peezycoineth.vip

Mereka berijab kabul di truk tanki air

2026-09-15 13:12

Mereka berijab kabul di truk tanki air

Selasa, 15 September 2026 20:12 WIB

Image Print

Sepasang pengantin bersama penghulu mengabadikan momen seusai prosesi ijab kabul di truk tangki air pada acara Nikah Bareng Keren di KUA Sewon, Bantul, DIY, Kamis (27/8/2026). ANTARA/Aufa Ulya Fithrin

Yogyakarta (ANTARA) - Aroma melati menguar di antara riuh suara keluarga dan tamu yang memenuhi halaman. Teriknya matahari pagi itu tetapi tak cukup untuk meredam kebahagiaan mereka yang merayakan pernikahan massal di Bantul.

Dimas Wahyu Saputra dan Desya Ayulian Cristianingrum berdiri bersama sepuluh pasangan lain yang pagi itu bersiap mengikuti arak-arakan menuju sejumlah truk tangki air yang telah berjajar menunggu untuk membawa mereka menuju KUA Sewon, Bantul.

Tidak ada pelaminan megah ataupun gedung pernikahan dengan dekorasi berlebihan, tangki-tangki air itu yang justru menjadi panggung bagi sebelas pasang pengantin untuk memulai kehidupan sebagai suami istri.

Dimas dan Desya menaiki tangki untuk memulai prosesi yang tidak biasa itu. Sorak-sorai dan tawa sesekali terdengar ketika tamu menyaksikan Dimas dan Desya kesulitan menaiki tangga tangki karena kain yang mereka kenakan. Kesulitan tersebut justu membuat hari pernikahan mereka terasa berbeda.

Pernikahan massal sebelas pasangan yang memulai kehidupan baru itu hadir di tengah tren turunnya angka pernikahan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kecenderungan itu telah berjalan selama tujuh tahun terakhir.

Terus turun

Data pernikahan di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan adanya tren turunnya angka pernikahan. Pada 2019, jumlah pernikahan tercatat mencapai 24.462, kemudian turun dari tahun ke tahun dan menjadi 18.490 pernikahan pada 2025.

Penurunan angka tersebut memang tidak serta-merta berarti semakin banyak orang Yogyakarta yang tidak ingin menikah. Kepala KUA Sewon Mustafied Amna menjelaskan bahwa jumlah pernikahan di wilayahnya memang bersifat fluktuatif dan salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan adalah perubahan jumlah populasi masyarakat.

Ketika angka pernikahan di Yogyakarta secara umum turun, kondisi tersebut terlihat berbeda di KUA Sewon. Jumlah pernikahan yang tercatat di KUA Sewon justru meningkat dalam dua tahun terakhir.

Pada 2024 terdapat sekitar 550 pernikahan di KUA Sewon, sedangkan pada 2025 jumlahnya meningkat menjadi 630 pernikahan.

Mustafied menyebut salah satu hal yang ikut membuat angka tersebut meningkat adalah adanya kegiatan pernikahan bersama yang beberapa kali digelar di wilayah Sewon, salah satunya adalah pernikahan massal yang melibatkan 20 pasangan di STTKD pada tahun 2025.

Gandeng banyak pihak

Upaya tersebut tidak dilakukan KUA Sewon sendirian. Instansi pemerintah itu menggandeng berbagai pihak, salah satunya Forum Ta'aruf Indonesia atau Fortais.

Fortais memiliki program golek garwo, yaitu kegiatan yang mempertemukan anggota masyarakat untuk mendapatkan pasangan. Pasangan yang telah siap menikah kemudian diarahkan untuk melangsungkan pernikahan secara resmi di KUA.

Bagi KUA, kolaborasi semacam ini tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya jumlah pernikahan yang tercatat. Mustafied mengatakan kerja sama tersebut juga menjadi bagian dari upaya mempersempit praktik nikah siri.

