peezycoineth.vip

Pakar ITB: 300 ton karbon lepas ke atmosfer per hektare gambut terbakar - ANTARA News Jawa Barat

2026-09-07 15:29

Bandung (ANTARA) - Pakar Ekologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB Dr Elham Sumarga menyebutkan per hektare kawasan gambut yang terbakar melepaskan ratusan ton karbon ke atmosfer yang mempercepat perubahan iklim global.

Menurut Elham, hal itu juga yang dipastikan terjadi dalam kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) gambut di Kalimantan dan Sumatera pada puncak musim kemarau Agustus 2026, dan berlangsung hingga kini, yang tidak hanya memicu bencana asap, tetapi juga melepaskan ratusan ton karbon ke atmosfer.

"Per hektare lahan gambut yang terbakar, melepaskan hingga 300 ton karbon ke atmosfer, yang mempercepat laju perubahan iklim global," kata Elham di Bandung, Senin.

Terkait kebakaran lahan dan hutan di Sumatera dan Kalimantan, serta beberapa daerah di Indonesia, menurut Elham, pemicu utama krisis ekologis berulang ini terjadi akibat kombinasi anomali iklim El Niño dan pengeringan masif jutaan hektare lahan gambut.

Aktivitas pengeringan itu, menurut Elham, menjadikan lahan gambut sebagai bahan organik yang menjadi bahan bakar bagi seluruh wilayah itu.

"Jika wilayah gambut masih dalam kondisi alaminya yang selalu tergenang air, tidak akan menjadi masalah. Namun, ketika airnya dikeluarkan, bahan organik yang kering tersebut berubah menjadi akumulasi bahan bakar di hamparan yang sangat luas," ujar dia.

Berbeda dari lahan mineral, kata Elham, kebakaran di lahan gambut juga terjadi di bawah permukaan tanah (subsurface smoldering). Karakteristik inilah yang membuat api sangat sulit dipadamkan dan terus menghembuskan krisis asap pekat, termasuk yang saat ini terjadi hingga menyeberang ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

Bencana asap tersebut, menurutnya, membawa racun partikulat PM 2.5 yang memicu krisis pernapasan dan berdampak meliburkan sekolah, menghentikan penerbangan, serta menghancurkan habitat satwa liar yang dilindungi.

"Orangutan di Kalimantan banyak yang terdesak dan terjebak akibat kebakaran. Beberapa foto bahkan menampilkan satwa liar yang ikut terbakar karena tidak mampu bertahan dari kebakaran yang hebat," ucapnya.

Selain ancaman emisi karbon masif, pengeringan gambut memicu penurunan lapisan tanah secara permanen atau land subsidence. Berdasarkan pemodelan hidrologis ITB, fenomena ini berisiko menciptakan genangan air dan banjir permanen dalam jangka waktu 50 hingga 100 tahun ke depan.

Sebagai solusi berkelanjutan, ITB merekomendasikan tiga langkah strategis, yakni, pertama, restorasi pembasahan kembali (rewetting) dan pembangunan sekat kanal (canal blocking) secara masif untuk menahan air dan menjaga kelembaban gambut.

Kedua, penerapan paludikultur, yakni mengalihkan budi daya pertanian ke tanaman ramah genangan, seperti pohon jelutung, sagu, dan purun agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan tanpa mengeringkan lahan, dan ketiga, penegakan hukum serta evaluasi konsesi, yakni pengetatan aturan pembukaan lahan tanpa bakar serta penguatan moratorium izin konsesi pada gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter.

"Di sinilah fungsi utama pemodelan. Kkita bisa menginvestigasi skenario what-if untuk mengambil keputusan antisipasi dan prevensi agar kebakaran yang lebih hebat di masa depan tidak terjadi," tutur Elham.

Ia menambahkan penanganan karhutla di Indonesia memerlukan kolaborasi sinergis antara Pemerintah, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), akademisi, serta pemegang izin konsesi.

"Semua pihak harus bergerak bersama secara sinergis. Kebakaran hutan adalah masalah yang tidak bisa dilokalisasi, sehingga penanganannya membutuhkan kesadaran bersama, perbaikan regulasi, serta ketegasan penegakan hukum demi menjaga keberlanjutan ekosistem," tutur Elham.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pakar: 300 ton karbon lepas ke atmosfer per hektare gambut terbakar

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.