Masuknya musim hujan akhiri kekeringan meski El Nino bertahan 2027
Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan ancaman kekeringan di Indonesia diprediksi berakhir seiring masuknya musim hujan mulai Oktober - Desember 2026, meskipun fenomena El Nino di Samudra Pasifik diproyeksikan bertahan hingga kuartal I 2027.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, menjelaskan bahwa masyarakat perlu membedakan antara keberlangsungan fenomena El Nino di tingkat global dengan dampaknya terhadap kondisi iklim di tanah air.
"Dampak El Nino terhadap kekeringan di Indonesia akan selesai dengan masuknya musim hujan yang dimulai bertahap pada Oktober, November, hingga Desember, meskipun fenomena El Nino di Pasifik diprediksi bertahan hingga akhir kuartal pertama 2027," kata dia.
Ardhasena memaparkan, fenomena El Nino merupakan anomali suhu muka laut yang berpusat di Samudra Pasifik dan memiliki durasi siklus panjang yang mempengaruhi berbagai kawasan dunia dengan dampak yang berbeda-beda.
Di Indonesia, dampak utama El Nino berupa penekanan curah hujan dan kemarau panjang akan terhenti begitu sirkulasi angin monsun memasuki wilayah Nusantara dan memicu pembentukan awan hujan.
Baca juga: El Nino kuat, 98 ZOM yang biasa hujan sepanjang tahun ikut kekeringan
Sementara pada periode akhir tahun 2026 hingga awal 2027, dampak El Nino yang bertahan di Pasifik akan bergeser memengaruhi pola cuaca dan iklim di belahan bumi lainnya sesuai karakteristik geografis masing-masing kawasan.
Adapun puncak musim hujan diproyeksikan terkonsentrasi pada Desember 2026 (155 ZOM), Januari 2027 (162 ZOM), dan Februari 2027 (190 ZOM), dengan durasi musim hujan pada 482 ZOM diprediksi lebih pendek dari kondisi normal.
Meskipun durasinya lebih pendek, BMKG mencatat akumulasi curah hujan selama musim hujan 2026/2027 pada 510 ZOM (69,7 persen daratan) berada pada kategori normal dan 147 ZOM (18,5 persen daratan) di atas normal.
Untuk itu, BMKG menerbitkan serangkaian rekomendasi lintas sektor, mulai dari penyesuaian jadwal tanam varietas pendek di sektor pangan, optimalisasi daya tampung drainase dan waduk di sektor air serta energi, hingga penguatan mitigasi bencana hidrometeorologi dan penanganan risiko demam berdarah di sektor kesehatan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap mengacu pada pembaruan informasi resmi BMKG terkait transisi musim serta persiapan menghadapi potensi curah hujan di wilayah masing-masing.
Baca juga: Guru Besar: Fenomena El Nino dorong satwa liar perluas wilayah jelajah
Baca juga: WMO: El Nino menguat, risiko banjir dan kekeringan meningkat
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.