Pernikahan siri yang tidak tercatat oleh negara dapat membuat pasangan maupun anak yang lahir dari pasangan nikah siri kehilangan sejumlah hak administratif. KUA Sewon melakukan berbagai upaya agar pernikahan yang dilakukan tidak hanya sah secara agama, tetapi juga tercatat secara resmi oleh negara.

Di sisi lain, Ketua Fortais Ryan Budi Nuryanto melihat kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan bagi masyarakat yang memiliki berbagai keterbatasan.

Menurut dia, setiap orang yang sudah memiliki pasangan seharusnya memiliki kesempatan untuk menikah sebagaimana mestinya. Karena itu Fortais memilih untuk bekerja sama dengan KUA Sewon dan berbagai pihak agar pasangan yang sudah siap dapat melangsungkan pernikahan di KUA.

“Bukan sekadar meningkatkan, tapi memberikan jaminan pada masyarakat yang sudah punya jodoh, mereka tetap bisa menikah selayaknya pernikahan,” kata Ryan.

Mudahnya akses menikah

Kantor Urusan Agama Sewon, Kabupaten Bantul, memastikan akses menuju pernikahan yang sah secara hukum negara tetap mudah dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

Kepala KUA Sewon Mustafied Amna mengatakan, masyarakat tidak dipungut biaya sepeser pun jika melangsungkan akad di dalam kantor KUA.

Sementara itu, bagi pasangan yang menghendaki akad nikah di luar KUA seperti di rumah atau gedung, akan dikenakan biaya resmi sebesar Rp600.000 sesuai ketentuan yang berlaku.

Kemudahan akses layanan dari negara tersebut lantas disinergikan dengan inisiatif Forum Ta'aruf Indonesia untuk merangkul masyarakat yang memiliki berbagai keterbatasan.

Tingginya minat masyarakat terhadap kolaborasi layanan ini terlihat dari membludaknya jumlah pendaftar nikah bersama yang mencapai sekitar 400 orang.

Dari ratusan peminat, panitia akhirnya memilih 11 pasangan berdasarkan parameter kesiapan mental calon pengantin dan kelengkapan berkas dan persetujuan wali keluarga yang harus setiap pasangan persiapkan dalam waktu yang singkat, yaitu dua sampai tiga hari.

Bagi pasangan Dimas dan Desya, hari bahagia yang paling dinanti itu dirayakan melalui prosesi ijab kabul yang tidak biasa sehingga menjadi sangat berkesan.

“Awalnya saya tidak menyangka, tapi alhamdulillah bahagia. Bahagianya itu sensasi ijab kabulnya yang di atas truk tangki air,” ujar Dimas.

Rasa gugup Desya saat menaiki tangki air juga perlahan terbayar tuntas oleh kebanggaan dan kebahagiaan yang jauh lebih besar, pasalnya, sebanyak 25 tangki air yang menjadi bagian dari kemeriahan sekaligus mahar pernikahan mereka itu langsung didistribusikan ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan di Bantul dan Gunungkidul.

Tahun ini, kegiatan nikah bersama yang diinisiasi Fortais memang sengaja membawa kepedulian khusus terhadap persoalan kekeringan di Yogyakarta.

Ketua Fortais Ryan Budi Nuryanto memandang bahwa kebahagiaan para pengantin tidak seharusnya berhenti di pelaminan atau hanya dinikmati oleh keluarga inti. Ia menginginkan luapan kebahagiaan dari momen penyatuan sebelas pasangan tersebut dapat ikut mengalir dan dirasakan oleh masyarakat luas.

Melalui inisiatif ini, mahar yang umumnya sekadar menjadi simbol personal dalam ikatan pernikahan berhasil bertransformasi menjadi bentuk kepedulian sosial yang nyata.

Pada akhirnya, dari sebuah ijab kabul sederhana di truk tangki air, kebahagiaan para pengantin bergerak jauh menyapa mereka yang tengah menanti datangnya air bersih.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mereka berijab kabul di truk tanki air


Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026