peezycoineth.vip

Pancasila Sakti di Tengah Gempuran Ideologi Ekstrem dan Politik Pecah Belah Bangsa

2026-10-06 08:38

Wahyu SK

| 6 Oktober 2026, 15:38 WIB

Pancasila Sakti di Tengah Gempuran Ideologi Ekstrem dan Politik Pecah Belah Bangsa

Akademisi sekaligus pengamat radikalisme dan terorisme, Dr. Amir Mahmud, menyebut Pancasila sangat efektif menjadi jembatan perbedaan. - Foto: Dok. Pribadi

AKURAT.CO Di tengah derasnya arus ideologi transnasional dan menguatnya politik pecah belah yang menyasar ruang digital, Pancasila kembali membuktikan kesaktiannya.

Bukan sebagai jargon upacara, melainkan menjadi perekat hidup yang menjaga Indonesia tetap utuh.

Hal itu ditegaskan akademisi sekaligus pengamat radikalisme dan terorisme, Dr. Amir Mahmud, M.Ag., saat membahas makna Hari Kesaktian Pancasila.

Menurutnya, kesaktian Pancasila justru teruji ketika bangsa ini dihantam dua ancaman sekaligus, yakni ekstremisme yang mengatasnamakan agama dan politik identitas yang sengaja membelah masyarakat.

"Pancasila sangat efektif menjadi jembatan perbedaan. Dari Sabang sampai Merauke, dari perbedaan suku, ras hingga agama, semua bisa diakomodasi," ujar Dr. Amir Mahmud di Surakarta, Selasa (6/10/2026).

Baca Juga: Pramono: Pancasila Jadi Fondasi Jakarta Merawat Keberagaman

Dosen Pascasarjana Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta itu menilai bahwa masyarakat majemuk seperti Indonesia tidak bisa bertahan hanya dengan semangat toleransi semu.

Dibutuhkan nilai-nilai bersama yang mengikat, agar perbedaan tidak berubah menjadi segregasi, intoleransi, hingga konflik terbuka.

"Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan adalah kenyataan sosial yang harus dikelola melalui kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan," katanya.

Dr. Amir Mahmud mengingatkan, ideologi ekstrem hari ini tidak lagi bergerak di ruang gelap, melainkan sangat vulgar di media sosial.

Narasi kebencian, intoleransi, dan ajakan kekerasan dikemas dengan bahasa agama dan nasionalisme palsu. Menghadapi itu, pendekatan keamanan saja tidak akan pernah cukup.