, antara lain makanan berminyak dan gorengan, makanan pedas apabila memicu keluhan, makanan tinggi serat, kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran mentah, buah dengan kulit atau banyak biji, serta makanan yang sulit dicerna.
Namun, makanan tersebut tidak harus dihindari secara permanen. Pembatasan makanan tinggi serat umumnya hanya dilakukan sementara pada masa pemulihan dan kemudian makanan dapat diperkenalkan kembali secara bertahap.
Yang paling penting, apabila seseorang mengalami nyeri perut kanan bawah yang semakin berat, demam, mual, muntah atau gejala lain yang mengarah pada usus buntu, jangan hanya mengandalkan perubahan pola makan.
Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Taqiyuddin Abdurrahman Leboe (Magang)