peezycoineth.vip

Mengapa Banyak Pendatang Tumbang di Tibet? Ini Rahasia Pengobatan Kuno yang Bertahan 1.000 Tahun |Republika Online

2026-08-01 04:15

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Begitu pintu pesawat dibuka di Bandara Gonggar, Lhasa, udara dingin langsung menyergap. Namun tantangan sesungguhnya bukan suhu, melainkan tipisnya oksigen di "atap dunia". Bagi pendatang dari dataran rendah, termasuk rombongan wartawan internasional yang berkunjung ke Daerah Otonom Xizang, Tiongkok, pada pertengahan Juli 2026, penyakit ketinggian (altitude sickness) menjadi ujian pertama sebelum mengenal lebih jauh peradaban Tibet.

Lhasa berdiri pada ketinggian sekitar 3.650 meter di atas permukaan laut, jauh berbeda dengan Beijing yang hanya sekitar 43 meter. Perubahan drastis itu membuat tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi terhadap kadar oksigen yang jauh lebih rendah. Akibatnya, sakit kepala, mual, pusing, tubuh lemas, hingga sulit tidur menjadi pengalaman yang hampir tak terelakkan bagi banyak pendatang. Bahkan seorang jurnalis asal Korea Selatan terpaksa menghentikan liputannya dan kembali ke Beijing karena kondisinya terus memburuk. Oksigen portabel menjadi perlengkapan yang hampir selalu dibawa selama perjalanan.

Dalam dunia medis, penyakit ketinggian bukan persoalan sepele. Gejalanya dapat berkembang dari sekadar sakit kepala menjadi gangguan serius akibat penumpukan cairan di paru-paru maupun otak apabila tidak segera ditangani. Karena itu, aklimatisasi dengan menaiki ketinggian secara bertahap menjadi cara paling efektif untuk mencegah kondisi tersebut. Namun bagi rombongan yang harus langsung menjalankan agenda padat, pilihan itu nyaris tidak tersedia.

Di tengah tantangan tersebut, masyarakat Tibet memiliki pendekatan yang diwariskan selama berabad-abad melalui sistem pengobatan tradisional Sowa Rigpa. Salah satu obat yang diberikan kepada rombongan wartawan adalah Bawei Chenxiang Wan, ramuan klasik yang berasal dari kitab The Four Tantras atau Empat Tantra, naskah kedokteran Tibet yang telah menjadi rujukan lebih dari seribu tahun dalam menangani berbagai gangguan yang berkaitan dengan hipoksia atau kekurangan oksigen.

Empat Tantra merupakan fondasi ilmu pengobatan Tibet yang memadukan warisan Ayurveda India, pengobatan tradisional Tiongkok, Persia, hingga Yunani kuno. Sistem ini berpijak pada keseimbangan tiga energi tubuh, yakni lung (angin), tripa (empedu), dan pekan (dahak). Ketidakseimbangan ketiganya diyakini menjadi penyebab munculnya penyakit sehingga diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan denyut nadi, air seni, lidah, hingga wawancara mendalam dengan pasien sebelum menentukan terapi yang tepat.

Pendekatan tradisional tersebut tidak berarti menolak kemajuan ilmu pengetahuan. Di Rumah Sakit Pengobatan Tibet Daerah Otonom Xizang, metode diagnosis klasik tetap dipertahankan, tetapi dipadukan dengan teknologi modern seperti CT Scan, MRI, hingga layanan telemedis. Rumah sakit yang berawal dari lembaga Men-Tsee-Khang pada 1916 itu kini memiliki sekitar 700 tempat tidur, lebih dari 900 tenaga kesehatan, dan melayani lebih dari 530 ribu pasien setiap tahun.

Direktur Rumah Sakit Pengobatan Tibet Daerah Otonom Xizang, Ci Reng, menjelaskan masyarakat dataran tinggi menghadapi tantangan kesehatan yang berbeda dibanding wilayah lain. Penyakit kardiovaskular, gangguan pernapasan, dan kelainan persendian menjadi kasus yang paling sering ditemui akibat kondisi geografis ekstrem. Menurut dia, pengobatan Tibet dan kedokteran modern bukanlah dua sistem yang saling meniadakan, melainkan dapat saling melengkapi demi meningkatkan kualitas diagnosis maupun pengobatan pasien.

sumber : Antara