Pemkot Mataram kendalikan laju inflasi lewat aplikasi Sipasti Mapan
Aplikasi itu khusus untuk komoditas pangan yang selama ini kerap menjadi pemicu inflasi.
Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat segera meluncurkan penggunaan aplikasi berbasis dashboard bernama Sipasti Mapan (Strategi Kendali Pasokan Pangan Strategis untuk Pengendalian Inflasi Daerah Kota Mataram) sebagai langkah memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui inovasi digital.
Asisten II Setda Kota Mataram H Miftahurrahman mengatakan aplikasi Sipasti Mapan dirancang untuk mengawasi pergerakan harga, stok, pasokan, hingga rantai distribusi komoditas pangan bergejolak (volatile food) yang menjadi kewenangan pemerintah daerah.
"Aplikasi itu khusus untuk komoditas pangan yang selama ini kerap menjadi pemicu inflasi," ujarnya si Mataram, Jumat.
Sipasti Mapan dirancang sebagai sistem integrasi dan kolaborasi yang menggabungkan pengelolaan data, teknologi, serta kerja sama lintas sektor demi memastikan ketersediaan pasokan pangan, kelancaran distribusi dan stabilitas harga di Kota Mataram.
Gagasan aplikasi tersebut lahir dari evaluasi terhadap pola penanganan inflasi yang selama ini cenderung masih bersifat sektoral dan reaktif.
Selama ini data pasokan dan harga pangan masih tersebar di beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) seperti Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian, hingga Dinas Perikanan, serta instansi lintas sektor seperti Bulog, Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia.
"Tapi melalui aplikasi Sipasti Mapan, kami ingin menyatukan data-data tersebut ke dalam satu sistem terpadu," katanya.
Dalam pelaksanaannya, Sipasti Mapan akan dilengkapi dengan dashboard khusus yang pengelolaannya berada di bawah Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Mataram serta terhubung langsung dengan Command Center dan dirancang terintegrasi dengan platform "Mataram Pintar" milik Diskominfo Kota Mataram.
Salah satu fitur unggulan dari dashboard itu adalah penerapan sistem peringatan dini (early warning system). Sistem itu akan mengategorikan status risiko pasokan dan harga pangan ke dalam tiga tingkatan yakni tingkatan normal, waspada, dan risiko tinggi, yang ditandai dengan indikator warna (hijau, kuning dan merah).
"Dengan adanya sistem itu, pendekatan kami berubah dari reaktif menjadi preventif bahkan prediktif berbasis data," katanya.
Dengan demikian, lanjutnya, sebelum terjadi gejolak harga atau kelangkaan komoditas pangan, pemerintah kota bersama tim sudah bisa mengantisipasi dan mengambil langkah kebijakan yang tepat saat status indikator berubah.
Melalui integrasi data dan kolaborasi lintas sektor, Pemerintah Kota Mataram berharap koordinasi antar OPD dan instansi terkait dapat berjalan lebih cepat dan responsif.
"Kehadiran dashboard Sipasti Mapan di Command Center juga diharapkan memudahkan penyediaan informasi publik dan keterbukaan data terkait perkembangan pangan bagi masyarakat maupun awak media secara akurat dan berkelanjutan," katanya.
Apalagi, penginputan data oleh Dinas Perdagangan Kota Mataram terus dilakukan secara intensif. Data harga pangan dalam sistem itu akan diperbarui secara harian (real-time), sementara data pendukung lainnya diperbarui secara mingguan atau bulanan.
Sebagai tahap awal sebelum dipublikasikan secara resmi, Pemkot Mataram akan menggelar uji coba (pilot project) di dua lokasi pasar utama, yakni Pasar Mandalika dan Pasar Kebon Roek.
"Uji coba tersebut melibatkan sinergi lintas sektor bersama Dinas Perdagangan, Bulog, hingga BPS," katanya.
Miftah menargetkan aplikasi Sipasti Mapan dapat diluncurkan pada momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-33 Kota Mataram pada 31 Agustus 2026.
Menurut dia, manfaat dan keunggulan strategis aplikasi Sipasti Mapan bisa dirasakan baik bagi pemerintah, instansi terkait, hingga masyarakat luas.
Manfaat untuk pemerintah dapat membantu Pemerintah Kota Mataram mengambil kebijakan pengendalian inflasi yang berbasis data (data-driven) secara akurat dan responsif.
Memudahkan sinergi antar OPD serta instansi vertikal seperti Bulog, BPS, dan Bank Indonesia (BI) dalam mengawasi pergerakan komoditas pangan.
Sementara fitur dashboard eksekutif untuk memantau indikator inflasi serta kalender peristiwa yang mencatat berbagai interaksi pasar, seperti operasi pasar murah, gerakan pangan murah, hingga kegiatan Kopling (kolaborasi pasar keliling).
Sedangkan dampak bagi masyarakat dapat menjaga stabilitas dan keterjangkauan harga pangan, menjamin ketersediaan bahan pokok, serta mendukung daya beli masyarakat Kota Mataram.
"Tantangan yang kami hadapi saat ini terletak pada proses konsolidasi dan penyelarasan (sinkronisasi) data komoditas dari berbagai sumber agar sesuai dengan format standar dashboard," katanya.
Namun demikian, untuk tahap awal pelaksanaan aplikasi fokus program jangka pendek yakni merampungkan entri data komoditas pangan utama, penguatan dashboard, penyusunan Rancangan Peraturan Wali Kota (Ranperwal), serta standar operasional prosedur (SOP) sebagai payung hukum pelaksanaannya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Sugiharto Purnama
COPYRIGHT © ANTARA 2026