Marak WNA Berulah di Bali, Pengamat: Pengawasan Harus Libatkan Semua Pihak
Jakarta -
Pengawasan terhadap wisatawan mancanegara di Bali dinilai perlu diperkuat untuk menjaga kualitas pariwisata di Pulau Dewata.
Pengawasan itu tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum saja, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan pariwisata.
Saat dihubungi detikTravel, Jumat (31/7/2026) Pengamat Pariwisata, Taufan Rahmadi, menyampaikan tindakan pengawasan terhadap wisatawan asing harus dilakukan secara kolaboratif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, pemerintah, aparat, pelaku usaha, hingga masyarakat adat memiliki peran yang sama dalam menjaga Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia.
"Menurut saya pengawasan itu tidak bisa hanya mengandalkan aparat saja. Jadi harus ada kerja sama dengan berbagai instansi termasuk juga masyarakat, dalam hal ini pecalang-pecalang yang ada di sana, pelaku pariwisata sehingga semua stakeholder akan sama-sama menjaga destinasi," kata Taufan.
Selain pengawasan, Taufan menilai edukasi budaya kepada wisatawan mancanegara juga perlu diperkuat. Sebab, masih banyak wisatawan yang belum memahami aturan maupun nilai-nilai budaya yang berlaku selama berada di Bali.
Ia menilai edukasi sebaiknya diberikan bahkan sebelum wisatawan berangkat ke Indonesia. Dengan begitu, mereka sudah mengetahui hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan
saat berkunjung ke Bali.
"Apakah edukasi budaya perlu diperkuat? Sangat perlu menurut saya. Jadi banyak wisatawan itu perlu diedukasi diajarkan bahwa budaya tidak boleh dilanggar," tegas Taufan.
"Jadi mereka harus tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, sekali lagi edukasi harus diberikan sejak sebelum mereka melakukan perjalanan. Sejak dari negara asal mereka, apa yang harus diperhatikan dan apa yang harusnya tidak boleh dilakukan ketika berkunjung ke destinasi wisata, terlebih Bali," lengkapnya.
Di sisi lain, Taufan menilai keterbukaan Bali terhadap wisatawan dunia harus tetap diiringi dengan penegakan aturan yang konsisten. Menurutnya, kedua hal tersebut bukan sesuatu yang saling bertentangan.
Ia menyatakan kepatuhan wisatawan terhadap aturan dan budaya lokal menjadi bagian penting dalam menjaga prinsip quality tourism dan keberlanjutan pariwisata Bali.
"Bali harus tetap terbuka bagi wisatawan dunia tapi setiap wisatawan datang it wajib mematuhi hukum ya, menghormati kearifan budaya dan kearifan lokal, sehingga prinsip-prinsip quality tourism itu tetap terjaga ya sustainability-nya. Sehingga bisa meminimalisir pelanggaran-pelanggaran yang ada, jadi wisatawan yang datang adalah wisatawan yang berkualitas," tutupnya.
Dengan begitu, baginya pengawasan yang melibatkan seluruh pihak, edukasi yang dilakukan sejak sebelum perjalanan, serta penegakan aturan yang konsisten, pelanggaran oleh wisatawan mancanegara diharapkan dapat ditekan dan citra Bali sebagai destinasi wisata dunia tetap terjaga.
(upd/wsw)