peezycoineth.vip

MPR: Penguatan literasi dan numerasi butuh kebijakan berkelanjutan - ANTARA News Jawa Timur

2026-09-13 14:30

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan transformasi pendidikan melalui penguatan budaya literasi, numerasi (matematika), dan pendekatan STEM berbasis PISA yang digaungkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah membutuhkan kebijakan pendidikan yang berkelanjutan di lapangan.

Menurutnya, tanpa eksekusi yang berkelanjutan, program tersebut berisiko berhenti sebagai wacana seremonial belaka.

"Kebijakan pendidikan yang baik, tidak cukup hanya diumumkan. Yang menentukan adalah apakah ia konsisten dijalankan, dievaluasi, dan diperbaiki dari waktu ke waktu," kata Lestari dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Minggu.

Lestari menanggapi sejumlah langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang membagikan praktik transformasi pendidikan melalui penguatan budaya literasi, numerasi, dan pendekatan integrasi science, technology, engineering, and mathematics (STEM) berbasis PISA di sejumlah sekolah.

Rerie, sapaan akrabnya, menyoroti bahwa persoalan literasi dan numerasi di Indonesia masih menghadapi tantangan mendasar.

Data Asesmen Nasional 2025 menunjukkan baru sekitar 55,7 persen siswa sekolah dasar yang mencapai batas minimum kompetensi literasi membaca.

Sementara itu, sekitar 50 persen siswa Indonesia secara umum belum mencapai kompetensi minimum dalam literasi dan numerasi.

"Angka-angka ini menunjukkan bahwa persoalan kualitas pembelajaran belum sepenuhnya teratasi. Akses pendidikan memang penting, tetapi kualitas juga harus menjadi prioritas," ujarnya.

Rerie juga mengingatkan agar pemerintah jangan lengah dengan peningkatan skor PISA Indonesia, meskipun di satu sisi peningkatan tersebut patut disyukuri.

Skor PISA adalah capaian dari Program for International Student Assesment, untuk mengukur kemampuan akademis siswa berusia 15 tahun.

Dia merinci skor sains Indonesia tercatat naik enam poin menjadi 389, dan skor membaca naik enam poin menjadi 365. Namun, skor matematika justru turun dua poin menjadi 364 jika dibandingkan dengan periode PISA 2022.

"Kenaikan di beberapa bidang perlu diapresiasi, tetapi penurunan di matematika menjadi catatan merah yang harus direspons serius," ujarnya.

Anggota Komisi X DPR RI itu menekankan pentingnya konsistensi dalam tiga hal utama. Yaitu, penguatan kapasitas guru harus menjadi prioritas berkelanjutan, bukan program sekali jalan.

"Pelatihan guru dalam komunitas belajar, pembelajaran STEM, coding, dan kecerdasan artifisial harus benar-benar sampai ke kelas dan memberikan dampak pada cara mengajar," terangnya.

Selain itu, Rerie juga mendesak agar program literasi dan numerasi diintegrasikan secara sistematis ke dalam asesmen dan kurikulum, seperti yang sudah diterapkan di beberapa sekolah di tanah air.

“Yang harus dijamin adalah keberlanjutan praktik baik ini. Jangan sampai hanya bergantung pada sosok kepala sekolah atau guru tertentu. Sistemnya harus kuat," katanya.

Di sisi lain, legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu juga menyoroti masih lebarnya kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan perdesaan.

Data BPS menunjukkan, kepemilikan komputer atau laptop untuk keperluan belajar di perkotaan mencapai 65 persen, sementara itu di perdesaan hanya sekitar 28 persen.

"Ketimpangan ini akan menghambat transformasi yang berbasis teknologi. Diperlukan intervensi khusus untuk daerah-daerah tertinggal," tambahnya.

Dia juga mengapresiasi pendekatan 'Belajar Mendalam' yang mendorong pembelajaran menjadi lebih bermakna, dan menyenangkan.

Namun, Rerie mengingatkan bahwa pendekatan tersebut membutuhkan dukungan sumber daya yang memadai, mulai dari bahan ajar, media pembelajaran, hingga kesejahteraan guru.

"Tanpa dukungan menyeluruh, perubahan pendekatan hanya akan membebani guru di lapangan," ujarnya.

Lestari menegaskan perlu kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan orang tua untuk membangun fondasi nalar kritis generasi penerus bangsa.

"Literasi dan numerasi bukan sekadar target asesmen. Ini adalah fondasi daya saing bangsa. Kita harus konsisten, sabar, dan serius menjalankannya," katanya.

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.