Pakistan dan Qatar tingkatkan mediasi di tengah jeda serangan AS-Iran
Pakistan dan Qatar tingkatkan mediasi di tengah jeda serangan AS-Iran
Senin, 27 Juli 2026 09:34 WIB
Arsip foto - Anggota suku pendukung Houthi berkumpul di Sanaa—kota di Yaman yang dikuasai oleh kelompok Houthi yang didukung Iran—dan menggelar unjuk kekuatan menggunakan senjata berat serta ringan dalam aksi protes menentang AS dan Israel pada 3 November 2025 di Sanaa, Yaman. ANTARA/Mohammed Hamoud - Anadolu Agency /pri.
Istanbul (ANTARA) - Tidak ada laporan serangan baru dari Amerika Serikat maupun Iran untuk malam kedua berturut-turut, sementara Pakistan dan Qatar meningkatkan upaya mediasi guna mendorong deeskalasi konflik antara Washington dan Teheran.
Berdasarkan pemantauan Anadolu, tidak ada ledakan maupun serangan udara AS yang dilaporkan terjadi di wilayah Iran hingga Minggu dini hari, di mana malam sebelumnya juga berlalu tanpa serangan.
Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM) jeda tersebut terjadi setelah hampir dua pekan serangan Amerika Serikat yang menyasar infrastruktur militer, sistem pengawasan pesisir, fasilitas rudal dan pesawat nirawak, aset angkatan laut, serta pusat logistik Iran.
Sumber pemerintah Pakistan mengatakan kepada Anadolu bahwa Islamabad dan Doha kini mengintensifkan pertukaran pesan antara Amerika Serikat dan Iran.
Langkah itu dilakukan setelah kedua pihak menyampaikan tanggapan mereka terhadap formula bersama yang diajukan mediator untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Juru bicara militer Iran Amir Mohammad Akraminia mengatakan strategi Teheran didasarkan pada prinsip "penangkalan melalui pembalasan", sehingga respons militer Iran bergantung pada tindakan Amerika Serikat.
"Dalam dua malam terakhir, Amerika menghentikan serangannya, sehingga operasi balasan Iran juga ikut berhenti," kata Akraminia seperti dikutip media Iran.
Ia menegaskan penghentian operasi militer Iran merupakan respons terhadap dihentikannya serangan AS, bukan karena tercapainya deeskalasi yang lebih luas.
Kementerian Kesehatan Iran pada Kamis melaporkan sedikitnya 57 orang tewas dan 629 lainnya terluka akibat gelombang terbaru serangan Amerika Serikat.
Pekan ini, Pakistan dan Qatar mengusulkan formula deeskalasi bersama yang mendorong Washington dan Teheran kembali pada posisi sebelum 9 Juli sebagai langkah awal untuk melanjutkan perundingan damai.
Seorang pejabat yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan usulan itu bertujuan membuka kembali negosiasi menuju penyelesaian permanen konflik.
Iran mengonfirmasi telah menerima proposal dari kedua mediator dan sedang mempelajarinya, seraya menegaskan tetap berkomitmen pada jalur diplomasi meski baku serang masih berlangsung.
Washington dan Teheran sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang memuat kesepakatan gencatan senjata setelah dimediasi Pakistan dan Qatar.
Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata tersebut berakhir pada 8 Juli menyusul kembali meningkatnya eskalasi militer.
Amerika Serikat menuntut Iran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal niaga dan menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran bersikeras bahwa lalu lintas kapal di selat strategis tersebut harus diatur melalui mekanisme yang dikelolanya.
Pada Sabtu, Trump memerintahkan militer AS untuk tidak melancarkan serangan baru terhadap Iran, sehingga mengakhiri hampir dua pekan serangan harian, menurut laporan Axios yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui keputusan tersebut.
Sumber: Anadolu
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026