OMC tahap II digelar targetkan tambahan 48 juta meter kubik air Danau Toba - ANTARA News Sumatera Utara
Tapanuli Utara (ANTARA) - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tahap pertama berhasil menambah sekitar 48 juta meter kubik air ke sistem Danau Toba dalam 25 hari operasi di tahap pertama. Capaian tersebut menjadi pijakan Perum Jasa Tirta (PJT) I untuk kembali menggelar OMC tahap II pada 21 September hingga 15 Oktober 2026 guna menjaga elevasi dan keberlanjutan ketersediaan air Danau Toba.
OMC tahap II dilaksanakan PJT I bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), dengan sasaran meningkatkan debit air yang masuk ke kawasan Danau Toba dan daerah tangkapan airnya.
Direktur Operasional PJT I Milfan Rantawi mengatakan OMC tidak semata-mata ditujukan agar hujan langsung turun di permukaan Danau Toba, melainkan untuk menghasilkan tambahan air yang dapat menjaga debit secara berkelanjutan.
“Bagaimana menjaga elevasi air Danau Toba di 902,04. Sebenarnya kita tidak ingin seluruh air langsung jatuh ke atas permukaan air, namun bagaimana air yang turun itu berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Milfan, tambahan sekitar 48 juta meter kubik air dari OMC tahap pertama dalam 25 hari memberikan kontribusi terhadap pengelolaan ketersediaan air Danau Toba. Hasil tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga debit dan kontinuitas air untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor.
Ia menjelaskan pengelolaan debit Danau Toba harus memperhitungkan kebutuhan pengguna air, mulai dari industri, pembangkit listrik hingga irigasi. Karena itu, menjaga kuantitas sekaligus kontinuitas air menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan air di kawasan tersebut.
Sementara itu, Direktur OMC BMKG Budi Harsoyo mengatakan pelaksanaan OMC tahap II pada September-Oktober telah direncanakan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan periode menuju musim hujan.
“Perencanaannya sudah sangat baik. Kenapa dilakukan September-Oktober, nantinya pada November yang biasanya hujan, debit air akan berkelanjutan,” katanya.
Budi menjelaskan OMC tidak dilaksanakan hanya berdasarkan penetapan tanggal, tetapi menyesuaikan dengan kondisi atmosfer dan potensi pertumbuhan awan yang tersedia. Sasaran operasi mencakup wilayah perairan Danau Toba maupun daerah tangkapan airnya.
Menurut dia, teknologi modifikasi cuaca digunakan untuk mengoptimalkan potensi hujan yang tersedia sehingga tambahan air dapat menjadi bagian dari cadangan untuk menghadapi periode kekeringan.
Dalam proses OMC, bahan semai berupa garam atau natrium klorida (NaCl) digunakan sebagai inti kondensasi atau aerosol yang membantu mempercepat pembentukan butiran air di dalam awan.
Partikel tersebut menjadi media bagi uap air untuk bertumbukan dan bergabung hingga membentuk butiran yang lebih besar dan kemudian jatuh sebagai hujan.
Melalui OMC tahap II, PJT I, BMKG, dan Inalum menargetkan tambahan debit air untuk membantu mempertahankan elevasi Danau Toba sekaligus mendukung kebutuhan air baku, irigasi, pembangkit listrik, industri, dan aktivitas masyarakat.
Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat ketahanan air, pangan, dan energi dengan menjaga keberlanjutan sumber daya air Danau Toba sebagai hulu sistem Sungai Asahan.
Pewarta: Rinto Aritonang
Editor : Akung
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.