Menhut apresiasi inovasi drone EagleEye Kemenhut untuk dukung SAR
Jakarta (ANTARA) - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengapresiasi inovasi EagleEye Tactical SAR System yang dikembangkan Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan (SAR) serta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menhut Raja Juli dalam keterangan diterima di Jakarta, Minggu, mengapresiasi Kemenhut berhasil meraih Juara I Open Tournament Piala Panglima TNI 2026 kategori Pengembangan Drone Militer, SAR dan Bantuan Bencana melalui inovasi EagleEye Tactical SAR System, yang dikembangkan sebagai platform Drone Command Center untuk pemantauan taktis secara aktual dan mengintegrasikan penginderaan jauh drone dengan analisis kecerdasan buatan (AI).
"Inovasi ini menunjukkan bahwa teknologi drone dan kecerdasan buatan dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan di lapangan, baik dalam pencarian dan penyelamatan, penanganan karhutla, maupun perlindungan satwa liar," ujarnya.
Ia berharap, inovasi tersebut dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih nyata serta lebih luas di berbagai daerah, terutama untuk mendukung penanganan karhutla dan penyelamatan satwa liar di Indonesia.
Dia menyebut kemenangan tersebut menjadi capaian Kemenhut dalam pengembangan inovasi teknologi yang dapat mendukung operasi pencarian dan penyelamatan, bantuan kemanusiaan, penanganan karhutla, serta perlindungan satwa liar melalui pemanfaatan teknologi drone dan AI.
Baca juga: Menhut pastikan kesiapan mitigasi karhutla di kawasan konservasi
Inovasi tersebut difokuskan untuk mengoptimalkan misi pencarian dan penyelamatan atau SAR.
Selain itu, EagleEye juga dapat mendukung penanganan karhutla melalui pemantauan titik api dan ketebalan asap, identifikasi petugas pemadam api, serta identifikasi satwa liar berbasis AI.
EagleEye Tactical SAR System mengintegrasikan dua metode pemrosesan AI, yakni Cloud AI Server untuk analisis dengan presisi tinggi dan Local Edge AI Agent untuk mempercepat analisis di wilayah dengan kondisi bencana berat atau keterbatasan konektivitas.
Sistem itu juga dilengkapi modul pemrosesan citra malam hari berbasis Python, analisis video pasca-penerbangan, serta distribusi alert taktis dengan latensi rendah.
Dari sisi operasional, sistem tersebut dirancang memiliki fleksibilitas tinggi karena tim SAR dapat menggunakan Cloud AI ketika jaringan internet tersedia atau beralih ke Local AI Agent saat beroperasi di wilayah terisolasi atau blank spot.
Baca juga: Menhut jelaskan Badan Pengelola Gambut langsung di bawah Presiden
Baca juga: Menhut cabut lima izin perusahaan terkait karhutla Kalimantan
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.