peezycoineth.vip

NIM Perbankan Tertekan Biaya Dana, Bank Mulai Susun Strategi Jaga Margin

2026-10-06 08:40

ILUSTRASI. Pertumbuhan kredit perbankan yang masih berada di level tinggi belum sepenuhnya mampu mengangkat margin bunga bersih (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit perbankan yang masih berada di level tinggi belum sepenuhnya mampu mengangkat margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Kenaikan biaya dana atau cost of fund (CoF) justru menjadi salah satu tantangan utama bagi perbankan dalam menjaga profitabilitas hingga akhir 2026.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan tumbuh 13,65% secara tahunan pada Agustus 2026. Pertumbuhan tersebut sedikit meningkat dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 13,58%.

Namun, kenaikan penyaluran kredit tersebut belum diikuti perbaikan NIM. Pada Agustus 2026, NIM industri perbankan tercatat 4,31%, turun tipis dari 4,32% pada Juli 2026 dan lebih rendah dibandingkan 4,58% pada Agustus 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, perkembangan NIM perbankan masih sejalan dengan kondisi perekonomian nasional.

Menurut Dian, pergerakan NIM dipengaruhi berbagai faktor, antara lain suku bunga acuan, efisiensi biaya dana, struktur kredit, permintaan kredit, serta profil risiko bank dan nasabah.

"Tingkat profitabilitas perbankan masih tergolong terjaga meskipun NIM dalam tren menurun," kata Dian dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK bulanan, Senin (5/10/2026).

Baca Juga: OJK Terbitkan POJK Nomor 11 Tahun 2026 tentang Laporan Berkala Lembaga Penjamin

Dian menjelaskan, penurunan NIM juga menunjukkan upaya perbankan menjaga tingkat suku bunga kredit agar tidak meningkat terlalu tinggi. Kebijakan tersebut diperlukan untuk mempertahankan keterjangkauan biaya kredit bagi masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Dijaga tidak terlalu tinggi agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Ke depan, OJK memperkirakan NIM perbankan masih akan berada pada level yang stabil dan moderat. Kondisi tersebut sejalan dengan proses transmisi suku bunga acuan yang masih berlangsung, dengan suku bunga acuan saat ini berada di level 5,75%.

Hingga Agustus 2026, suku bunga tertimbang dana pihak ketiga (DPK) rupiah meningkat 7 basis poin (bps) secara bulanan. Sementara itu, suku bunga tertimbang kredit rupiah hanya meningkat 3 bps.

Dian menambahkan, OJK terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk memantau perkembangan industri perbankan sekaligus menjaga stabilitas sektor keuangan nasional.

Biaya Dana Jadi Beban NIM Bank

Tekanan terhadap NIM juga tercermin dari peningkatan biaya dana perbankan. Riset MNC Sekuritas mencatat, CoF perbankan mulai meningkat pada Juli 2026.

Secara bulanan, CoF naik 25 bps menjadi 2,6%. Kenaikan tersebut dinilai sebagai dampak kumulatif kenaikan BI Rate sebesar 100 bps yang mulai tercermin dalam biaya pendanaan perbankan.

Pada periode yang sama, rasio dana murah atau current account saving account (CASA) turun 34 bps secara bulanan menjadi 71,7%.

Kondisi tersebut kemudian tercermin pada kinerja NIM sejumlah bank besar. NIM BRI turun 108 bps secara bulanan menjadi 5,7%, sedangkan NIM BSI turun 70 bps menjadi 5%.

NIM BNI juga turun 13 bps menjadi 3,4%. Sementara itu, NIM Bank Mandiri relatif stabil dengan penurunan hanya 1 bps menjadi 3,9%.

BCA menjadi pengecualian karena NIM perseroan justru meningkat 30 bps secara bulanan menjadi 5,7%. Perbaikan tersebut ditopang kenaikan earning asset yield sebesar 27 bps menjadi 6,7%, sedangkan CoF BCA bertahan di level 1,1%.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai tekanan terhadap NIM perbankan saat ini lebih banyak berasal dari kenaikan biaya dana yang berlangsung lebih cepat dibandingkan peningkatan imbal hasil kredit.

Menurut Josua, kondisi tersebut terlihat dari data Agustus 2026. Suku bunga rata-rata tertimbang DPK rupiah naik sekitar 7 bps secara bulanan, terutama karena bunga deposito meningkat sekitar 10 bps. Sementara itu, suku bunga kredit hanya naik sekitar 3 bps.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit yang mencapai 13,65% secara tahunan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK sebesar 10,94%. Kondisi tersebut membuat rasio kredit terhadap DPK meningkat menjadi sekitar 88,14%.

"Artinya, bank harus membiayai ekspansi kredit yang cepat dengan sumber dana yang semakin mahal," kata Josua.

Menurut Josua, tekanan terhadap NIM tidak semata-mata menunjukkan kegagalan bank menaikkan bunga kredit. Perbankan memang tidak dapat menaikkan bunga kredit secepat kenaikan biaya simpanan karena langkah tersebut berisiko menekan permintaan kredit sekaligus kualitas debitur.

