Pemkab Bekasi respons keluhan warga terkait status darurat debu - ANTARA News Megapolitan
Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat merespons keluhan warga Kampung Tegal Danas, Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat berkaitan status darurat debu diduga akibat maraknya aktivitas lalu lintas truk perusahaan yang memproduksi beton atau 'batching plant".
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi Syafri Donny Sirait menegaskan pihaknya langsung bergerak ke lokasi untuk menyelidiki keluhan terkait keberadaan debu tebal yang mengganggu mobilitas hingga kesehatan masyarakat di wilayah Tegal Danas, Desa Hegarmukti.
"Saat ini tim dari penegakan hukum sedang mengecek lokasi yang dikeluhkan masyarakat. Hasilnya akan kita tindak lanjuti kemudian," katanya di Cikarang, Rabu.
Dia mengatakan inspeksi lokasi tersebut turut dirangkaikan dengan pemeriksaan sejumlah perusahaan yang diduga menjadi penyebab munculnya debu dalam volume besar hingga memicu kekesalan warga yang dilampiaskan melalui aksi pemasangan spanduk bertuliskan 'Tegal Danas Darurat Debu'.
"Kami juga mendatangi fasilitas-fasilitas batching plant di sekitar wilayah tersebut untuk memeriksa kelengkapan dokumen dari perusahaan-perusahaan tersebut," ujarnya.
Dia juga telah menginstruksikan UPTD Kebersihan Wilayah V untuk melakukan penanganan dengan menyiagakan satu unit mobil tangki air yang bertugas membersihkan debu. "Petugas pesapon (penyapu jalan) juga terus melakukan pembersihan debu dan sampah setiap pagi," katanya.
Menurut pengakuan warga setempat, Yohana (39) masyarakat memasang spanduk bertuliskan 'Tegal Danas Darurat Debu Imbas Tumpahan Cor-coran' di sejumlah titik terdampak debu lantaran belum ada solusi permanen dari otoritas wilayah setempat.
Dia menduga debu tersebut berasal dari material beton yang tercecer dari aktivitas mobilitas truk molen milik sejumlah fasilitas batching plant di sekitar area terdampak untuk menyuplai kebutuhan beton siap pakai ke kawasan industri terdekat.
"Informasi yang beredar, mereka memasok beton ke kawasan industri. Bahkan katanya beberapa batching plant itu milik perusahaan asing. Kenapa bangun fasilitas di kampung padat penduduk kalau mengirim ke kawasan, jadinya kan wilayah kami yang kena dampak," katanya.
Warga meminta Pemerintah Kabupaten Bekasi segera mengambil tindakan untuk menghentikan aktivitas produksi yang turut menghasilkan debu bagi masyarakat sebab dampak mobilitas ini mengganggu kesehatan maupun ekosistem lingkungan hidup.
Warga lain Tarman (48) mengaku sumber persoalan berasal dari material beton cair yang kerap tercecer dari tabung truk molen. Setelah mengering, campuran semen dan batu split itu hancur terlindas kendaraan bertonase besar hingga berubah menjadi debu halus yang beterbangan ke permukiman.
"Keberadaan sejumlah batching plant turut memperbesar potensi gangguan debu dan risiko kecelakaan di kawasan tersebut. Di perempatan Tegal Danas juga banyak yang jatuh. Biasanya karena terpeleset atau saat ingin menghindari ceceran beton," katanya.
Pewarta: Pradita Kurniawan Syah
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.