peezycoineth.vip

“Membangun Otot di Negeri Kertas” buka gagasan pembenahan olahraga

2026-09-03 06:20

Jakarta (ANTARA) - Buku "Membangun Otot di Negeri Kertas" karya mantan atlet judo nasional Sadik Algadri menawarkan gagasan pembenahan tata kelola olahraga Indonesia guna memperkuat ekosistem pembinaan dan menopang prestasi secara berkelanjutan.

"Saya percaya, prestasi internasional tidak lahir hanya dari atlet yang hebat. Prestasi membutuhkan ekosistem yang kuat," kata Sadik dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Menurut Sadik, Indonesia memiliki potensi atlet yang besar, namun pencapaian prestasi di tingkat internasional membutuhkan dukungan sistem yang menyeluruh, mulai dari pembinaan, kualitas pelatih, kompetisi, sport science, infrastruktur hingga pendanaan.

Melalui buku tersebut, ia mengajak berbagai pemangku kepentingan melihat pembangunan olahraga tidak hanya dari hasil pertandingan dan perolehan medali, tetapi juga dari kekuatan sistem yang menopang perjalanan atlet dalam jangka panjang.

Judul "Membangun Otot di Negeri Kertas" digunakan sebagai metafora mengenai pentingnya menerjemahkan berbagai konsep, regulasi dan program olahraga menjadi pelaksanaan yang memberikan dampak nyata.

Sementara istilah "otot" menggambarkan kekuatan yang diperlukan untuk membangun prestasi, mulai dari atlet berkualitas, pelatih kompeten, fasilitas memadai, kompetisi sehat, penerapan ilmu keolahragaan hingga tata kelola yang profesional.

"Saya ingin melihat atlet-atlet Indonesia berdiri sejajar dengan atlet terbaik dunia. Bukan sebagai pelengkap kompetisi. Bukan sekadar penggembira. Tetapi sebagai kekuatan yang diperhitungkan," ujar Sadik.

Baca juga: Kemenpora butuh Rp1,5 triliun untuk bangun akademi dan pusat pelatihan

Berbagai gagasan tersebut akan dibahas dalam bedah buku "Membangun Otot di Negeri Kertas" yang digelar di Gedung Serbaguna GBK, Jakarta, Sabtu (5/9).

Akademisi Rocky Gerung yang menjadi salah satu pembicara menilai Indonesia telah memiliki berbagai regulasi dan konsep dalam pembangunan olahraga nasional.

"Indonesia menumpuk regulasi, menerbitkan undang-undang, serta memproduksi jargon-jargon teknokratis yang megah, mulai dari sport science, long-term athlete development, hingga produk mutakhir berupa Desain Besar Olahraga Nasional (DBON)," kata Rocky.

Menurut Rocky, tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai konsep dan kebijakan tersebut dapat diterjemahkan secara konsisten dalam pelaksanaan sehingga memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan pembangunan olahraga.

Ia menilai hubungan antara perencanaan, kebijakan dan implementasi menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan daya saing olahraga Indonesia.

"Buku 'Membangun Otot di Negeri Kertas' bukan sekadar gagasan brilian, tapi juga solusi untuk meningkatkan prestasi olahraga nasional Indonesia," ujarnya.

Bedah buku tersebut juga menghadirkan wartawan senior olahraga Asro Kamal Rokan serta Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Yunyun Yudiana.

Asro akan memberikan perspektif jurnalistik berdasarkan pengalamannya mengikuti perjalanan olahraga nasional, termasuk mengenai peran media dalam mengawal pembinaan, prestasi, dan tata kelola olahraga.

Sementara Yunyun akan membahas aspek keilmuan olahraga, pendidikan, pembinaan atlet, sport science serta pengembangan sumber daya manusia olahraga.

Ketiganya akan berdialog dengan Sadik mengenai berbagai tantangan dan peluang untuk memperkuat sistem olahraga nasional agar mampu melahirkan prestasi secara konsisten di tingkat internasional.

Buku "Membangun Otot di Negeri Kertas" disunting oleh Asro Kamal Rokan dan Suryansyah.

Baca juga: Kemenpora ajukan Rp4,019 triliun untuk kebutuhan pembiayaan pada 2027

Baca juga: Kemenpora perkuat kolaborasi dalam pembinaan talenta olahraga

Pewarta: Muhammad Ramdan
Editor: Eka Arifa Rusqiyati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.