Josua menambahkan, persaingan dalam menghimpun DPK memang semakin kuat, tetapi belum menunjukkan adanya tekanan likuiditas secara sistemik.

Likuiditas industri perbankan masih relatif besar. Rasio kecukupan likuiditas berada di sekitar 187%, rasio alat likuid terhadap dana noninti sekitar 102%, sedangkan rasio alat likuid terhadap DPK sekitar 23%. Ketiga indikator tersebut masih berada jauh di atas batas minimum.

Baca Juga: BRI Life Tawarkan Perlindungan Jiwa Perencanaan Keuangan Lewat Aurora Plus

Meski demikian, tekanan mulai terlihat pada bank yang mencatat pertumbuhan kredit tinggi karena posisi alat likuidnya cenderung menurun.

Dari sisi komposisi DPK, deposito tumbuh sekitar 13,10%, lebih tinggi dibandingkan giro sebesar 9,82% dan tabungan 9,56%. Hal ini menunjukkan sebagian tambahan dana perbankan berasal dari sumber pendanaan yang relatif lebih mahal.

"Selama bank masih berlomba mempertahankan deposan melalui deposito berbunga tinggi, penurunan suku bunga acuan belum otomatis menurunkan biaya dana dengan cepat," jelas Josua.

Bahkan ketika suku bunga pasar mulai turun, bunga deposito cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan. Pasalnya, bank masih perlu mempertahankan nasabah sekaligus memenuhi kebutuhan likuiditas.

Tekanan NIM Diperkirakan Berlanjut hingga Akhir 2026

Josua memperkirakan tekanan terhadap NIM masih berpotensi berlanjut hingga akhir 2026, meski berada pada level moderat dan tidak terjadi secara merata pada seluruh bank.

Bank yang memiliki basis dana murah besar, jaringan transaksi kuat, serta pertumbuhan kredit yang lebih seimbang dinilai akan lebih mampu mempertahankan margin. Sebaliknya, bank yang agresif menumbuhkan kredit tetapi sangat bergantung pada deposito berjangka atau dana institusi berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.

Komposisi pertumbuhan kredit juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Saat ini, kredit investasi tumbuh sekitar 25% dan kredit korporasi sekitar 22%. Sementara itu, kredit konsumsi hanya tumbuh sekitar 5%.

Menurut Josua, kredit korporasi dalam jumlah besar umumnya memiliki daya tawar nasabah yang lebih kuat sehingga margin yang diperoleh bank cenderung lebih tipis dibandingkan kredit ritel. Pergeseran komposisi kredit tersebut berpotensi ikut menahan NIM.

Dengan demikian, meskipun suku bunga secara bertahap turun, pemulihan NIM berpotensi mengalami jeda. Biaya dana perlu turun terlebih dahulu sebelum manfaat penurunan suku bunga sepenuhnya tercermin dalam margin bunga bank.

Untuk menjaga NIM, Josua menilai strategi yang paling realistis bukan menaikkan bunga kredit secara menyeluruh. Kebijakan tersebut justru berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit dan meningkatkan risiko gagal bayar.

Prioritas perbankan seharusnya diarahkan pada penurunan biaya dana dengan meningkatkan porsi giro dan tabungan. Bank juga perlu memperkuat dana berbasis transaksi seperti payroll, pembayaran usaha, rantai pemasok, dan nasabah ritel, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap deposito berbiaya tinggi.

Bank juga perlu menyesuaikan bunga kredit secara selektif berdasarkan risiko dan nilai hubungan dengan nasabah, bukan menaikkan harga seluruh portofolio kredit.

Selain itu, pertumbuhan kredit perlu diarahkan pada segmen yang memberikan imbal hasil sesuai dengan tingkat risiko, bukan sekadar mengejar volume. Efisiensi operasional juga tetap penting untuk menjaga laba ketika margin bunga mengalami tekanan.

"Jadi, menurut saya masalah utama saat ini adalah ketidakseimbangan kecepatan pertumbuhan kredit, pertumbuhan DPK, dan penyesuaian bunga simpanan dengan bunga kredit," tutur Josua.

Menurut dia, kunci perbaikan NIM adalah memperbaiki struktur pendanaan menuju dana murah yang lebih stabil, menjaga disiplin dalam penetapan bunga kredit, serta menumbuhkan kredit secara selektif berdasarkan keuntungan setelah memperhitungkan risiko.

Baca Juga: BNI Ikut Pasarkan SBR015, Beri Penawaran Cashback Hingga Rp 15 Juta

CIMB Niaga: NIM Diperkirakan Tetap di Bawah 4%

Tekanan terhadap NIM juga dirasakan CIMB Niaga. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, NIM menjadi salah satu rasio yang paling tertekan saat ini karena CoF masih berada pada level tinggi.

Lani memperkirakan tekanan tersebut masih berlangsung hingga akhir tahun. Selain biaya dana, rendahnya loan yield juga menjadi faktor karena pertumbuhan kredit masih lebih banyak berasal dari segmen korporasi yang memiliki yield lebih rendah.

