Masuk Bursa Caketum PBNU, KH Zulfa Mustofa Siap Jalankan Amanah Jika Dikehendaki Muktamar
"Kalau itu permintaan dari pengurus cabang dan wilayah, saya tidak bisa menolak," ujar KH Zulfa.
Ia menegaskan bahwa proses pemilihan Ketua Umum PBNU tidak semata-mata merupakan kontestasi jabatan, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga persatuan, marwah organisasi, serta keberlanjutan peran Nahdlatul Ulama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baca Juga: KH Zulfa Mustofa Siap Maju Jadi Calon Ketum PBNU
Menurutnya, kepemimpinan di lingkungan NU merupakan amanah besar yang menuntut komitmen dalam menjaga tradisi keilmuan, membina umat, serta memperkuat kontribusi organisasi terhadap pembangunan bangsa.
"NU harus tetap menjadi kompas moral bangsa. Kepemimpinan bukan sekadar jabatan, tetapi amanah untuk menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemaslahatan umat," katanya.
KH Zulfa juga menekankan pentingnya menjaga posisi NU sebagai mitra kritis pemerintah. Ia menilai organisasi harus mendukung setiap kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat, sekaligus memberikan kritik secara konstruktif terhadap kebijakan yang dinilai belum memenuhi rasa keadilan.
"NU bukan oposisi, tetapi juga bukan sekadar menjadi stempel pemerintah. NU harus tetap independen dan menjalankan fungsi moralnya dalam kehidupan berbangsa," ujarnya.
Menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35, nama KH Zulfa Mustofa menjadi salah satu tokoh yang disebut-sebut masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Dukungan dari sejumlah pengurus wilayah maupun cabang dikabarkan terus mengalir seiring menguatnya aspirasi agar terjadi regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi.
Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin mengatakan aspirasi tersebut terus berkembang di berbagai daerah.
"Semakin banyak pengurus wilayah dan pengurus cabang yang menginginkan KH Zulfa maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU. Beliau dinilai memiliki kapasitas dan pengalaman untuk membawa NU menghadapi tantangan zaman," katanya.
Baca Juga: Ketum PBNU dan Muhammadiyah Dampingi Menlu Sugiono Kunjungi Iran, Hadiri Penghormatan untuk Ali Khamenei
Di sela kegiatan tersebut, KH Zulfa juga meluncurkan kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa, sebuah karya yang menghimpun empat pembahasan mengenai fikih, ushul fikih, fatwa kontemporer, serta sejarah intelektual Syekh Nawawi al-Bantani.
Ia berharap karya tersebut dapat memperkuat tradisi literasi di lingkungan pesantren dan mendorong lahirnya lebih banyak karya keilmuan dari kalangan ulama Indonesia.
Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan menjadi forum tertinggi organisasi untuk memilih kepemimpinan baru sekaligus merumuskan arah kebijakan NU dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, keagamaan, dan kebangsaan pada masa mendatang.