Mandy CJ Tuangkan Perjalanan Spritual dan Caranya Melihat Toleransi Agama Lewat Karya Seni
Bagikan:
JAKARTA - Seniman visual Mandy CJ belum lama ini berbicara mengenai perjalanan spiritual dan caranya melihat toleransi beragama. Hal tersebut disampaikannya melalui pameran tunggal karya seninya, yang bertajuk The Way Back.
Melalui pameran tersebut, Mandy mengeksplorasi sisi personalnya mengenai iman, identitas, dan pencarian makna yang lahir dari perjalanan spiritual yang panjang.
“Dalam perjalanan karya saya, ada fase awal ketika saya banyak mengekspresikan kemarahan, terutama terkait standar ganda yang ada dalam narasi keagamaan seperti fitur perempuan yang sering ditempatkan dalam dua ekstrem, Mary Magdalane atau Mother Mary, virgin atau whore,” kata Mandy CJ, pada keterangan resmi, Senin, 20 Juli 2026.
Namun, pamerannya tersebut bukan menghadirkan kritik terhadap agama, melainkan refleksi tentang kemungkinan rekonsiliasi antara iman dan pertanyaan yang muncul sepanjang perjalanan hidup.
Mandy menggunakan simbol-simbol yang berasal dari berbagai tradisi spiritual seperti Islam, Kristen, Buddha, dan kepercayaan lainnya. Ia menghadirkan ruang dialog yang menekankan nilai-nilai universal seperti cinta kasih, empati, kerendahan hati, dan toleransi.
“Seiring waktu, pendekatan saya berubah. Karya saya cenderung sangat literal, mengambil simbol keagamaan apa adanya. Saya juga mulai mengolah elemen-elemen dari berbagai tradisi spiritual seperti Islam, Katolik, hingga Buddha dan mengintegrasikannya menjadi satu kesatuan visual,” jelasnya.
Dalam karya-karya terbarunya, simbol yang berasal dari tradisi keagamaan tidak lagi hadir sebagai representasi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bahasa visual yang merekam perjalanan batin sang seniman.
BACA JUGA:
“Ini bukan lagi tentang kemarahan, melainkan perjalanan ke dalam diri dan mengolah semua pengalaman secara lebih utuh,” tambahnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh sang kurator pameran tersebut, Doni Ahmad. Ia menyebut bahwa The Way Back mengajak masyarakat untuk tidak melihat iman sebagai sesuatu yang kaku dan tertutup, melainkan sebagai ruang untuk berkembang melalui pengalaman hingga toleransi dengan orang lain.
“Kita kembali ke titik semula tetapi dengan sudut pandang yang sudah berbeda dan tentunya lebih toleran, karena kita mengambil langkah yang tidak banyak orang mau ambil untuk mencari tahu,” lanjut Doni Ahmad.
Sementara itu, pameran The Way Back menampilkan 16 karya lukisan yang dikerjakan menggunakan kombinasi medium spray paint, mixed media, dan acrylic. Berbagai karya tersebut dapat dilihat di Galeri C Project by Museum Of Toys (MOT) Wisma, Geha, 2nd Floor, Menteng, Jakarta, mulai 11 Juli hingga 15 Agustus 2026.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+