"NIM merupakan ratio yang paling tertekan saat ini di level 3,9% karena CoF yang masih tinggi. Kami perkirakan tetap tinggi sampai akhir tahun dan yield loan yang relatif juga masih rendah karena pertumbuhan kredit yang masih lebih tinggi di kredit korporasi dengan yield yang lebih rendah," kata Lani.

Dengan kondisi tersebut, CIMB Niaga secara realistis memperkirakan NIM hingga akhir 2026 masih berada di bawah 4%.

Dari sisi intermediasi, total pembiayaan yang disalurkan CIMB Niaga mencapai Rp228,44 triliun per Agustus 2026. Angka tersebut tumbuh 4,39% secara tahunan.

BCA Andalkan Dana Murah untuk Jaga NIM

Sementara itu, BCA menilai NIM bukan satu-satunya indikator untuk mengukur profitabilitas perbankan. Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, NIM belum memperhitungkan pendapatan nonbunga, biaya operasional, maupun biaya pencadangan kredit.

Pada semester I 2026, BCA mencatat NIM sebesar 5,3%. Menurut Hera, pergerakan NIM ke depan akan dipengaruhi oleh permintaan kredit, pergerakan suku bunga, serta kondisi likuiditas.

BCA juga menilai posisi CoF relatif terjaga berkat keunggulan bisnis perbankan transaksi yang dimiliki perseroan.

Per Juni 2026, CASA BCA tumbuh 10,2% secara tahunan menjadi Rp1.082 triliun. Sementara total DPK meningkat 7,9% yoy menjadi Rp1.284 triliun.

"Ke depannya demi menjaga NIM agar tetap terjaga baik, perseroan akan selalu senantiasa berkomitmen untuk mendorong penyaluran kredit ke berbagai segmen dan sektor secara pruden, sekaligus mempertimbangkan prinsip-prinsip kehati-hatian dengan penerapan manajemen risiko disiplin," kata Hera.

BCA juga akan mempertahankan posisi permodalan dan likuiditas yang solid untuk menopang pertumbuhan kredit yang berkelanjutan dan berkualitas.

Hera mengatakan perseroan akan menjaga keseimbangan antara likuiditas, profitabilitas, dan kualitas kredit dalam mempertahankan kinerja margin.

NIM Allo Bank Tetap Dua Digit

Berbeda dengan sejumlah bank konvensional besar, Allo Bank masih mampu mempertahankan NIM pada level dua digit. Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja Rusli menyebut NIM perseroan berada di kisaran 10,4%-10,9%.

Menurut Ganda, level tersebut tergolong tinggi dibandingkan rata-rata bank konvensional yang berada di kisaran 3%-5%. Namun, kondisi itu masih sesuai dengan model bisnis bank digital yang berfokus pada kredit konsumer dengan risiko dan yield yang lebih tinggi.

Tekanan terhadap NIM Allo Bank terutama berasal dari kenaikan CoF, bukan penurunan yield kredit secara drastis. Kenaikan BI Rate mendorong bank menaikkan bunga simpanan atau deposito untuk mempertahankan dana nasabah.

Baca Juga: Budi Gadai Indonesia Berencana Tingkatkan Usaha Jadi Skala Nasional pada 2027

Di sisi lain, bunga kredit tidak dapat dinaikkan secara sporadis karena berpotensi meningkatkan NPL.

Persaingan penghimpunan DPK di segmen bank digital juga masih ketat. Meski pertumbuhan DPK cukup baik, porsi simpanan Allo Bank masih didominasi deposito berjangka dengan penawaran bunga tinggi.

Untuk mempertahankan liquidity pool, Allo Bank menawarkan fitur simpanan fleksibel dengan bunga tinggi seperti Allo Grow dan Allo Deposito. Sementara itu, yield kredit dijaga tetap kompetitif agar daya serap kredit konsumer tetap tumbuh.

Ganda memperkirakan NIM Allo Bank akan stabil di kisaran 10%-10,5% hingga akhir 2026. Potensi penurunan suku bunga acuan ke depan diharapkan dapat membantu menurunkan beban biaya dana.

Selain itu, peningkatan transaksi digital harian diharapkan secara bertahap meningkatkan porsi CASA sehingga tekanan terhadap NIM tidak berlanjut secara drastis.

Untuk menjaga margin bunga, Allo Bank juga mengoptimalkan transaksi harian seperti QRIS dan bill payment untuk mendorong tabungan berbiaya rendah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap deposito berbunga tinggi.

Perseroan juga mengandalkan pertumbuhan fee-based income dari komisi transaksi produk digital dan provisi. Strategi tersebut diharapkan dapat menopang laba tanpa menambah tekanan pada margin bunga.

Dari sisi biaya, Allo Bank mengoptimalkan otomatisasi underwriting kredit digital untuk menekan cost of credit dan beban operasional sehingga rasio BOPO tetap berada pada level efisien.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag