peezycoineth.vip

Obesitas Bisa Ganggu Hormon hingga Kesuburan Perempuan

2026-07-31 11:25

Bagikan:

JAKARTA - Obesitas masih sering dipandang sebatas persoalan penampilan atau angka di timbangan. Padahal, kondisi ini merupakan penyakit metabolik kronis yang memengaruhi berbagai aspek kesehatan perempuan.

Mulai dari keseimbangan hormon dan kesehatan reproduksi hingga meningkatkan risiko penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan sekitar 47,2 juta penduduk dewasa di Indonesia mengalami obesitas. Prevalensinya juga lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki, yakni 36,4 persen berbanding 24,4 persen. Data tersebut menunjukkan obesitas bukan lagi sekadar persoalan individu, melainkan tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian dan penanganan lebih serius.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Cynthia Agnes Susanto, BMedSc, Sp.OG menjelaskan obesitas pada perempuan berkaitan erat dengan berbagai perubahan biologis yang terjadi sepanjang kehidupan, termasuk yang memengaruhi fungsi reproduksi.

"Obesitas bisa memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan menurunkan kualitas hidup. Bahkan pada perempuan, obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tetapi juga berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi," jelas dr. Cynthia, saat ditemui di Kebayoran Baru, Jakarta pada Kamis, 30 Juli 2026.

"Mulai dari gangguan siklus menstruasi dan ovulasi, meningkatnya risiko infertilitas hingga komplikasi pada kehamilan. Karena itu, obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif sesuai evaluasi dokter," tambahnya.

Menurutnya, salah satu kondisi yang memiliki kaitan erat dengan obesitas adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), yang sebelumnya dikenal sebagai PCOS. Perubahan istilah ini mencerminkan pemahaman bahwa kondisi tersebut bukan hanya gangguan pada ovarium, tetapi juga melibatkan sistem hormonal dan metabolisme tubuh.

Sekitar 35–50 persen perempuan dengan PMOS juga mengalami obesitas. Kedua kondisi tersebut saling berkaitan. Obesitas bisa memperburuk gangguan metabolik maupun reproduksi, sementara perubahan hormonal pada PMOS membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih sulit.

Tak hanya itu, obesitas sebelum kehamilan juga meningkatkan risiko berbagai komplikasi, seperti diabetes gestasional, preeklamsia, hingga gangguan pertumbuhan janin. Maka dari itu, menjaga kesehatan metabolik sejak sebelum merencanakan kehamilan menjadi langkah penting untuk membantu menurunkan berbagai risiko tersebut.

Dalam pengelolaan obesitas, keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari berkurangnya angka di timbangan. Perubahan komposisi tubuh dan membaiknya kesehatan metabolik juga menjadi indikator penting. dr. Cynthia menekankan seseorang tidak perlu terlalu terpaku pada berat badan semata.

"Jangan hanya melihat berat badan. Hal yang lebih penting adalah penurunan lemak tubuh, terutama lemak visceral, serta perubahan komposisi tubuh. Ukuran lingkar perut atau pakaian yang mulai longgar juga bisa menjadi tanda pengelolaan berat badan berjalan baik. Berat badan sendiri terdiri dari massa lemak dan massa otot, sehingga angkanya tidak selalu menggambarkan kondisi kesehatan secara keseluruhan," jelasnya.

Pada perempuan dengan PMOS, keberhasilan terapi juga terlihat dari membaiknya siklus menstruasi yang sebelumnya tidak teratur menjadi lebih teratur seiring dengan perbaikan kondisi metabolik.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, penanganan obesitas kini dilakukan dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dan disesuaikan dengan kondisi setiap individu. Penanganannya dapat mencakup perubahan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, dukungan psikologis, terapi farmakologis sesuai indikasi medis, hingga tindakan bedah bariatrik pada pasien tertentu.

Salah satu inovasi dalam terapi obesitas adalah GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA). Terapi ini bekerja pada mekanisme biologis yang mengatur rasa lapar dan kenyang sehingga dapat membantu pengelolaan berat badan apabila digunakan sesuai indikasi medis dan di bawah pengawasan dokter.

BACA JUGA:


Selain membantu menurunkan berat badan, terapi ini juga mendukung quality weight loss, yaitu penurunan massa lemak dengan tetap mempertahankan massa otot. Dengan demikian, manfaat terapi tidak hanya terlihat dari angka di timbangan, tetapi juga dari perbaikan kesehatan metabolik secara keseluruhan.

Associate Director Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman menegaskan tujuan utama penanganan obesitas bukan sekadar mengejar penurunan berat badan.

"Yang ingin dicapai bukan hanya penurunan berat badan, tetapi perbaikan kualitas hidup. Karena obesitas adalah kelebihan massa lemak, maka yang menjadi target adalah berkurangnya lemak tubuh dengan tetap mempertahankan massa otot. Itulah sebabnya BMI bukan satu-satunya indikator. Lingkar perut, komposisi tubuh, hingga perbaikan kondisi kesehatan juga menjadi bagian dari evaluasi keberhasilan terapi," ujar dr. Riyanny.

Ia menjelaskan terapi GLP-1 RA tidak diberikan kepada semua orang, melainkan berdasarkan indikasi medis yang ditetapkan dokter.

"Terapi GLP-1 RA dapat dipertimbangkan pada pasien dengan BMI 30 kg/m² atau lebih, atau BMI minimal 27 kg/m² yang disertai penyakit penyerta. Karena itu, pengobatan obesitas harus dipersonalisasi sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing pasien," katanya.

Hingga kini, masih banyak anggapan obesitas semata-mata disebabkan oleh pola makan berlebihan atau kurang berolahraga. Padahal, kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari faktor biologis, hormonal, lingkungan, hingga psikologis.

Menurut dr. Riyanny, edukasi menjadi kunci untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap obesitas.

"Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan di berbagai fase kehidupan. Karena itu, perempuan perlu memiliki informasi yang benar agar dapat mengenali risikonya, mencari bantuan medis saat diperlukan, dan memperoleh penanganan yang tepat bersama tenaga kesehatan," ujarnya.

Ia menambahkan, edukasi perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, media, pemerintah, dan berbagai organisasi agar masyarakat semakin memahami pentingnya pencegahan serta pengelolaan obesitas sejak dini.

Dengan pemahaman yang semakin baik obesitas merupakan penyakit kronis, diharapkan semakin banyak perempuan yang tidak ragu mencari bantuan medis lebih awal. Penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu mengurangi risiko komplikasi di kemudian hari sekaligus menjaga kualitas hidup di setiap fase kehidupan.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+